Cerdas Menjadi Konsumen

by admin

komik-menjadi-konsumen-cerdas_20170124_192329MARAKNYA jual beli di media online membuat masyarakat kurang memerhatikan kenyamanan dan keamanan produk.Tawaran harga yang murah, praktis, tidak harus antre, atau tidak kena macet di jalan seringkali menggoda masyarakat, khususnya para remaja, untuk segera membeli produk atau barang kesukaannya.

Sayangnya, barang yang telah dibeli kerap merugikan konsumen karena tidak sesuai harapan. Banyaknya kasus di ranah jual beli online inilah yang mengilhami Shinta Dwi Permatasari, mahasiswa semester akhir Desain Komunikasi Visual Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya, membuat buku komik tentang cara menjadi konsumen cerdas.

Menurut Shinta, sapaan gadis berhijab ini, banyak remaja gemar berbelanja online namun kurang teliti dalam membeli. Akibatnya, mereka mengalami kerugian saat barang sampai di tangan.

Dalam buku komiknya, Shinta memberi gambaran bagaimana konsumen harusmengadukan keluhannya. Misalnya menghubungi Lembaga Konsumen Masyarakat, badan penyelesaian sengketa masyarakat, hingga ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan di kota atau provinsi setempat.

Buku ini menjadi buku cerita sekaligus menjadi buku panduan para remaja untuk lebih cerdas membeli barang.

Bagi Shinta, memilih barang sangat penting. Namun yang tak kalah pentingnya adalah teliti dalam memeriksa barang. Hal ini juga berlaku ketika membeli barang di pasar swalayan, ataupun pasar tradisional.

Misalnya, memeriksa label dan kemasan. “Jangan sampai membeli barang yang kemasannya sudah rusak,” terang Shinta.

“Hal ini akan berdampak pada kualitas barang yang akan dikonsumsi. Misalnya, kualitasnya menjadi berkurang, bahkan pada kasus tertentu bisa membahayakan konsumen karena barang telah terkontaminasi,” tegasnya.

Shinta memberikan gambaran, dalam memeriksa label, konsumen yang cerdas akan teliti dengan tanggal kedaluarsa, komposisi atau daftar bahan, kode dan tanggal produksi, dan lain sebagainya. Hal ini penting, terutama untuk keamanan barang makanan.

Buku berjudul Jadilah Konsumen Cerdas! itu Shinta juga mengingatkan pembaca untuk tidak menjadi masyarakat konsumtif. Menurutnya, masyarakat konsumtif selalu membeli barang bukan karena kebutuhan tetapi hanya keinginannya belaka.

Dia mengilustrasikan dalam komiknya bahwa orang yang konsumtif seringkali mudah tergiur dengan iklan-iklan yang ditawarkan di media-media online atau media sosial.Misalnya, ketika melihat baju yang lucu, model yang sedang tren,  warna yang cantik.

Masyarakat konsumtif selalu tidak mampu menahan dompetnya ketika melihat barang-barang yang telah dipajang. Kebiasaan buruk ini semakin dimanjakan oleh kemudahan teknologi media. Remaja konsumtif akan dengan mudah memencet tombol klik untuk segera memeroleh barang kesukaannya.

Menurut gadis kelahiran 1 Mei 1995 ini, buku komik adalah media yang relevan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya remaja. Buku komik juga menarik pembaca untuk menyelami cerita-cerita di dalamnya sehingga tanpa disadari mereka sekaligus mempelajari bagaimana menjadi konsumen yang cerdas.

Buku-buku bacaan seperti komik, disamping ringan dalam hal konten, juga enak dibaca. Melalui karya tugas akhir berupa buku komik ini, Shinta berharap pemerintah menangkap bahwa buku komik adalah media yang sangat tepat untuk memberikan pemahaman kepada calon konsumen, khususnya para remaja.

Lebih jauh dia berharap bahwa pemerintah bisa membagikan buku-buku komik seperti ini secara gratis di hotel, mal, plasa, atau sekolah-sekolah. “Ini penting untuk perlindungan konsumen,” pungkasnya.

*Penulis adalah Muh. Bahruddin – Dosen Desain Komunikasi Visual Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya

Sumber:

cetak: Harian Surya | Rabu, 25 Januari 2017 | Citizen Reporter | hal. 9

online: http://surabaya.tribunnews.com/2017/01/24/menjadi-konsumen-itu-harus-cerdas-begini-caranya?page=2