Banjir Bisa Diprediksi dari Puluhan Kilometer

by admin

alat-pendeteksi-banjir-stikom-surabayaSURYA Online, SURABAYA – Banjir umumnya datang tiba-tiba, terutama banjir bandang. Tetapi dengan alat ciptaan mahasiswa STIKOM Surabaya, Budi Hari Nugroho dan Muhammad Syakir, banjir mudah dideteksi dalam jarak jauh.

Selama ini untuk memantau kondisi air sungai mengandalkan petugas yang harus melihat langsung ketinggian air secara terus menerus. Dengan alat ini, para petugas tak perlu hilir mudik ke alat pengukur ketinggian air (pelskal). Cukup menunggu di kantor, sudah terlihat kondisi ketinggian air dari menit ke menit dan potensi banjirnya.

Alat ini menggunakan teknologi Wireless Sensor Network (WSN), yaitu jaringan nirkabel terdiri dari beberapa alat sensor yang saling bekerja sama untuk memonitor fisik dan kondisi lingkungan seperti temperatur, air, suara, getaran atau gempa, polusi, dan udara di tempat berbeda-beda.

Cara kerjanya, pertama-tama sensor ultrasonik ping yang diletakkan di atas permukaan sungai akan mengukur ketinggian air. Data yang diperoleh sensor ultrasonik akan diolah di dalam Arduino Uno, yaitu micro controller yang akan mengolah data ketinggian air dalam (cm), ditambah data tanggal dan waktu yang dihasilkan oleh modul Real Time Clock (RTC).

”Ada dua sensor ultrasonik yang kami pasang di dua bibir sungai dengan posisi lurus di atas permukaan air. Gunanya untuk saling melengkapi data,”terang Muhammad Syakir saat ditemui di kampusnya, Kamis (24/4/2014).

Setelah semua data didapat, akan dikirim secara wireless (wifi) ke node coordinator, data-data dari beberapa tempat akan dibandingkan selanjutnya dikirim ke node and device yang terhubung ke komputer melalui USB selanjutnya diterjemahkan oleh program Visual Basic (VB).

Data terakhir berupa data ketinggian air, tanggal, waktu, dan prediksi terjadinya banjir akan tampak pada layar komputer berikut diagramnya. Jika sudah status awas, maka akan ada alarm peringatan sehingga langsung bisa diambil tindakan penyelamatan.

Dengan alat ini pemantauan kondisi air bisa dilakuakn dalam jarak jauh, hingga  puluhan kilometer, tergantung dari alat komunikasi (X bee) yang digunakan. ”Karena ini baru prototipe jadi jarak antara sensor ultrasonik dengan komputer hanya 300 meter. Mungkin kalau dananya lebih bisa ditambah hingga radius berkilo-kilo meter. Bahkan kalau memungkinkan bisa disambungkan dengan jaringan internet sehingga pemantauan lebih terintegrasi dari jauh,”terang mahasiswa S1 Sistem Komputer yang tinggal menunggu wisuda.

Diakui Syakir, ide pembuatan ini tercetus saat dia bersama dengan Budi Hari Nugroho melihat banyak bencana banjir yang seringkali memakan korban karena ketidaktahuan masyarakat.

”Kami langsung konsultasikan ide itu ke dosen, dan akhirnya diarahkan. Bahkan sebagian alat ini juga didanai kampus,”kata pria asal Tulungagung.

Diakuinya, alat ini lebih praktis dibandingkan alat serupa karena menggunakan micro controller Aduino Uno yang tidak perlu dirangkai lagi.

Untuk membuat alat ini Syakir harus mengalami kegagalan berkali-kali, terutama terkait pengiriman datanya. ”Data dari sensor yang masuk micro controller terlalu cepat sehingga kooordinator serasa bingung dan banyak data-data yang hilang. Akhirnya saya memberi interval waktu pengiriman 20 detik sehingga bisa teratasi,”kata mahasiswa kelahiran 6 Juli 1991.

Untuk membuat alat ini, Syakir dan Budi membutuhkan biaya Rp 6 juta. Syakir pun tidak menolak jika ada pihak yang memintanya untuk membuatkan alat demi kepentingan masyarakat.

Penulis: Musahadah
Editor: Parmin