Ingin Bisa Membatik Cepat? Doktor Batik Ini Mengajarkan Caranya!

by admin

Monday, 22 April 2013 | 21:35
Penakita | SURABAYA- Batik bukan sekadar corak dalam selembar kain. Namun, batik juga memiliki falsafah di setiap coraknya. Untuk memberikan pemahaman itu, Stikom Surabaya memberikan pelatihan khusus kepada siswa dan istri-istri pejabat kecamatan dari 31 kecamatan di Surabaya.

Kegiatan ini dilakukan untuk memperingati Hari Kartini sekaligus dalam rangka Lustrum ke-6 Stikom Surabaya. Pembelajaran yang dilakukan dikemas dalam bentuk workshop membatik bersama Doktor Batik Indonesia, Karsam PhD, Senin (22/4/2013). Melalui workshop ini Karsam ingin mengajak masyarakat ikut serta melestarikan batik melalui belajar proses pembuatannya.

“Kami mengajarkan cara membatik dengan cepat, peserta sangat menyukai itu,” kata Karsam kepada PENAKITA.com, Senin (22/4/2013).

Karsam menuturkan, pelestarian batik tidak cukup dengan hanya memakai batik setiap hari. Lebih penting dari itu adalah mengetahui proses membuat batik. Kelestarian dan esensi batik sebagai warisan budaya hanya bisa dijaga dengan baik tatkala masyarakat mempunyai kemampuan mengembangkan batik menjadi corak yang beragam.

Karsam ingin setiap daerah di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur memiliki corak batik sendiri-sendiri. Jika ini berhasil, maka corak batik di Indonesia akan semakin bervariasi. “Banyak corak batik akan semakin baik,” ujar penemu corak khas batik Jombang ini.

Karsam yang juga Kaprodi D IV Multimedia Stikom ini berencana mengusung desain batik sebagai salah satu mata kuliah yang masuk di dalam kurikulum prodi Desain di Stikom Surabaya. Dia percaya, dengan sentuhan teknologi komputer, proses desain batik bisa dibuat lebih cepat dan lebih beragam.

“Selain itu, corak yang dihasilkan dengan menggunakan teknologi komputer desain juga dipercaya mempunyai akurasi dan konsistensi tinggi. Corak khas yang dihasilkan juga lebih merangsang mahasiswa sebagai generasi pewaris untuk lebih kreatif dalam membuat corak-corak baru,” bebernya.

Workshop ini diikuti sekitar 200 peserta dari siswa dan istri-istri pejabat kecamatan dari 31 kecamatan di Surabaya. Sebagai lembaga pendidikan, Stikom Surabaya merasa ikut memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga esensi dari cultural intangible heritage tersebut.

Salah satu bentuk nyata kepedulian menjaga esensi tersebut adalah dengan memberikan teknik dan workshop membatik. Sebagai sebuah mahakarya atau masterpiece, batik harus dipandang secara utuh sebagi sebuah simbol kecintaan, kasih sayang, budaya, kekuatan sosial masyarakat, kekuatan ekonomi kerakyatan dan kekuatan seni yang luar biasa karena ini adalah sebuah kekuatan inovasi dan kreativitas yang melambangkan kekuatan budaya.

“Batik harus dipandang sebagai sebuah proses yang berkelanjutan demi menjaga kelestariannya. Oleh karena itu, kita tidak hanya memakai, tetapi juga mengetahui prosesnya, maka pelestarian batik tidak akan mengalami putus mata rantai dan tetap langgeng,” papar Karsam.

Sementara itu, Bernada, siswa kelas XI SMA Wachid Hasyim Surabaya mengaku sangat senang dengan keputusan Stikom membuat pelatihan membatik. “Saya sangat senang, apalagi pada Hari Kartini menambah semangat untuk belajar,” ujar dia. ika

 

Sumber: http://penakita.com/ingin-bisa-membatik-cepat-doktor-batik-ini-mengajarkan-caranya/#sthash.OgpyoQYv.fR2vRORb.dpbs