Bikin Alat Pasteurisasi Susu Untuk Peternak Sapi Perah

by admin

Surabaya – Puluhan inovasi karya tugas akhir mahasiswa Stikom Surabay dipamerkan kemarin (6/9) salah satunya adalah alat pasteurisasi susu otomatis. Inovasi tersebut dikembangkan untuk para peternak.

Inovasi tersebut dibuat dua mahasiswa prodi teknik atau rekaya komputer. Mereka adalah Pravastara Agastansa dan Renggy Nikiuluw. Alat pasteurisasi susu otomatis itu mendapat perhatian banyak pengunjung saat pameran berlangsung.

Renggy mengatakan, alat tersebut dibikin agar peternak sapi bisa melakukan sendiri proses pasteurisasi dengan sangat mudah. “Biasanya kan peternak hanya menjual susu perah. Tanpa diproses terlebih dahulu,” katanya. Harga susu perah bisa Rp 6 ribu-Rp 8 ribu per liter. Namun, harga susu pasteurisasi bisa meningkat sekitar Rp 16 ribu per liter. Dengan begitu, kesejahteraan para peternak lebih meningkat.

Pasteurisasi adalh proses pemanasan makanan dengan tujuan membunuh organisme merugikan berupa baketri, protozoa, kapang, dan khamir. Proses tersebut juga mampu memperlambat pertumbuhan mikroba pada makanan.

Ide alat tersebut berawal dari pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen dan didanai Kemenristekdikti (Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi). Dari kasus yang ditemukan di lapangan, dia bersama Pravastara membuat inovasi alat pasteurisasi untuk solusi para peternak. “Kami melakukan uji coba di peternakan Sidoarjo,” jelasnya.

Alat yang digunakan cukup sederhana. Yakni, menggunakan kompor gas yang sudah dimodifikasi. Kompor gas tersebut didesain dengan rangka alumunium. Sementara itu, proses pasteurisasi menggunakan bahan stainless agar suhu tetap steril dan tidak mudah berkarat. Api dari kompor gas diatur dnegan suhu yang sudah ditentukan

Terdapat pula layar yang menunjukkan suhu dan lama proses pasteurisasi. Begitu juga alat pengaduk susu otomatis. Dengan begitu, dalam proses pasteurisasi tidak perlu tenaga manusia. Ketika proses pasteurisasi susu selesai, ada bunyi alarm. “Kami menggunakan tenaga listrik,” kata Renggy.

Pravastara menambahkan, prototipe yang dibuat saat ini hanya memuat 3,5 liter susu. Saat proses pasteurisasi berlangsung, api akan menyesuaikan suhu. Ketika susu dibawah 64 derajat Celsius, api akan menyala. Ketika suhu sudah lebih 64 derajat Celsius, api mengecil dan mati secara otomatis. “Prosesnya sekitar 30 menit,” imbuhnya. (ayu/c6/any)

*Sumber : Cetak | Jawa Pos | East Beach | Edisi Jumat, 7 September 2018 | Hal. 25