Ciptakan Penerjemah Bahasa Isyarat Abjad untuk Tunarungu

by admin

koran_sindo_nasional_2016-10-21_daerah_ciptakan_penerjemah_bahasa_isyarat_abjad_untuk_tunarungu_1Edisi 21-10-2016
Bagi sebagian orang, komunikasi menjadi masalah karena keterbatasan yang mereka miliki. Padahal, komunikasi adalah salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu yang kerap mengalami masalah dalam komunikasi adalah para penderita tunarungu. Mereka tidak bisa berinteraksi dengan baik seperti orang normal, tapi mereka menggunakan bahasa isyarat. Sayangnya, tidak semua orang normal mengerti bahasa isyarat. Jadi, komunikasi dengan bahasa isyarat ini masih menyisakan masalah. Bermula dari permasalahan tersebut, salah satu mahasiswa Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya Edo Aliffandhiarto menciptakan alat yang mampu menerjemahkan bahasa isyarat dalam bentuk tulisan digital.

Mahasiswa program studi S-1 Sistem Komputer ini menyebut alat tersebut sebagai rancang bangun penerjemah bahasa isyarat abjad menggunakan sensor flex dan accelerometer berbasis arduino. Dalam pembuatan alat tersebut, Edo membutuhkan waktu hingga beberapa bulan, sebab alat tersebut membutuhkan beberapa rangkaian. Untuk bisa membaca gerak tangan yang membentuk bahasa isyarat, Edo menggunakan sensor flex dan accelerometer .

Kedua sensor ini ditempelkan pada jari-jari sehingga mampu membaca semua gerakan yang dilakukan jari-jari tersebut. Namun untuk mempermudah penempatan alat tersebut, Edo menggunakan sarung tangan sebagai media penempatan sensor. “Dalam menjalankan sarung tangan penerjemah bahasa isyarat abjad, para penderita tunarungu harus menggunakan sarung tangannya,” kata Edo.

Dari sensor flex ini akan menghasilkan resistensi dari lengkungan yang dilakukan jari. Sayangnya, masih ada beberapa abjad yang tidak bisa dideteksi oleh sensor, di antaranya huruf J dan Z. “Karena abjad tersebut harus melakukan pergerakan tangan, bukan lengkungan jari,” tandasnya. Melihat kendala tersebut, Edo langsung mencari solusinya. Untuk itu dia menempatkan sensor accelerometer yang mampu mendeteksi pergerakan tangan agar dapat dibaca oleh Arduino Unodan menerjemahkan dalam bentuk abjad digital yang ditunjukkan pada layar LCD.

Edo mengatakan, meski sudah berhasil membuat alat penerjemah bahasa isyarat menjadi abjad digital, dia mengaku masih belum puas. Dia berencana untuk terus mengembangkan alat tersebut, sebab masih ada beberapa kekurangan. Di antaranya bentuk alat perlu disederhanakan lagi sehingga mudah dibawa oleh penderita tunarungu. Dia berharap, alat ini bisa beredar luas dengan harga yang lebih terjangkau sehingga bisa membantu permasalahan komunikasi para penderita tunarungu.

“Ke depannya saya akan berusaha untuk lebih menyempurnakan alat ini sehingga bisa menjadi solusi permasalahan komunikasi para tunarungu,” katanya.

Lutfi Yuhandi
Surabaya

Sumber:koran-sindo.com
dan Edisi Cetak 21 Oktober 2016 | Koran Sindo