Dilengkapi Sensor Ultrasonik untuk Mendeteksi Bahaya

by admin

Penyandang tunanetra sangat lekat dengan tongkat sebagai “teman setia” untuk membantu berjalan. Bisa dari kayu, bambu atau aluminium.

Sayangnya, penggunaan tongkat konvensional banyak kekurangan. Misalnya ketika ada batu, jalan yang tidak rata karena turunan, “polisi tidur”, bahkan dinding, penyandang disabilitas harus tertatih atau memerlukan bantuan orang lain. Kini, ada inovasi baru karya Mohammad Nur Bimantoro, mahasiswa Jurusan Sistem Komputer, Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya yang berhasil membuat tongkat pintar yang bisa membantu para penyandang gangguan penglihatan.

“Baik mereka dengan sisa penglihatan (low vision) ataupun yang sudah buta total (total blind). Akibat berkurangnya fungsi indra penglihatannya, disabilitas tunanetra berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya. Seperti, perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain sebagainya,” tutur Nur Bimantoro, kemarin. Mahasiswa yang juga bekerja di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya ini mengaku mengamati banyak penyandang tunanetra, sebelum memutuskan membuat tongkat pintar. “Pada umumnya tunanetra menggunakan tongkat khusus berwarna putih dengan garis merah horizontal di bagian bawahnya untuk membantu berjalan. Akan tetapi dengan tongkat ini ruang gerak tunanetra masih sangat terbatas dan tidak leluasa. Untuk mengetahui adanya benda di jalan harus dengan cara mengetuk-ngetukkan tongkat di sekitar pijakan,” urainya. Nur Bimantoro mengatakan, saat ini memang sudah ada tongkat tunanetra yang menggunakan sensor ultrasonik.  Namun selain harganya mahal, sensor yang ada pada bagian depan tongkat untuk mendeteksi benda sekitar dinilai kurang efektif bagi pengguna yang berjalan di atas permukaan dimana terdapat lubang ataupun ganjalan batu dan semacamnya. “Dari sini muncul ide membuat tongkat pintar berbasis mikrokontroler. Tongkat ini menggunakan dua sensor ultrasonik,” paparnya. Sensor bagian atas diharapkan akan mudah mendeteksi benda seperti tembok rumah, pintu, pagar, tiang atau benda lainnya.

Sensor bagian bawah diharapkan dapat mudah mendeteksi permukaan yang tidak rata seperti batu ataupun lubang di sekitar penggunanya. Tongkat ini dilengkapi dengan alarm sebagai tanda peringatan untuk berjalan menghindari benda-benda tersebut sehingga ruang gerak tunanetra lebih luas dan memudahkan mereka untuk melakukan segala aktivitasnya. Pada alat ini dipasang dua buah sensor ultrasonik yang digunakan untuk mengukur jarak antara tongkat dengan benda padat yang ada di depannya. Sensor ultrasonik akan mengeluarkan suara yang kemudian pantulannya mempresentasikan jarak. Sensor atas ditujukan untuk dapat mendeteksi benda yang relatif tinggi. Sensor bawah ditujukan untuk dapat mendeteksi benda berupa gundukan atau lubang. “Dalam sistem ini sensor ultrasonik mengeluarkan suara yang kemudian akan terpantul jika mengenai benda padat dan diterima oleh receiver ,” ulasnya. Sinyal ultrasonik akan masuk ke ATMEGA32. Dari ATMEGA32, sinyal utrasonik diolah menjadi jarak dengan satuan centimeter. Setelah jarak dalam satuan centimeter didapat, dilakukan penentuan jarak untuk memberikan informasi berupa suara melalui buzzer kepada pemakai tongkat pintar tersebut.

Kendati dilengkapi piranti teknologi, tongkat ini cukup ringan. Tongkat dibuat dari pipa paralon (pvc) serta karet handspat motor. “Mulai menggali ide hingga membuat tongkat ini memerlukan waktu enam bulan, satu semester. Untuk biayanya sekitar Rp1 juta. Nominal yang terjangkau dibanding besarnya manfaat tongkat,” ulasnya.

Soeprayitno
Surabaya

 

Sumber : http://www.koran-sindo.com/news.php?r=6&n=82&date=2017-03-03

Jum’at, 03 Maret 2017