Kartini dan Isu Gender

by admin

Diskriminasi gender ma­ sih mencengkeramkan kukunya di seluruh du­nia, walau telah banyak lang­ kah perbaikan terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Me­ nurut laporan penelitian kebija­ kan Bank Dunia, tak ada kawa­ san negara sedang berkembang yang memiliki kesetaraan gen­ der dalam hukum, sosial, mau­ pun ekonomi.

Kartini

Kartini

PERJUANGAN KARTINI YANG DIGUGAT

Lebih dari 100 tahun lamanya perjuangan Kartini dalam mem­ bela hak­hak kaum perempuan. Perjuangannya yang fenomenal patut dikenang sampai kapanpun. Karena sosok Kartini adalah pe­ juang kesetaraan gender pertama yang pernah ada di Indonesia. Kartini bukanlah sosok hero layaknya G.I. Jane yang memang­ gul senjata maju di medan perang, seperti yang digambarkan dalam drama Hollywood. Ia adalah pen­ dobrak patron dan paham patriaki dalam budaya masyarakat Jawa yang kental. Pemikirannya yang aneh dan menyalahi adat pada ja­ mannya, justru menjadi tonggak sejarah bangkitnya perjuangan wanita dalam menggulingkan tirani dan penindasan terhadap perempuan. Ia juga boleh dibilang adalah sosok yang lebih maju setengah abad dari jamannya. Meski akhirnya kepahlawannya justru digugat pada akhir­akhir ini. Pendapat kontra adalah Kar­ tini bukanlah pahlawan perempu­ an yang sebenarnya yang mem­ perjuangkan hak azasi wanita.

“Pengkhianatan” atas ideolo­ ginya dimulai ketika Kartini me­ mutuskan untuk menerima aturan dan tradisi yang dibeban­ kan kepadanya, bersedia menuruti adat bangsawan Jawa sampai mau menikah dengan bupati Rembang yang dijodoh­ kan kepadanya. Keputusannya itu membuat ia harus melepas­ kan impian untuk menimba ilmu di negeri Belanda, dan menjadi perempuan intelektual yang bebas. Keputusan inilah yang dianggap sebagian orang kon­ tradiktif dengan apa yang di­ perjuangkannya selama ini. Kar­ tini dianggap tidak konsisten

terhadap idea­
lisme­idealis­
me yang ia de­
ngungkan sendiri. Pun juga ia dianggap telah menggadaikan idiologinya demi kelanggengan keningratan yang ia miliki.

Apapun yang dilakukan Kar­ tini pada saat itu, tentu saja ti­ dak bisa menghapus perjuang­ annya dalam usahanya menje­ bol tembok keangkuhan feoda­ lisme kaum ningrat Jawa bar­ nama patriaki.

***

PEMBERONTAKAN PEREMPUAN DALAM PASUNGAN

Para generasi 80­an mungkin masih ingat dengan sebuah film yang bertajuk “Perempuan da­ lam Pasungan”. Film itu berce­ rita tentang sosok perempuan yang harus dipenjara dan dipa­ sung oleh orang tuanya sendiri, karena dianggap gila. Status kegilaannya pun disematkan karena perempuan itu menolak dinikahkan dengan pria yang menjadi pilihan orang tuanya.

Jauh sebelum cerita ini mun­ cul, Marah Rusli menggambar­ kan wanita bernama Siti Nur­ baya yang harus merelakan cin­ tanya pada Sam untuk diberi­ kan kepada Datuk Maringgih demi menyelamatkan keluarga­ nya dari jeratan hutang.

Perjuangan kaum hawa da­ lam menegakkan haknya sea­ kan menjadi sebuah ritual yang harus dilakukan terus menerus dalam beberapa dekade ini. Bahkan penyakit penindasan terhadap perempuan pun su­ dah semakin laten. Begitu

lanten­nya sampai harus ada sebuah

komisi yang khusus mengurusi masalah perempuan. Begitu bu­ ruk atau sialkah menjadi wa­ nita itu? Sampai­sampai untuk bisa diakui eksistensinya harus mendapatkan legitimasi, baik secara sosial­budaya maupun politik. Ataukah ia justru terla­ lu berbahaya jika dilepaskan sendirian, sehingga ia perlu un­ tuk dipasung?

***

KEKERASAN MASIH DIALAMI KAUM PEREMPUAN

Hampir dua dekade terakhir ini, jumlah kekerasan terhadap perempuan, khususnya dalam rumah tangga, mempunyai kecen­ derungan meningkat. Data dari sebuah Lembaga Bantuan Hukum Jakarta menunjukkan, di tahun 2002 jumlah korban kekerasan berjumlah 491 kasus atau mening­ kat 227% sejak tahun 1998 yang “hanya” 216 kasus. Dari jumlah tersebut kekerasan psikis menem­ pati urutan teratas dengan total 250 kasus. Kekerasan psikis ini meliputi tekanan mental terhadap kaum perempuan sampai dengan masalah abuse. Yang sedikit “menggembirakan” adalah adanya penurunan 50% kasus kekerasan seksual dari tahun 1999 (15 kasus) ke tahum 2002 (7 kasus).

Kasus­kasus di atas adalah se­ bagian kecil masalah yang sempat muncul di permukaan. Padahal kasus yang belum tercatat jumlahnya mencapai ribuan. Hal ini menjadi keprihatinan kita bahwa ternyata setelah lebih dari 100 tahun perjuangan Kartini dalam menyetarakan gender belum juga berkahir dan semakin jauh dari pencapaian akhir. Bahkan Komnas Perempuan mencatat di tahun 2008 terdapat 54.425 kasus kekerasan terhadap perempuan. Angka ini berarti ada peningkatan 213% dari tahun sebelumnya.

****

PEMBANGUNAN YANG BERPERSPEKTIF GENDER

Sampai dengan 15 tahun masa abad milenium ini, perjuangan wanita dalam menuntut keseta­ raan gender belum usai. Kaum wanita masih terlalu rentan terha­ dap ancaman kekerasan, pele­ cehan dan ekploitasi. Dalam me­ ngatasi masalah ini, pemerintah harus memikirkan bagaimana berbagai kelembagaan formal dan informal membentuk peran dan relasi gender, serta bagaimana ke­ putusan dan perilaku rumah tang­ ga menciptakan semua peran gen­ der tersebut, keterkaitan pemba­ ngunan ekonomi dengan keseta­ raan gender, serta peran kebijakan publik dan langkah masyarakat dalam meningkatakn kesetaraan gender.

Laporan penelitian Bank Dunia mengungkapkan bahwa kebijakan pembangunan yang tidak mem­ pertimbangkan relasi gender dan tidak mengarahkan kesenjangan gender akan terbatas efektifitas­ nya. Untuk meningkatkan hal ter­ sebut, harus ada penggabungan strategi jangka panjang peromba­ kan kelembagaan demi mencip­ takan kesetaraan hak dan kesem­ patan antara perempuan dan laki­ laki serta mendorong pembangu­ nan ekonomi yang memberikan insentif untuk lebih menyetarakan sumberdaya dan peran serta, de­ ngan tindakan aktif memperbaiki kesenjangan gender. (*)

Penulis: 
RUDI SANTOSO S.SOS M.M.
Dosen Stikom Surabaya, Pemerhati Masalah Sosial Budaya

Sumber: Radar Surabaya | Edisi 17 April 2016 | Rubrik Horizon | Hal. 7