Fake Follower Bisa Jadi Virus

by admin

Adakah yang penasaran dari mana fake follower itu? Dosen mata kuliah IT management Stikom Surabaya Erwin Sutomo menyatakan, mereka salah satunya semacam vius. “Logikanya, ada oknum di balik itu yang bisa memanggil dan menyimpan dalam sebuah database. Kemudian, bila ada yang membutuhkan, tinggal koding kirim ke satu user,” ujar Erwin.

Wakil Dekan Fakultas Teknologi dan Informatika itu menambahkan, virus biasanya berada di link yang tersebar di dunia maya. Jika ada pengguna yang ceroboh dan mengklik link tersebut, virus biasanya menjadi tautan dan hidup parasit. Misalnya, pada link penambah follower.

            Karena butuh, seorang pengguna mengklik link tersebut. Dia tanpa sengaja telah memberikan akses ke akun twitter. Suatu saat, lanjut Erwin, bila pemilik butuh, tinggal mengkoding perintah dan akun itu berlaku sebagaimana yang diperintahkan. “Suka nggak sadar kita follow siapa atau tiba-tiba meretweet, reply sendiri,” jelas pria kelahiran 22 Mei tersebut.

Solusinya, Erwin mengimbau pengguna agar setiap bulan rajin mengecek setting aplikasi. Jika ada tautan yang dikira aneh, disarankan segera di-revoke,” Semakin aktif pengguna, semakin banyak tautannya. Misal, tweetbot. Yang jelas seperti tautan instagram atau path,” kata alumnus Unversitas Gadjah Mada Jogjakarta tersebut.

Dia lantas mengingatkan bahwa membuat akun di media sosial berarti siap dengan personal branding pribadi. Namun, tidak semua orang tahu hal itu. Saking tidak pede dengan citra diri, mereka kerap membell follower. Alasannya, agar mudah dipercaya. Karena itu, jumlah pengikut kudu banyak.

Menurut Erwin, jumlah yang patut diwaspadai jika follower mencapai ribuan adalah siapakah dia dan sejauh mana kiprahnya, “Artis atau seleb tweet tidak masalah. Tapi, kalau orang biasa mencapai 3 ribu, ya patut ditanyakan darimana follower-nya itu,” ungkapnya.

Meski begitu, Erwin berpendapat bahwa pengguna internet terlalu luas dan tidak bisa dikekang. “Orang mau beli follower ya beli saja. Tapi, ingat diri. Kalau terlalu banyak, ya buat apa. Toh, sekarang orang sudah pada nalar, kok follower terlalu banyak,” jelas pria yang merupakan Wakil Dekan Fakultas Teknologi dan Informatika Stikom Surabaya tersebut.

Agar tidak mudah terpesona jumlah follower, pengguna internet perlu melihat konten akun, khususnya kemasan catatannya, misalnya, online shop di instagram. Maka, yang harus dilihat adalah posting-an, komentar, dan testimoni. “Coba saja kontak. Penjualnya tanggap atau tidak. Pelayanannya memuaskan atau tidak. Itu yang jadi penilaian,” papar pria klahiran 22 Mei tersebut.

Erwin juga mengingatkan, membeli follower bukan salah satu jalan sukses di media sosial. Dia menyarankan pengguna agar mengemas setiap media sosial dengan posting-an yang menarik. Entah dikemas secara humoris atau ringkas. Sebab, Twitter pun terbatas hanya 140 kata. “you are what you tweet. Kalau tidak menarik, mereka bakal unfollow satu per satu,” kata Erwin.

Mendekati pilkada, Erwin menyarankan pengguna medsos agar berhati-hati menanggapi sebuah akun twitter. “Jangan menelan mentah-mentah. Telusuri itu officially atau bukan. Mendekati pilkada, semakin banyak orang yang butuh pencitraan,” kata alumnus Stikom Surabaya itu. (cik/c15/fat)

Sumber: Jawa Pos Edisi Minggu 16 Agustus 2015 | Metropolis | Hal. 26