Stikom On Media

Berita STIKOM Surabaya di berbagai media.

Investasi Infrastruktur

Oleh
RUDI SANTOSO, S.SOS., M.M*

Statemen waktu adalah uang sudah jamak digunakan. Statemen ini merujuk kepada analogi betapa berharganya waktu bagi semua orang. Waktu tidak bisa dibeli kembali, juga tidak bisa diperbarukan jika sudah lewat. Berkaitan dengan hal ini, kita tidak akan membahas masalah waktu dengan segala dimensinya. Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana kita bersikap adil dan realistis terhadap waktu itu sendiri. Kita berjalan mundur dulu ke belakang. Beberapa bulan terakhir ini, kita disuguhi tontonan manuver pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam pesta demokrasi tahun ini. Ada  yang menjual janji, ada juga yang menyampaikan hasil. Kita juga tidak akan membahasnya. Namun, yang paling menarik adalah apa yang menjadi “perang” jargon kedua pasangan capres dan cawapres. Ada yang
membanggakan keberhasilan infrastrukturnya, ada juga yang me-negasi- kan dengan statemen ‘infrastruktur
tidak mengenyangkan rakyat’. Kita tidak perlu menghakimi mana yang benar, karena bukan wilayah kita. Namun, ada baiknya kita sedikit berpikir lebih “intelek”.

KECEPATAN ADALAH WAKTU

Infrastruktur adalah sebuah komponen penunjang terselenggaranya suatu proses. Merujuk kepada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), infrastruktur adalah sebuah sarana. Jika jalan raya adalah sebuah sarana (yang memperlancar) proses, maka ia boleh disebut sebagai infrastruktur. Kenapa hal ini penting dalam menunjang percepatan pembangunan? Perlu diingat bahwa ekonomi dalam skala mikro maupun makro sangat bergantung pada distribusi hasil produksi. Kecepatan distribusi hasil produksi, juga berdampak pada peningkatan pendapatan karena ada proses lain yang terpangkas.

Infrastruktur (jalan) analoginya seperti jalur internet cepat menggunakan fiber optic. Untuk bisa memahaminya, kecepatan data internet sangat bergantung pada infrastruktur pendukung, dalam hal ini jaringan kabel, BTS (base transceiver station), satelit, dan lain-lain. Semua berbiaya tinggi pada mulanya. Namun, jika dihitung atau dibandingkan dengan kebutuhan data pada masa yang akan datang, maka investasi infrastruktur ini tidak ada artinya. Pada tahun 2015 , PT Telkom menggelontorkan dana tak kurang dari Rp 1,2 triliun ‘hanya’ untuk membeli kabel fiber optic dan kemudian ‘menguburnya’ di sepanjang pulau Jawa dan Madura. Semua itu tidak lain ‘hanya’ untuk melayani peningkatan kecepatan layanan data pelanggan yang ‘rakus’ bandwidth. ‘Kerakusan’ ini bukan masalah tamak, tetapi kebutuhan data dalam dunia bisnis menjadi hal yang utama. Infrastruktur jaringan kabel super cepat mampu men-deliverykan layanan dalam hihtungan micro second. Jika kecepatan layanan itu dibandingkan dengan biaya, maka hal tersebut sangat sepadan.

INVESTASI DAN WAKTU
Kembali kepada masalah infrastruktur jalan. Salah satu komponen profit perusahaan adalah dengan meningkatnya revenue (pendapatan). Jika revenue itu diperoleh dari jumlah total penjualan, maka kecepatan
hasil produksi ke tangan konsumen adalah kuncinya. Kecepatan ini harus ditunjang oleh jalur distribusi yang
baik, bukan hanya sekadar strategi distribusi seperti dalam text book. Ia berhubungan dengan operasional secara nyata di lapangan. Kecepatan barang maupun jasa produksi ke tangan konsumen, juga menjadi trigger perputaran modal yang lebih cepat. Jika dalam investasi kecepatan waktu kembali modal (BEP/break even poin) menjadi salah satu pertimbangan, maka infrastruktur dalam jangka panjang menjadi pemicu kecepatan kembali modal investasi.

Kita memang tidak bisa menikmati keuntungan langsung dengan adanya infrastruktur ini. Sekali lagi perlu diingat, yang dibangun adalah sebuah fondasi dasar sebagai komponen percepatan pembangunan. Investasi jalan tol memang tidak bisa dibilang murah. Investasi ini membutuhkan dana Rp 300 triliun di sepanjang pulau Jawa. Sementara itu pendapatan operator pengelola jalan tol menyentuh Rp 4,34 triliun pada semester I/2018. Artinya, paling tidak dalam setahun operator jalan tol membukukan pendapatan tidak kurang dari Rp 13 triliun. Dengan kata lain, payback period dari nilai investasi ini tak kurang dari 23 tahun. Perhitungan tersebut didasarkan atas asumsi pendapatan dan biaya dalam arus kas yang sama tiap tahun.

Dari sisi nilai biaya yang tinggi dan payback period yang panjang, secara awam memang tidak terlalu menguntungkan. Namun, itulah investasi prasarana, menimbulkan paradoks biaya di awal. Namun jika kita sedikit saja berpikir panjang, maka sarana inilah yang memangkas proses delivery barang maupun jasa produksi ke tangan  konsumen.

Jika ada yang menegasikan dengan biaya tarif yang mahal, maka harus disikapi dari sisi bisnis. Artinya, jika tarif berpengaruh kepada peningkatan biaya tetap, maka hal itu akan tergerus dengan sendirinya atas peningkatan value kecepatan layanan produk. Value barang maupun jasa tidak bisa hanya dinilai dari sisi barang itu sendiri, namun yang paling berperan saat ini adalah kecepatan service. Celakanya, value tersebut bersifat intangible, karena prespektif yang dibangun adalah sebuah peradaban. (*)

*Dosen Manajemen Keuangan Stikom Surabaya

Sumber : Radar Surabaya | Health | Horison | Edisi 17 Februari 2019 | Hal. 12

Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Pendingin Susu Otomatis

Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Pendingin Susu OtomatisSURABAYA – Mahasiswa Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya, Gita Adi Putranto, membuat alat bantu proses pendinginan susu hasil posteurisasi secara otomatis.

Alat itu dirancang untuk meminimalisir campur tangan manusia saat proses pendinginan. Gita Adi Putranto mengatakan, Read the rest of this entry »

STIKOM SURABAYA GELAR PAMERAN KARYA TUGAS AKHIR MAHASISWA TEKNIK KOMPUTER

Surabaya – Menanggapi kenaikan angka kecelakaaan lalu lintas di Indonesia yang disebabkan atas kelalaian pengendara, perlu adanya minimalisir penanggulanggulangan kecelakaan tersebut. Biasanya akibat kelelahan, pengemudi menjadi kantuk hingga kecelakaan tak dapat terhindarkan. Mahasiswa S1 Teknik Komputer Stikom Surabaya pada tugas akhirnya menciptakan alat untuk meminimalisir kecelakaan tersebut yang dimerkan pada Rabu (13/2) di Ruang Auditorium lantai 1 Stikom Surabaya. Read the rest of this entry »