BISNIS BAU PESING

by admin

BISNIS “MENJIJIKKAN” Ponten, toilet umum, restroom atau apa istilahnya adalah sebuah tempat yang harus ada di tempat umum atau ruang publik. Toilet umum sebagai bagian dari tata ruang dan tata kota menjadi masalah vital di berbagai be lahan dunia. Namun kebera daan, kenyamanan dan kebersihan sanitasi lingkungan ini masih kurang diperhatikan.

Radar Surabaya, Minggu (18/2), sempat mengulas bisnis “bau pesing” ini. Kadangkala kita terjebak pada tata ruang dalam bungkus yang baik tanpa memperhatikan hajat vital. Padahal salah satu indikator kualitas hidup masyarakat adalah kemudahan akses fasilitas sanitasi di ruang publik. Adanya gap panjang antara kebutuhan ber hajat dengan fasilitas yang tersedia menimbulkan masalah tersendiri. Jumlah fasilitas berhajat kecil dan besar di ruang publik semakin berkurang. Bagi sebagian orang hal ini menjadi masalah besar, namun juga tidak sedikit orang yang mampu menangkap pe luang dari masalah tersebut. Kepekaan menangkap masalah dan kecepatan menghitung kemudian membuat keputusan adalah kunci memberi solusi gap tersebut. Tidak banyak orang yang mau menyentuh bisnis “pesing” ini. Karena selain kotor, secara kasat mata perputaran uangnya kecil.

Padahal jika menilik dari ni lai yang diberikan oleh World Economic Forum (WEF), pada tahun 2014 Indonesia mendapat nilai 40 dari skala 100 untuk kua litas toilet di Indonesia. WEF juga menilai bahwa masih ada 63 juta penduduk Indonesia yang terbiasa buang hajat di tem pat terbuka, karena tidak me miliki akses ke fasilitas sanitasi standar.

PERPUTARAN UANG BISNIS “PESING” Jika WEF mencatat 63 juta penduduk Indonesia belum memiliki akses sanitasi layak, senada dengan Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas mencatat bahwa akses sanitasi layak baru 58,8 persen penduduk Indonesia. Dari kacamata bisnis, ini adalah

peluang besar. Memasuki bisnis ini tidak memerlukan modal yang terlalu besar. Sehingga secara empiris, dari kacamata bisnis, harusnya perbandingan Return on Investment (RoI) bisnis ini lebih besar jika dibandingkan dengan investasi di instrumen keuangan konvensional.  Sebagai analogi adalah, satu toilet rata­rata mampu memberikan revenue (pen da patan) Rp 200 ribu per hari atau Rp 6 juta sebulan. J i k a d a l a m s a t u a r e a ada 10 toi let, m a k a pendap a t a n yang bisa dibu kukan adalah Rp 60 juta per bulan. Sebuah angka yang fantastis. Namun untuk masuk dunia “pesing” ini kita harus memperhatikan beberapa hal, yaitu tempat usaha, modal usaha, dan cara kerjanya. Tempat usaha yang paling prospek adalah di area keramaian (publik), seperti pasar, terminal, tempat bermain dan sebagainya. Sementara itu modal usaha bisa dari diri sendiri atau menyewa. Cara kerjanya pun simpel. Tarif standar, dikurang biaya tetap, hasilnya adalah revenue (pendapatan).

NEGARA HARUS HADIR DI DALAMNYA “Swastanisasi” bisnis pesing ini seolah menisbikan negara sebagai pemangku kepentingan dan pelayan masyarakat. Negara bukan tidak hadir di sana, namun kehadiran negara terepresentasi dalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1045 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri. Selanjutnya, urusan penanganan limbah ma

nusia ini menjadi tanggung ja wab masyarakat dan ling kungan. Berbeda dengan negara maju, sanitasi dan lingkungan menjadi perhatian negara sampai dengan pengaturan berapa jumlah toilet yang harus ada di area publik. Negara bukan lagi hadir sebagai regulator, namun juga sebagai eksekutor, operator sekaligus fasilitator. Sebagai fa si li tator, negara harus menyed i a k a n pelayanan yang menyangk u t h a j a t hidup di ruangr u a n g publik. Di samping itu, negara juga hadir sebagai eksekutor. Artinya siapa pun yang m elanggar regulasi (atu ran) yang dite tapkan, akan me nerima sangsi sesuai dengan tingkat kesalahan. Se bagai contoh, di negara tetanga seperti Singapura, kita tidak boleh sembarangan meludah, buang air kecil, buang sampah di sembarang tempat. Bahkan membawa makanan atau minuman di kendaraan umum, seperti kereta bawah tanah pun dilarang. Jika coba­coba melanggarnya, denda ribuan dolar menunggu. Mereka mempunyai sistem tata kelola dan payung hukum yang jelas tentang bagaimana mengatur dan menangani orang buang hajat. Itu lah bedanya dengan kita.

SKENARIO BISNIS “PESING” Jika kita melihat dari kacamata investasi dan keuangan, bisnis ini cukup menjanjikan. Per putaran arus uang yang masif meski jumlah kapita lisasinya masih kecil bukan berarti bisnis ini tidak ada harapan. Analoginya adalah apa

yang kita investasikan sepadan dengan tingkat pengembalian. Jika satu ruang toilet mem butuhkan investasi Rp 20 jutaan dengan revenue Rp 6 juta per bulan, maka investasi tersebut akan mencapai titik impas di bulan keempat. Bahkan payback period­nya pun bisa lebih panjang.

Bandingkan jika kita menanamkan dalam bentuk instrumen lain dengan RoI hanya 20 persen per tahun. Hal ini dengan catatan semua berjalan dengan baik dan lancar. Namun yang perlu diingat adalah, selama manusia masih membutuhkan saluran pembuangan (sanitasi), maka bisnis ini tetap visible (layak untuk dimasuki). Investasi yang baik ada lah ketika kita mampu mem berikan kebutuhan pelanggan dan tidak banyak pesaing yang bermain di dalamnya. Kalau pebisnis lain menekuni kuliner (yang sekarang lagi booming), maka satu hal yang mungkin terlupakan adalah sarana pembuangan.

Orang­orang yang masuk ke dalam bisnis ini antara jeli dan nasib. Dikatakan jeli manakala pebisnis ini mampu membaca peluang di tengahtengah kebutuhan sarana yang tidak tersentuh. Namun dikatakan nasib manakala bisnis yang dijalankan ka rena sudah tidak ada lagi usaha yang ia jalankan. Ma ka bisnis “kotor­kotor” inilah yang dimasuki. Ajaib nya, justru bisnis “kotor” dan bau inilah se benarnya ladang yang belum tergarap. Ingin berwira usaha? Coba masuki “bisnis pesing”. (*) RUDI SANTOSO

*Penulis adalah Dosen Keuangan FEB Stikom Surabaya

*Sumber : Cetak | Radar Surabaya | Komunitas |Minggu, 4 Maret 2018