Kebangkitan Moral

by admin

Kebangkitan Moral

Kebangkitan Moral

Kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indone­sia, yang sebelumnya tidak per­nah muncul selama pendudu­kan 350 tahun. Masa ini diawali dengan dua peristiwa penting Boedi Oetomo (1908) dan Sum­ pah Pemuda (1928). Masa ini menjadi salah satu dampak po­litik etis yang mulai diper­juangkan sejak masa Multatuli.

SUBSTANSI SEJARAH KEBANGKITAN
Semangat persatuan dan ke­ satuan yang telah dikobarkan pu­luhan tahun silam, semakin lama kini semakin kehilangan makna. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei hanya sebatas upacara seremonial dan bernostalgia mengenang peristiwa kebangkitan nasional. Semangat persatuan dan kesatuan kini telah bergeser dan tertindih oleh gejala primordialisme, kedaerahan, me­mentingkan partai dan golongan. Sementara esensi dari semangat kebangkitan nasional itu sendiri kini hanya tinggal sejarah.

Sejarah kebangkitan bangsa ini dimulai ketika het Jong Javaasche Verbond Boedi Oetomo atau Ikatan Pemuda Jawa Boedi Oeto­ mo didirikan di gedung STOVIA (School tot Opleiding voor Inland­ sche Arsten), Batavia, 20 Mei 1908. Boedi Oetomo diambil dari istilah bahasa Sansekerta, Bodhi atau Buddhi yang berarti keterbukaan jiwa, pikiran, kesadaran, akal, dan daya. Sedang Oetomo diambil dari istilah Uttama yang berarti ting­kat kebajikan jiwa. Maka boleh disimpulkan gerakan ini adalah organisasi yang mengedepankan keterbukaan akal sebagai tingkat kebajikan utama. Pada akhirnya Boedi Oetomo mengklaim bahwa “budi” sebagai puncak kegiatan moral manusia dan mengendalikan akal dan watak seseorang.

DEKADENSI MORAL
Jika semangat Boedi Oetomo se­ bagai tonggak sejarah kebang­ kitan nasional adalah soal moral, maka hari ini kita melihat sesuatu hal yang kontradik­tif. Kebangkitan nasional mulai kehi­langan substansi, di mana persoa­lan moral mulai dikesampingkan. Semangat Boedi Oetomo akirnya hanya menjadi retorika sesaat. Bukan lagi menjadi sebuah “ideo­logi” yang harusnya mendarah daging.

Kemerosotan moral bangsa ini secara empiris bisa dilihat dari posisi Indonesia menduduki pe­ringkat ke­-64 sebagai negara ter­korup di dunia versi Transpa­ rensi Internasional (TI).

Data dari BNN (Badan Narkotika Nasional) menunjukkan sekitar 4,2 juta warga In­ donesia menggu­ nakan narkoba pada perte­nga­han 2014. Tidak cukup sampai di situ, BNN juga mencatat bahwa 50 orang mati setiap hari karena narkoba. Jumlah kerugian ekonomi dan sosial per tahun yang ditimbulkan mencapai Rp 63 triliun, atau se­tara setoran pajak Jatim ke pu­sat dalam setahun. Sementara itu BKKBN pada tahun 2013 mencatat 4,8 % anak usia 10­14 tahun sudah pernah melakukan hubungan di luar nikah. Melihat kenyataan tersebut, kita mung­kin miris dibuatnya. Namun, itulah sebuah realitas bangsa ini dengan beragam masalahnya.

MULAI KEHILANGAN IDENTITAS
Jika generasi tua meratapi kita yang semakin kehilangan jati diri bangsa, tidaklah berlebihan. Jati diri yang melekat pada karakter bangsa ini mulai melemah dan hi­ lang. Ia berganti dengan sikap tak acuh dan hedon. Masyarakat kita semakin kehilangan identitas sebagai bangsa yang ramah. Kita seolah berevolusi menjadi bangsa yang “liar” dan “barbar”. Keliaran kita pun sudah mencapai titik atau ambang tertentu yang sudah sampai di luar nalar manusia.

Potret keliaran generasi bangsa ini bisa dilihat dari kasus pembunuhan dosen yang dila­kukan oleh mahasiswanya sendiri di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Ironis­nya, pembunuhan ini dilakukan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei). Kejadian ini seperti tamparan keras dunia pendidikan. Institusi pendidikan seolah sudah tidak punya martabat, jika pen­didiknya berpo­tensi anca­man bunuh. Tidak ada lagi bekas tempaan pendidikan bertema moral dan budi pekerti. Kasus perkosaan terhadap Yuyun dan diulangi lagi dengan kasus Manado menambah daftar panjang kasus kebangkrutan moral ge­nerasi bangsa ini. Kejadian­-ke­jadian ini seolah menjebak kita dalam satu dimensi yang sebenar­nya di luar nalar dan akal ma­nusia. Bangsa ini seolah berevolusi menjadi bangsa liar dan barbar.

BANGKIT KEMBALI
Kebangkitan nasional yang me­ rupakan tonggak sejarah lahirnya kesadaran bangsa ini sebenarnya merupakan gerakan moral nasi­ onalisme. Jika pada saat ini kita masih terjebak dalam sebuah di­mensi kebangkrutan moral, maka apa yang diperjuangkan dan disuarakan ratusan tahun silam akhirnya tidak berarti apa­-apa. Berpijak pada hal tersebut, bangsa ini seharusnya sudah lepas dari je­ratan perilaku moral yang me­ nyimpang.

Kita harus banyak belajar dari bangsa Tiongkok dalam hal se­mangat kebangkitan moralnya. Bahkan Deng Xiaoping pun berujar bahwa idiologi terbukti tidak mengenyangkan rakyat. Yang harus dilakukan adalah bangkit! Bangkit dari nina bobo idiologi, kenyamanan, dan perilaku­perilaku yang mem­ belenggu kemajuan. Dan ia pun konsisten dengan apa yang di­ suarakan. Segala hal yang diang­gap menyimpang dan tidak se­suai dengan moral, ia babat dan habisi.

Tiongkok tidak pernah mento­leransi hal-­hal yang bisa meng­ halangi pembangunan moral. Amnesti Internasional melansir data melalui CBS News bahwa sedikitnya 4.000 orang dijatuhi hukuman mati setiap tahunnya di Tiongkok. Tiongkok menjadi negara yang paling banyak mela­kukan eksekusi mati dibanding­ kan negara lain. Hal ini menun­jukkan komitmen tinggi para pemimpin Tiongkok. Bahkan, sejak Xi Jinping menjabat sebagai Presiden Tiongkok pada 14 Ma­ret 2013 bersumpah untuk meng­hukum para pelaku korupsi se­berat­ beratnya.

Lalu, bagaimana dengan kita? Bagaimana pelaku pemerkosa dihukum? Bagaimana keluarga korban? Bagaimana penanganan para koruptor? Bagaimana nasib pendidikan moral di sekolah? Saatnya bangkit, keluar dari nina bobo, bergeser dari zona nyaman, kembali kepada fitrah, bahwa kebangkitan bangsa ini adalah semangat kebangkitan moral. (*)

*Penulis adalah pemerhati masalah ekonomi, sosial, dan budaya. Tinggal di Surabaya. Dosen DIII Komputerisasi Perkantoran dan Kesekretariatan Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya.

Sumber: Radar Surabaya Edisi 15 Mei 2016 | Kolom Horizon | hal. 7