Kembali ke (Rumah) Majapahit

by admin

img_20160913_091753_hdrMASYARAKAT tentu tak merasa asing dengan Majapahit, yang disebut-sebut sebagai kerajaan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia (1293-1500M).

Tapi sayang tak banyak masyarakat mengetahui tentang peningalan-peninggalan Majapahit akibat banyak artifak yang rusak, baik karena faktor alam maupun manusia. Terlebih lagi, pelajaran-pelajaran berbau sejarah di sekolah atau perguruan tinggi kurang banyak diminati anak didik.

Ibadurrahman, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Stikom Surabaya, memiliki cara unik untuk membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap sejarah, khususnya budaya lokal peninggalan Majapahit. Rohman, demikian dia disapa, merancang buku berisi visual arsitektur rumah Majapahit berbasis 3D Augmented Reality.

Dalam rancangannya, Rohman yang akan diwisuda pada paro Oktober 2016 ini mengacu pada model rumah yang ada di Bali. Ini karena kebudayaan di Bali merupakan kelanjutan dari kebudayaan Majapahit.

“Dan, arsitektur Majapahit ini masih banyak ditemui padanannya di sana,” kata Rohman mengutip ungkapan Osrifoel Oesman yang dia baca di situs National Geographic.

Rohman yakin upayanya ini akan memudahkan masyarakat untuk mengenali peninggalan Majapahit, khususnya rumah atau hunian masa itu. Menurutnya, kelebihan buku ini dibanding buku-buku sejenis adalah mengedepankan gambar yang bisa digerakkan melalui teknik visual Augmented Reality sehingga mengajak pembaca lebih aktif dan interaktif.

Rohman ingin masyarakat tidak hanya berimajinasi dengan cerita-cerita yang mereka dapat waktu di sekolah atau gambar-gambar yang mereka akses di buku-buku sejarah atau di internet tetapi juga menikmati gambar rumah Majapahit yang lebih nyata.

“Dangan mengombinasikan fitur 3D dan augmented reality, gambar rumah Majapahit akan tampak lebih hidup. Masyarakat bisa mengetahui lebih detail dan interaktif dari berbagai sudut pandang melalui gambar-gambar bergerak,” ungkapnya.

“Pembaca akan mengetahui bagian-bagian rumah, seperti ruang tamu, dapur, dan lain sebaginya melalui aplikasi yang dapat diunduh di buku tersebut,” lanjut pemuda berusia 22 tahun ini berpromosi.

Buku yang dirancangnya ini berkonsep informatif dengan menggabungkan lebih banyak gambar sangat detail dan teks pendukung.

“Dengan visual yang dapat digerakkan dengan sudut pandang berbeda-beda, pembaca diharapkan dapat mengetahui informasi yang lebih lengkap lebih dari sekadar membaca teks,” tegas Rohman.

Karena itu, buku ini dirancang dengan posisi horizontal atau landscape untuk mempermudah dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Gagasan perancangan buku rumah tradisional Majapahit ini bertujuan untuk mengenalkan sekaligus memberikan informasi tentang peninggalan sejarah kebudayaan Majapahit kepada masyarakat.

“Keperihatinan inilah yang membuat saya merasa terpanggil untuk merekonstruksi kembali rumah peninggalan Majapahit yang saaat ini  tinggal sisa-sisa bangunannya saja,” pungkas Rohman.

 

*Sumber (Cetak): Surya | Edisi 13 September 2016 | Citizen Reporter Hal. 9

*Sumber (Online): http://surabaya.tribunnews.com/2016/09/11/ternyata-begini-rumah-3-dimensi-masa-majapahit-itu