Bangga Jadi Perantara

by admin

DSC_0384Hanakitri Emalita (20), tampak bersemangat mengawal sejumlah temannya, mahasiswa Dong Eui University Korea, dalam acara Pertukaran Budaya Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya dan Universitas Dong Eui Korea.

“Aku sebagai mahasiswa Dong Eui Korea, sekaligus warga Surabaya, merasa bangga bisa menjadi perantara. Ini kesempatan emas buat aku mempelajari banyak hal dan bermanfaat untuk dua pihak,” ujar gadis yang lama tinggal di Surabaya ini.

Menjadi translator bahasa Indonesia-Korea ternyata terkadang menyulitkan dara kelahiran Semarang, 20 Januari 1996 ini. Ia mengaku, bahasa sambutan atau bahasa resmi susah diterjemahkan dalam bahasa Korea.

“Karena bukan bahasa ibu, jadi kalau kalimat resmi begitu aku sering kelabakan. Untuk antisipasi biar gak gagu, aku datang lebih awal. Tanya seputar rundown acara, apa yang mau disampaikan, seputar itu,” aku alumnus SMAN 4 Surabaya ini.

Selama dua setengah tahun belajar di Dong Eui University Korea, dirinya masih sedikit mengenal budaya yang ada. Sambil membenarkan letak rambutnya, Hana mengatakan, jika rindu Indonesia, dia biasa memakan Dakkochi.

“Itu semacam sate ayam tali pakai bumbu barbeque. Hehe… obat jika sedang rindu rumah,” ungkapnya. (diy)

*Sumber: Surya | Sabtu, 13 Agustus 2016 | Tunjungan Life | Hal. 13