Film dan Kampanye Antiterorisme

by admin

Antiterorisme – pic. http://www.nu.or.id

Sebagai sebuah media massa, film memiliki kekuatan dan teknologi canggih dalam menyampaikan pesan melalui bahasa, gambar bergerak, efek visual dan suara, serta ilustrasi musik. Karakteristik itulah yang dimanfaatkan sineas perfilman untuk mengkonstruksi ideologinya sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima khalayak. Sayang, film belum diberdayakan secara optimal oleh pemerintah dalam menarasikan isu-isu sosial sebagai sebuah kampanye untuk stabilitas bangsa, khususnya film yang mengusung isu terorisme.

Film 22 menit yang dirilis pada 19 Juli adalah satu di antara delapan film nasional yang mengkampanyekan antiterorisme dalam sebuah film komersial. Beruntung, film itu mendapat dukungan penuh dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Dengan latar belakang peristiwa peledakan bom di Jalan MH Thamrin, Jakarta, 14 Januari 2016, film yang disutradarai Eugene Panji dan Myrna Paramita tersebut menggambarkan detik-detik peledakan bom, aksi baku tembak antara polisi dan teroris, serta pilunya para korban peledakan bom yang berasal dari berbagai latar belakang ekonomi.

Film yang dibintangi Ario Bayu dan Ade Firman Hakim itu telah ditontonlebih dari 700 ribu orang.

Berbeda dengan film 22 Menit, nyaris semua film bertema terorisme kurang mendapat apresiasi dari pemerintah -ter-lepas dari ada atau tidaknya niat sineas untuk bekerja sama dengan pemerintah. Sedikitnya, ada tujuh film yang mengusung isu terorisme selain film 22 Menit. Yakni, Long Road to Heaven (2007), 3 Doa 3 Cinta (2008), Khalifah (2011), Mata Tertutup (2011), Tanda Tanya (2011), 3: Alif Lam Mim (2015), dan Bid’ah Cinta (2017).

Film Long Road to Heaven yang disutradarai Enison Sinaro merepresentasikan peristiwa peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002. Film itu menggambarkan kondisi Bali pasca peledakan bom. Sutradara juga menggambarkan bagaimana para teroris merencanakan peledakan bom Bali hingga identitas para pelaku bom seperti Hambali, Amrozi, beserta jaringan-jaringannya di luar negeri.

Film-film karya sutradara Nurman Hakim seperti 3 Doa 3 Cinta, Khalifah, dan Bid’ah Cinta adalah film-film yang mengkampanyekan antiterorisme untuk membuka kesadaran masyarakat agar selalu waspada terhadap kelompok-kelompok Islam radikal. Bagi Hakim, kelompok itu setiap saat dapat memengaruhi masyarakat dengan tafsir-tafsir jihadnya.

Hakim menggambarkan kelompok-kelompok tersebut dengan simbol-simbol seperti pakaian jubah, jenggot panjang, dan celana cingkrang. Di ketiga filmnya, Hakim juga menggambarkan bahwa kelompok-kelompok itu anti dengan tradisi keberagaman Islam di Indonesia yang dianggap bidah, tidak sesuai dengan ajaran Nabi. Kelompok-kelompok Islam radikal yang digambarkan Hakim tersebut cukup masif dan strategis dalam mendakwahkan ajarannya, khusunya kepada anak-anak muda. Konsep jihad dimaknai sebagai sebuah jalan menuju surga dengan cara melakukan bom bunuh diri di tengah kerumunan masyarakat yang dianggap kafir.

Film Mata Tertutup karya sutradara Garin Nugroho secara gamblang menyebut kelompok NII (Negara Islam Indonesia) sebagai sebuah kelompok yang sangat membahayakan negara Indonesia. NII digambarkan sebagai kelompok yang ingin mendirikan khilafah Islamiyah di Indonesia.

Kelompok itu menyasar anak-anak muda untuk dicuci otaknya dengan memanfaatkan persoalan-persoalan yang membelit mereka seperti kemiskinan dan ketidakharmonisan dalam keluarga. Bagi Garin, kelompok NII digambarkan sebagai kelompok berbahaya dan mengancam masa depan bangsa Indonesia. Kehadiran kelompok Islam bawah tanah itu dianggap sebagai cikal bakal adanya peristiwa terorisme di Indonesia.

Film Tanda Tanya karya sutradara Hanung Bramantyo terinspirasi peristiwa peledakan bom di Mojokerto yang menelan korban bernama Riyanto, anggota Banser Nahdlatul Ulama (NU) Mojokerto, Jawa Timur. Riyanto harus mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan jemaat Gereja Eben Haezer pada saat misa dari serangan bom Natal yang dilakukan kelompok Islam radikal pada 24 Desember 2000.

Film 3 : Alif Lam Mim yang disutradarai Anggy Umbara bercerita tentang tiga sahabat dari Padepokan Al Ikhlas. Alif berperan sebagai aparat negara pembasmi kejahatan dan mencari pembunuh kedua orang tuanya, Lam sebagai jurnalis yang menyebarkan kebenaran, serta Mim memilih sebagai pengajar dan menetap di Padepokan Al Ikhlas.

Film bergenre laga dan futuristik tersebut mengidentifikasi aksi terorisme yang lahir dari komplotan Mim dan anak-anak padepokan. Film yang menggambarkan masa depan Indonesia pada 2026 itu menyampaikan pesan bahaya radikalisme yang menjadi cikal bakal terorisme.

Pemberdayaan film sebagai sebuah media massa penting untuk mengampanyekan isu-isu sosial, terutama isu terorisme. Pemerintah mestinya menjadi ujung tombak dalam mendukung film-film yang bertujuan mengkampanyekan antiterorisme sehingga membuka kesadaran masyarakat terhadap bahaya terorisme, apa pun bentuk kerja samanya. Tentu saja dengan tetap menjaga independesi para sineas. (*)

 

Muhammad Baharuddin
Dosen media dan komunikasi Stikom Surabaya,
peneliti film, dan sedang menempuh pendidikan
S-3 Komunikasi Universitas Indonesia

Sumber: Jawa Pos | Edisi 12 Agustus 2018 | Hal. 4