Keringkan Sepatu Cukup 1 Jam

by admin

Inovasi Mahasiswa Stikom Surabaya

Surabaya, Memo X

Selama ini pengeringan sepatu basah oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia masih menggunakan cara konvensional, yakni menjemur dengan manfaatkan terik matahari. Namun jika musim hujan, matahari tidak selalu muncul, alhasil sepatu bisa kering dengan waktu berhari-hari.

Melihat fenomena ini, Alamgumelar Bagus Rizkianto, mahasiswa semester akhir jurusan sistem komputer, Institut Bisnis dan Informatika STIKOM Surabaya tertarik untuk merancang sekaligus melakukan penelitian akan mesin pengering sepatu dengan kompor sebagai sumber panas yang diberi nama ‘Rancang Bangun Pengering Sepatu’ Berdasarkan Kelembapan Metode Pro-portion Integral Derivative (PID).

“Kalau kehujanan biasanya ngeringin sepatu lama, karena mataharinya Cuma sebentar. Nah kalau pengering sepatu ini bisa cepat, cuman satu jam lebih dikit, sepatu kering dan bisa dipakai lagi,” kata Bagus di STIKOM Surabaya, Rabu (13/2).

Mesin pengering yang mengguankan daya DKT 11 (sesnor suhu dan kelembapan) dan Adruino (pusat kontrolnya). Menurut bagas, dua daya itu lah yang paling penting dalam pembuatan mesin. Juga terdapat sinar UV dan kipas dari komputer yang mempercepat pengeringan. “ Dalam mesin pengering sepatu ini bisa membunuh bakterinya dengan sinar UV, dan butuh waktu 30 detik serta bisa disetting juga waktunya. Ada juga kompor, penghantar panas supaya tidak tersentuh langsung dengan sepatu, ada kipas juga untuk penghantar sepatu agar lebih cepat,” jelasnya. Untuk jenis sepatunya sendiri, terdapat tiga jenis. Yakni boots, pantovel, dan cats.

Dalam proses pembuatan hingga jadi pengering sepatu, Bagus mengaku memiliki kendala yang cukup banyak dalam pengerjaannya. “kendalanya banyak, daya butuh lebih besar, pemantik (buat nyalain kompor) harusnya bisa nyala otomatis tapi kadang-kadang nggak bisa, pengkabelan yang rumit, kalau putus satu nyarinya susah. Sama ngatur agar nyalanya gantian, sering tidak setabil juga,” ujarnya.

Proses pengerjaannya pun membutuhkan waktu kurang lebih selama enam bulan, dan untuk merangkainya Bagus tak sendirian,melainkaan dibantu oleh dosen pembimbingnya, Harianto. Juga telah menghabiskan dana sebanyak Rp 3 juta, sekaligus telah uji coba berkali-kali untuk bisa riset.

Mesin pengering sepatu yang muat untuk tiga pasang sepatu ini, rupanya memiliki penambahan motode. “Penambahan metode yang digunakan PID. Sebenarnya tidak ingin pakai metode biar tidak rumit, tapi dosen pemimpin menyarankan menggunakan dua metode, yaitu PID dan power suply supaya dayanya stabil,” ucap Bagus.

Untuk kedepannya, mahasiswa semester akhir yang telah menyelesaikan tugas akhirnya ini ingin menaruh mesin ke kampus aja. Agar nantinya bisa dikembangkan oleh junior kampus. “Harapan saya semoga bisadikembangin lagi untuk mekanik dan penataan kabel agar tidak keliatan. Harusnya kabel tidak boleh keliatan, karena ini masih terlihat banyak kabelnya. Biar diteruskan sama adik-adik,” harapnya.

Harianto dosen pembimbing menambahkan, pengering sepatu ini membutuhkan waktu lama, terlebih saat hujan yang memungkinkan kesulitan untuk kering. “Dengan latar belakang itu, alat ini dibuat. Bahan bakarnya juga dari gas, karena panas dan watt-nya tinggi. Kalau secara itung-itungan dibandingkan listrik lebih mahal listrik. Kalau satu tabung gas 3 kilo bisa mengeringkan sampai 20 pasang sepatu dan waktu pengeneringannya satu jam lebih,” pungkasnya. (est/ano)

*Sumber : Cetak | Memo X | Head Line | Memo X Surabaya | Hal. 9 | Keringkan Sepatu Cukup 1 Jam