Damainya Warung Kopi

by admin

Damainya KopiPERGILAH ke warung kopi, dan temukan kedamaian.  Pergilah ke warung kopi maka temukanlah ide dan gagasan. Pergilah ke warung kopi, dan biarkanlah pikiranmu bekerja dalam lingkaran “kegilaan”. Sebab, jika kalian hanya orang biasa, maka menjadi besarlah dengan berpikir yang luar biasa. Semua bisa Anda lakukan di warung kopi.

FILOSOFI KOPI

Mendengar kopi dan warung kopi, pikiran kita langsung melayang menuju kepada kepulan asap yang menyeruak dari cangkir penuh berisi minuman berwarna hitam dan beraroma khas.  Kopi, minuman ini sangat khas dan digemari oleh seluruh lapisan. Ia bisa disajikan ala ningrat atau dengan gaya murahan pinggir jalan untuk kaum marginal. Kopi bisa bermain di mana saja. Ketika disajikan di pinggir jalan, kita cukup membayarnya Rp 2.000. Namun, ketika ia naik kelas dan memilih gengsi, secangkir kopi pahit bisa berharga belasan kali lipat dari yag dijual di pinggir jalan.

Selain mampu menyuguhkan aroma yang luar biasa, kopi mampu membawa emosi penikmatnya ke dalam alam keningratan atau menjadi seorang rakyat biasa. Kopi bisa merepresentasikan orang sebagai kaum jelata dari kelas proletar atau seorang ningrat dari kelas bangsawan.  Semua tergantung bagaimana memperlakukan dan menikmati kopi. Jelas, kopi mempunyai dua sisi hitam dan putih. Begitu juga hidup manusia. Karena bagaimanapun untuk merasakan manisnya gula, kita harus tahu rasa pahitnya kopi.

DEMOKRASI WARUNG KOPI

Warung kopi mampu menghadirkan suasana yang romantis, egaliter, ningrat, atau bahkan liberal. Harga secangkir kopi yang disajikan di sebuah cafe bisa untuk makan berhari-hari di warteg pinggir jalan. Namun, kalu pergi ke cafe bukan hanya sekadar kopi yang inin kita beli. Cafe menjual dan memberikan ruang “kegilaan” bagi penikmat kopi. Tradisi nongkrong sambil bicara ngalor ngidul merupakan tradisi yang sudah ada sejak beberapa dekade. “Keajaiban” warung kopi lah yang membuat orang-orang besar seperti Emha Ainun Najib, Butet Kertaradjasa, atau bahkan Arswendo Atmowiloto menemukan ide-ide masterpiece-nya di warung kopi.

Warung kopi seolah menisbikan sekat-sekat dan ruang, membuat siapapun bebas untuk menggagas ide, menuangkan pikiran. Warung kopi tidak membedakan kelas penikmatnya. Kita lah yang membangun sekat-sekat dan partisi, yang membuat menikmati kopi menjadi begitu rumit ketika sudah masuk cafe kelas ningrat. Warung kopi justru memperlakukan kita sama, karena apa yang kita minum disajikan dalam cangkir dan cawan yang sama. Maka ia adalah representasi dari budaya egaliter dalam demokrasi liberal.

Demokrasi warung kopi bisa terbangun begitu liberlanya, tanpa membedakan kelas dan stratifikasi sosial. Dalam warung kopi, ide “gila”, inspirasi, dan mimpi-mimpi cemerlang mampu mencuat dari dalam kepala penikmatnya. Ia bisa mengeluarkan banyak hal, mulai dari ide kudeta militer, spekulasi bisnis, pencurian besar, sampai kepada rencana meniduri selingkuhan.

Berjuta kearifan sekaligus kegilaan bisa terlahir di warung kopi, persisi seperti dua sisi dalam secangkir kopi, antara hitam dan putih. Sementara itu warung kopi adalah “cawan suci” yang akan membersihkan dari segala “dosa” kita. Ia adalah “tempat suci” yang mampu menampung apa saja dan membersihkannya. Ia menampung “kegilaan” penikmatnya sekaligus rahim tempat lahirnya maestro dengan gagasan masterpiece.

DI BALIK WARUNG KOPI

Apa yang membuat warung kopi begitu menjamur di negeri ini, tidak lepas dari kultur dan budaya nongkrong kita. Jika Umar Kayam dua dekade lalu melahirnya seri masterpiece-nya “Sugih Tanpa Bondo, Mangan Ora Mangan Kumpul”, seolah inilah manifestasi yang sesungguhnya apa yang digambarkan Umar Kayam dalam bukunya tersebut. Kebahagiaan kita tidak bisa diukur dengan banyaknya harta yang kita miliki, tetapi sesering apa kita mampu berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi. Warung kopi rupanya menjadi tempat “pembenaran” untuk menyucikan segala “dosa”. Karena ia adalah tempat silaturahim yang mampu menampung semua kelas dan golongan.

Di balik warung kopi, para maestro menggagas ide seni, pengusaha berambisi dengan pengembangan bisnisnya, politikus merencanakan agenda lima tahunannya, penguasa melarutkan ketakutannya akan kekuasaan yang mulai pudar. Warung kopi menjadi cairan penyembuh luka, seperti tanah perjanjian untuk menggantung harapan. Ia sekaligus tempat paling nyaman untuk melarikan diri dari derita “kebingungan”. Warung kopi mampu menghidupkan kembali gairah hidup setelah terpatuk racun mematikan bernama kejenuhan. Meskipun di rumah mereka, para istri siap menyeduhkan kopi dengan gula yang tak kalah manisnya, namun penikmat kopi rela menempuh puluhan mil hanya untuk menikmati secawan kopi pahit.

EVOLUSI

Warung kopi seolah telah berevolusi bukan lagi sekadar persoalan bisnis jual beli, namun sudah menjadi gaya hidup. Warung kopi tidak hanya untuk tempat menikmati bercangkir-cangkir kopi, namun ia juga menjual kenyamanan. Kenikmatan kopi akhirnya bukan lagi kepada seberapa pahit atau manis yang disuguhkan, tetapi seberapa nyaman kedai tempat menikmati kopi tersebut. Evolusi ini seolah menjadi penawar rasa pahitnya kopi. Penikmat espresso  tidak lagi merasakan betapa getirnya ia di lidah, namun semua kegetiran itu terbayarkan dengan kenyamanan ruang kedai.

Warung kopi kemudian melebur dan meng-akulturasi budaya manusia dalam cangkir-cangkir kopi. Mencampurkan dua sisi hidup manusia antara kekelaman dan kesucian. Kopi, seperti dua sisi antara “yin” dan “yang” yang selalu ada dalam lingkaran hidup kita. Jika “yin” sebagai unsur air representasi dari sifat baik kita, maka “yang” adalah unsur api representasi sifat kelam kita. Anda berada di sebelah mana? (*)


Oleh: Rudi Santoso
*Penulis adalah dosen Stikom Surabaya

Sumber: Radar Surabaya | Horizon | Edisi Minggu 25 September 2016

Save

Save