Hoax dan Propaganda

by admin

WhatsApp Image 2017-02-05 at 11.13.35“Buatlah kebohongan besar, membuatnya sederhana, tetap mengatakannya, dan akhirnya mereka akan percaya. Dengan terampil dan berkelanjutan menggunakan propaganda, kita dapat membuat orang melihat bahkan surga sebagai neraka atau celaka hidup sangat sebagai surga.” ~Hitler~

Trend Hoax dan IT

Begitulah kira-kira apa yang pernah diyakini Hitler, diktator terbesar sepanjang masa, dalam setiap aksi propagandanya. Ia meyakini bahwa kebohongan yang diucapkan berkali-kali dan diimani, akan menjadi firman. Ia pun membuktikannya dengan segala retorikanya, mengambil alih kekuasaan dengan mudahnya nyaris tanpa ada pertumpahan darah. Berita bohong, informasi bohong, data abal-abal atau apapun namanya disampaikan begitu massive akan dianggap sebuah kebenaran. Hitler mungkin terlalu maju di zamannya, sehingga ia tahu betul bagaimana sebuah informasi akan mempengaruhi orang. Hal yang mungkin akan berbeda jika ia hidup di zaman sekarang. Zaman di mana informasi atau rahasia sudah tidak mempunyai partisi. Hampir semua orang bisa mengakses informasi, bahkan sampai kepada informasi yang paling rahasia sekalipun.

Seseorang bisa seenak jidat menjadi stalker tokoh yang dikaguminya mulai dari bangun pagi sampai dengan tidur lagi. Gayung bersambut. Public figure pun memainkan perannya dengan baik. Sehingga beberapa waktu lalu ada tren jika ingin tenar maka buatlah berita bohong yang dalam dunia jurnalistik disebut sebagai berita setting-an. Berita tang dibuat-buat, dan disampaikan terus menerus sehingga publik percaya apa yang dilihatnya. Media masa dan teknologi informasi (TI) memberi andil besar dalam men-setting kejadian itu menjadi seolah-olah benar.

Implikasi Sosial

Kabar bohong atau yang lebih popular disebut hoax sebenarnya sudah lahir sejak lama. Ia seperti api yang mampu menjilat apa saja dan membakarnya. TI ibarat bensin yang menjadi penghantar api yang melumat apapun. Fenomena hoax muncul ketika masyarakat salah menafsirkan konsep kebebasan berpendapat. Sosial media menjadi sasaran yang dimanfaatkan orang untuk ekspresi kebebasan berpendapat. Penyebar hoax menganggap inilah era keterbukaan, inilah era demokrasi informasi yang sebe-nar-nya. Namun, alih-alih keterbukaan dan demokrasi informasi, hoax justru berubah menjadi arogansi dan liberalisasi informasi. Hoax-er menganggap bahwa ketiadaan ruang dan waktu membuat siapa pun bebas untuk menggagas ide, menuangkan pikiran dengan bebas. Sementara itu, demokrasi yang terbangun pun menjadi sangat liberal dan arogan. Arogansi hoax-er bisa ditunjukkan dengan bombardier informasi bohong yang sangat massive. Pada kondisi seperti ini, pihak yang lemah menjadi tertindas oleh derasnya berita bohong. Jutaan awam yang sebelumnya tidak tahu apa-apa menjadi pongah dan merasa tahu segalanya karena menelan hoax yang dianggapnya kebenaran. Pada akhirnya liberalisasi informasi ini menjadi sebuah anomaly atau penyimpangan. Dan celakanya, jutaan awam nyaman berada dalam sekat ruang anomaly karena menganggap hoax sudah menjadi firman dalam hidupnya. Inilah yang disebut Hitler sebagai surga sebagai neraka atau celaka hidup sangat sebagai surga.

Lebih Percaya Hoax

Kenyataan bahwa masyarakat lebih mempercayai hoax adalah sebuah implikasi bahwa mereka sudah tidak lagi percaya dengan penguasa. Masyarakat begitu menikmati sebuah distorsi dan semantic dalam setiap berita hoax. Mereka larut dalam khayalan dan dunia dongeng hoax, karena apa yang seharusnya menjadi tatanan sosial yang wajar menjadi asing. Ia menjadi asing karena jauh dari kenyataan. Anomaly informasi tidak lagi berada dalam dimensi yang menyimpang. Ia sudah menyebar menjadi seperti sebuah distribusi normal dalam statistik. Sementara kebenaran yang seharusnya adalah alam sadar kita bergeser ter-marjinalkan menjadi sebuah simpangan baku. Perbedaan kebenaran dan kebohongan sudah semakin tipis ketika hoax membentuk dialektika sosial dan berakulturasi dengan mentalitas awam yang miskin informasi, melahirkan liberalisasi dan arogansi informasi.

Ketika awam semakin larut dalam euphoria hoax, seolah penguasa pun semakin jauh dari legitimasi kekuasaan. Karena pada kondisi seperti ini, awam lebih percaya kepada “tuhan” hoax dibandingkan penguasa yang menjadi pamong dan orang tua mereka. Awam menjadi bosan dengan “kebenaran” yang didengungkan pamong mereka selama ini ternyata adalah “kebohongan” dalam dimensi “tuhan” hoax. Ditambah lagi intensitas hoax yang begitu massive menjadikan “kebenaran” itu menjadi sebuah anomaly. Maka prinsip “buatlah kebohongan besar, membuatnya sederhana, tetap mengatakannya, dan akhirnya mereka akan percaya”, telah terpenuhi menjadikannya nyata.

Hoax dan Illiterate of Information

Fenomen hoax tidak bisa dilepaskan dari kondisi masyarakat yang masih awam, minim informasi atau bahkan buta informasi. Hoax adalah salah satu implikasi buruk era keterbukaan informasi. Hoax-er tidak pernah berpikir akibat yang ditimbulkan ketika informasi yang salah tersebut ditelan awam. Namun, lepas dari masalah itu, hoax lahir dari sebuah kepentingan untuk membentuk opini publik dan menggiringnya untuk berpihak. Motif lahirnya pun bermacam-macam, mulai dari kepentingan politik, ekonomi, sosial, sampai bahkan kepada sebuah guyonan. Kebohongan-kebohongan yang terlahir tersebut begitu mudahnya tumbuh dan berkembang sebagai implikasi dua hal. Pertama masyarakat kita terlalu lugu nan jujur sehingga tidak lagi bisa membedakan sesuatu itu apakah bohong atau tidak. Karena mereka hidup dalam dimensi kejujuran dan kepolosan, sehingga mindset yang terbangun adalah segala sesuatunya terlahir dengan fitrah yang baik. Kedua, masyarakat kita sedang naik kelas untuk menuju ‘pintar’, sementara itu mereka sedang berada pada fase memilih informasi. Awam berada dalam dimensi belajar, dan biarkanlah mereka berdialektika yang akhirnya mereka tahu sendiri. Awam telah berprinsip sederhana, “Biarpun kebohongan lari secepat kilat, pada akhirnya kebenaran akan menghentikannya.” (*)

 

Oleh: Rudi Santoso
*Penulis adalah dosen Stikom Surabaya

Sumber: Radar Surabaya | Horizon | Edisi Minggu, 5 Februari 2017