Bisnis dan Tahun Politik

by admin

POLITIK DAN KEUANGAN

Politik identik dengan uang. Stigma negatif ini lebih populer jika dibandingkan dengan demokrasi itu sendiri. Jika politik harus “dibersihkan” dari masa lah uang, maka hal itu terlalu naif. Jika definisi uang dalam dunia politik diartikan sebagai money politic, maka tidak bisa ditawar lagi. Jawa ban nya adalah hapuskan. Namun, jika uang dalam tahun politik ini diartikan sebagai ekses dari sebuah pesta demokrasi, maka hal itu sah-sah saja. Seperti kita ketahui bahwa pesta demokrasi negeri ini sangat menyedot keuangan negara. Berdasarkan proyeksi anggaran dari KPU, Pilkada 2018 ini mencapai Rp 11 triliun. Angka ini masih berpotensi tembus Rp 20 triliun, jika mencakup biaya pengawasan dan pengamanan di 171 daerah. Hal ini tidak termasuk uang yang berputar dari sumber swadaya peserta “pesta”. Bisa dibayangkan, jumlah yang besar tersebut akan berputar sampai pada skala mikro, yaitu industri kecil dan menengah. Berapa banyak industri kecil dan menengah yang ikut kecipratan dalam pesta tersebut. Sudut pandang atau cara menyikapi “pesta” lima tahunan ini harus sedikit diubah jika kita tidak ingin tertular “alergi” gempita demokrasi. Sudut pandang yang harus dibangun adalah sebuah keterpeluangan untuk memutar roda ekonomi sebagai penyangga sebuah pesta itu sendiri.

PESTA POLITIK

Agenda lima tahunan ini tidak lepas dari “pesta” politik itu sendiri. Layaknya sebuah karnaval, semua kontestan ingin menampilkan dan menyajikan mimpi-mimpi indah sebuah jargon berpayung demokrasi. Pesta politik kemudian seperti layaknya perayaan pawai dalam skala besar. Mereka menyiapkan baju-baju pesta, tokok-tokoh “rekaan”, pahlawan atau “super hero”, atau mungkin gaun-gaun

kesalehan dari kelompok marjinal. Semua menyiapkan diri demi pentas dalam panggung besar bertajuk politik dan demokrasi. Beberapa peserta berpenampilan ningrat, dengan menunjukkan sikap hedon. Ada juga yang menyewa artis papan atas dan diberi kostum untuk menarik massa. Layaknya sebuah pesta, “badut-badut” pesta pun ikut ber main dan meramaikan suasana. Hampir semua larut dalam keriuhan karnaval lima tahunan. Ini adalah sebuah pesta besar dengan durasi yang bukan hanya sehari, seminggu, atau satu bulan. Ini adalah “pesta” satu tahun penuh. Negeri ini dalam satu tahun ini akan penuh dengan warna dan keriuhan. Jika Leak Koestiya (Jawa Pos, 1 Januari 2018) lalu menya takan bahwa kembang api tahun baru telah padam, maka sesungguh nya ini adalah awal dari “pesta” itu sendiri. “Pesta” ini memang tanpa kembang api ataupun petasan. Tetapi, bukan berarti akan kalah meriah. Petasan dan kembang api 1 Januari 2018 adalah titik awal gempita “pesta” itu sendiri.

PELUANG

Sebuah “pesta” besar, apalagi agenda lima tahunan, tidak lepas dari biaya. Jika pesta ulang tahun membutuhkan property ulang tahun (balon, makan, minum, kado, dan sebagainya), maka dalam “pesta” demokrasi ini juga tidak lepas dari segala property pendukungnya. Sebagai contoh adalah industri cetak digital printing

adalah yang paling merasakan dampak “pesta” ini. Jika satu peserta karnaval membutuhkan baliho atau banner sebesar 5 meter persegi, maka paling tidak harus mengeluarkan biaya minimal Rp 1 juta. Jika satu peserta akan membuat 100 banner dengan tema yang berbeda, maka dibutuhkan Rp 100 juta. Jasa fotografi juga ikut merasakan dampak positif dari gempita “pesta” ini. Sebagai bahan publikasi me reka membutuhkan seorang fotografer profesional. Jasa pemotretan untuk satu tema bisa mencapai Rp 1 juta, ter gantung permintaan. Jika saja ada 100 tema, maka Rp 100 juta per peserta juga akan mengalir ke jasa fotografi. Gayung bersambut, jasa advertising sebagai bagian dari proses marketing kontestan karnaval, ikut menangguk keuntungan. Para desainer profesional panen besar dari jasa desain komunikasi visual yang mereka buat. Media massa, baik cetak mau pun elektronik adalah ladang bisnis yang juga akan ikut merasakannya. Hal ini bisa dilihat dari harga iklan ukuran 4 cm paling tidak berbandrol  Rp 4 juta untuk sekali tayang.

BIJAK MENGAMBIL CELAH

Dari sudut pandang atau kacamata keuangan, pesta demokrasi ini tidak ada masalah jika kita bisa bersikap bijak. Perputaran uang yang besar membuat orang-orang keuangan bisa bertindak oportunis. Investment  opportunity (keuangan) bisa dilihat dari faktor demand (permintaan) yang tinggi. Permintaan yang tinggi tersebut

dimanfaatkan dengan baik oleh mereka yang mempunyai kemampuan memenuhinya. Hal ini berkaitan dari lingkaran setan demand, stock, dan keterse diaannya. Pada akhirnya menimbulkan kompetisi. Kuncinya adalah sebuah koneksi jaringan supply chain yang bisa menangkap kebutuhan dan memenuhinya. Investor yang oportunis akan memainkan peluang ini dengan mengambil margin keuntungan yang tinggi (investasi jangka pendek). Jika investasi jangka panjang menggunakan model future value dengan tingkat pengembalian paling tinggi 10-15 persen per tahun, maka dalam bisnis “pesta” demokrasi ini konsep future value menjadi tidak terpakai. Karena semua tidak jelas. Semua tergantung kepada demand yang tinggi. Jika demand yang tinggi tanpa diimbangi oleh ketersediaan stock, itu bahaya. Pebisnis yang oportunis akan bermain pada profit margin yang tinggi. Kondisi inilah seperti yang dikatakan Willian Forbes dalam Behavioral Fi nance, bahwa pebisnis memain kan psikologis kon sumen karena faktor kebutuhan. Maka dalam kondisi ini, sebagai investor harus bijak. Silakan meng ambil keuntungan dari peluang, namun yang perlu diingat adalah jangan terlalu larut dalam profit margin yang tinggi. Jika Anda masuk ke dalamnya, Anda seperti menjadi “badut-badut” gempita “pesta” karnaval lima tahunan. (*) *Penulis adalah dosen FEB Stikom Surabaya

*Sumber : Radar Surabaya | Komunitas | Edisi Minggu, 28 Januari 2018 | Hlm 7