Inovasi Mahasiswa STIKOM Surabaya : Bikin Pendeteksi Banjir Jarak Jauh

by admin

banjir2Tinggal di Surabaya yang selalu menjadi langganan banjir saat musim hujan menginspirasi dua mahasiswa Stikom, Surabaya, membuat pendeteksi banjir berbasis wireless sensor network (WSN).

Menggunakan wireless, alat ini bisa dimanfaatkan dari jarak jauh. Inovasi ini menghantarkan Muhammad Syakir dan Budi Hari Nugroho, mahasiswa program pendidikan S-1 jurusan sistem komputer, sukses menuntaskan pendidikan di Stikom. Sabtu (26/4) besok, keduanya akan diwisuda. Alat pendeteksi banjir jarak jauh karya mereka terbukti memiliki tingkat keakuratan tinggi.

Kelebihan lainnya, dapat dipantau secara real time, sehingga dapat memberi informasi terhadap ketinggian air dan membantu pengambilan keputusan terhadap kondisi banjir di suatu tempat. Alat pendeteksi banjir ini menggunakan teknologi WSN, yaitu jaringan nirkabel terdiri dari beberapa alat sensor yang saling bekerja sama. Fungsinya memonitor fisik dan kondisi lingkungan seperti temperatur, ketinggian air, suara, getaran atau gempa, polusi, dan udara di tempat yang berbeda-beda.

Cara kerja alat ini dengan menentukan node routerdan coordinatoryang berfungsi mengambil data ketinggian air dan waktu. Proses diawali mengirim pesan ke node coordinatormelalui pesan, kemudian sensor ultrasonik melakukan pendeteksian. Selanjutnya data yang diperoleh akan diolah di dalam arduino uno, yaitu micro controlleryang akan mengolah data ketinggian air, ditambah data tanggal dan waktu yang dihasilkan modul real time clock (RTC). Setelah semua data didapat, akan dikirim secara wirelesske node coordinator.

Data-data dari beberapa tempat akan dibandingkan selanjutnya dikirim ke node and deviceyang terhubung ke komputer melalui USB. Selanjutnya diterjemahkan oleh program Visual Basic (VB). Data akhir berupa data ketinggian air, tanggal, waktu, dan prediksi terjadinya banjir sekaligus alarm peringatan. ”Alat ini sebenarnya bisa dibuat dalam waktu tiga bulan. Karena ini merupakan teknologi, akhirnya baru selesai selama satu semester,” ungkap Muhammad Syakir ditemui di kampusnya, kemarin.

Syakir mengaku sempat menemui beberapa kegagalan, terutama soal pengiriman data dari micro controller. Semula waktu pengiriman data disettingkurang dari 20 detik. ”Singkatnya waktu membuat penumpukan data sehingga tidak bisa terbaca. Akhirnya waktu diperlambat menjadi 20 menit. Jadi, pengiriman data yang terlalu cepat juga tidak baik,” papar Syakir yang kelahiran Tulungagung, 6 Juli 1991 ini. Karya yang menelan biaya sebesar Rp6 juta ini untuk sementara bisa difungsikan dalam radius 300 meter. Jika ingin lebih, diperlukan penggantian sensor Xbee dengan luas areal sebaran lebih jauh.

”Prototipe alat pendeteksi banjir ini masih diperlukan penyempurnaan serta pengembangan lebih lanjut. Dengan adanya alat semacam ini diharapkan dapat membantu pemantauan yang lebih akurat terhadap bencana banjir. Jadi, dapat mengurangi dampak bencana secara tepat sekaligus menekan korban yang ditimbulkan,” ujar Budi Hari Nugroho. Ketua Stikom, Prof Budi Jatmiko, mengapresiasi karya para mahasiswanya. Dia menekankan, sebuah karya harus memberi manfaat positif bagi kehidupan masyarakat.

”Terlebih jika karya tersebut bisa memberi manfaat dan dapat diaplikasikan secara langsung. Penemuan yang inovatif dari mahasiswa inilah yang diharapkan memberikan semangat mahasiswa lain untuk menelurkan karya-karyalain yang lebih bermanfaat,” ungkapnya.

Sumber asli:
Versi Cetak : Terbit Jumat, 25 April 2014 halaman 13 Rubrik Spirit Surabaya
Versi Online : http://koran-sindo.com/node/384606 dan Foto : http://photo.sindonews.com/view/6835/uji-coba-alat-pendeteksi-banjir