INVESTASI BO(D)HONG

by admin

invest-bodhongoo

Kasus Dimas Kanjeng menunjukkan masyarakat kita semakin tidak rasional. Tidak sedikit dari mereka mengharapkan hasil yang fantastis dengan mahar yang disetorkan. Lebih tidak rasional lagi, hasil yang diharapkan atau dijanjikan sangat tidak masuk akal. Hanya di negeri ini uang Rp 1 juta bisa menjadi Rp 1 miliar dalam hitungan singkat. Konon katanya.

Pada dasarnya konsep investasi adalah penundaan konsumsi pada masa sekarang untuk masa yang akan datang. Pada masa investasi tersebut terkandung risiko sebagai bagian yang tak terpisahkan dari investasi itu sendiri. Risiko dapat dimaknai sebagi bentuk ketidakpastian akan suatu keadaan yang akan terjadi di kemudian hari, akibat keputusan yang kita ambil berdasarkan berbagai pertimbangan pada saat ini.

Sementara itu, imbal hasil yang biasa disebut return dalam investasi adalah kompensasi atas penundaan konsumsi tersebut dalam bentuk keuntungan. Besarnya imbal hasil tergantung dari penggunaan atas penundaan komsumsi tersebut. Dalam sejarahnya, tidak ada satupun investasi yang menjanjikan imbal hasil sampai dengan 1000% dalam waktu singkat.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat rata-rata imbal hasil per tahun yang dibukukan adalah 15%. Sehingga jika diakumulasikan dalam 10 tahun terakhir ini return investasi tumbuh 317%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengembalian dalam investasi yang paling aman adalah pada kisaran 15% per tahun. Artinya, jika ada pihak yang menawarkan imbal hasil yang lebih dari nilai wajar, patut dicurigai investasi tersebut mempunyai tingkat risiko yang tinggi. Risiko yang paling tinggi dalam investasi adalah default (gagal bayar), alias modal hilang begitu saja.

Berita dalam 3 (tiga) tahun terakhir ini masih saja ada pihak yang menawarkan investasi yang ragamnya tak terhitung. Celakanya, semua cerita investasi yang menggiurkan itu hanya isapan jempol. Dana yang terkumpul sudah semakin menggunung, bahkan nilainya mencapai triliunan.

Alih-alih mendapatkan imbal hasil, modal yang disetorkan pun tidak keruan ke mana ujungnya. Kasus terakhir (Dimas Kanjeng) yang melibatkan nama pesohor Indonesia, menunjukkan bahwa masyarakat tidak banyak belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya. Sampai titik ini, belum bisa diidentifikasi penyebab kenapa model investasi (bodhong) masih saja marak.

Tetapi, yang pasti fenomena ini menunjukkan kecenderungan keinginan masyarakat kita untuk mendapatkan “ikan besar” dengan cara instan membuat mereka kurang bijak dalam mengambil keputusan. Masyarakat kita terlalu banyak dininabobokkan dengan khayalan-khayalan seperti di negeri dongeng. Mereka seperti hidup dalam dimensi sinetron.

Pun juga masyarakat ini seolah “teracuni” dengan tontonan hedon yang pada akhirya membuat mereka terlalu oportunis. Sikap terlalu oportunis inilah yang membawa masyarakat ini jatuh ke dalam berbagai “drama” investasi bohongan.

Lucunya, mereka justru menikmatinya dengan sikap mengharu biru ketika mulai sadar bahwa mereka hidup dalam dimensi khayalan mereka. Dimensi kehidupan imajiner yang memberi janji keuntungan melipatgandakan harta bernama UANG.

Salah satu dari enam prinsip investasi adalah mengevaluai profil risiko kita terhadap investasi. Evaluasi ini untuk menentukan, apakah kita merasa nyaman dengan tingkat volatilitas (naik dan turun) pasar yang wajar, ataukah berinvestasi dengan tenang dengan volatilitas rendah.

Hal ini perlu dilakukan karena tingkat risiko investasi berbanding lurus dengan imbal balik. Artinya, semakin tinggi imbal balik yang dijanjikan, maka tingkat risiko yang akan dihadapi juga lebih tinggi. Maka, dalam dunia investasi kita mengenal istilah high risk high return. Jika kita tidak terlalu nyaman dengan risiko yang lebih tinggi, maka jangan pernah mencoba-coba untuk ikut ke dalamnya.

Perlu dicatat baik-baik adalah, tidak ada satupun investasi di dunia ini yang bebas risiko. Bahkan investasi “bebas risiko” bernama deposito pun masih terpapar risiko oleh gerusan inflasi. Selain prinsip di atas, hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah menentukan jangka waktu dalam berinvestasi. Jangka waktu ini sangat berpengaruh terhadap tingkat pengembalian atau imbal balik.

Investasi bodhong merujuk kepada imbal balik (return) yang mencapai titik nol. Ekstrimnya, investasi jenis ini adalah investasi bohong-bohongan. Kenapa disebut bohongan? Karena nasabah tidak pernah mendapatkan imbal balik yang dijanjikan. Bahkan modal yang disetorkan pun ikut lenyap.

Anehnya, masyarakat kita seolah tidak pernah kapok dengan berbagai kasus yang mendera selama ini. Hal ini tidak lepas dari kondisi psikologis sebagian masyarakat Indonesia yang lebih mudah tergiur dengan kemudahan. Siapa orangnya yang tidak tergiur Tengan kemudahan dan embel-embel hasil yang sangat tinggi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada tiga hal yang menyebabkan investasi bodong masih marak. Pertama, rendahnya literasi atau pengetahuan masyarakat tentang keuangan.

Hal ini menyebabkan masyarakat terjebak janji-janji manis predator investasi bodhong. Kedua, proses pengaduan di lembaga jasa keuangan tidak berjalan dengan baik. Setali tiga uang, nasabah korban investasi bodhong enggan untuk melapor dengan berbagai alasan.

Salah satunya kalau tidak malu dengan keluarga, atau apatis bahwa kasusnya akan terselesaikan. Ketiga, masyarakat korban ini membeli produk investasi yang tidak memiliki izin dan ditawarkan oleh perusahaan yang tidak berizin pula. Dan tiga hal yang perlu diperhatikan jika kita mau masuk ke dunia investasi adalah waspada terhadap penawaran dengan keuntungan terlalu tinggi, periksa izin lembaga penyelenggara investasi, dan teliti produk yang dijual. Tetap bijaklah dalam mengelola keuangan. (*)

Oleh: Rudi Santoso
*Penulis adalah dosen Stikom Surabaya

Sumber: Radar Surabaya | Horizon | Edisi Minggu, 6 November 2016