Agar Batik Jetis Eksis dan Laris

by admin

Ekky Mahasiswa S1 DKV STIKOM Surabaya saat perbose di depan karya TAnya.

Ekky Mahasiswa S1 DKV STIKOM Surabaya saat perbose di depan karya TAnya.

Surabaya – Bayangkan seandainya batik tradisional Kota Udang telah kondang hingga ke dunia internasional. Pasti perajinnya sejahtera. Sidoarjo pun bangga. Mahasiswa STIKOM Surabaya, Ekky Fardhy Satria Nugraha, sangat ingin batik khas Jetis, salah satu batik tradisional Sidoarjo, bisa laris manis.

Dia merancang branding khusus untuk batik khas Jetis tersebut. “Saya ingin batik Jetis bisa survive,” ujar mahasiswa prodi desain komunikasi visual itu. Ekky mengakuti memang telah ada promosi lewat berbagai event. Namun, promosi itu masih perlu dioptimalkan dengan sebuah branding khusus.

Pemuda 22 tahun tersebut lalu merancang branding Kampoeng Jetis. Caranya, dia mendesain logo, reklame, buklet, website, bahkan sign sistem Kampoeng Jetis. Menurut Ekky, perancangan itu harus dikonsep sungguh-sungguh dan diterapkan secara kontinu. Pemuda warga Sedati itu juga menyarankan kampanye perencanaan komunikasi dan media yang matang. “Agar tercipta citra positif di masyarakat luas,” ujarnya.

Ekky merancang logo Kampoeng Jetis sesuai dengan jati diri tempat tersebut. Konsepnya survival, dengan harapan produk lokal Sidoarjo ini terus mampu survive di tengah persaingan global. Agar menarik, dia mendesain reklame vektor seorang gadis dengan balutan batik Jetis. Profilnya khas Yuk Sidoarjo sebagai jati diri.

Dia berharap batik Jetis yang ada sejak 1675 itu bisa lestari dan menjadi referensi budaya lokal Kota Delta. (kus/c10/roz)

Sumber: Jawa Pos Edisi Kamis, 5 September 2013 | Rubrik Metropolis Pendidikan | Hal. 33