Kopa Kopi Bukan Cuma Rasa

by admin

KOPI bisa dibilang sebagai minuman paling fenomenal. Kopi tak hanya soal rasa, tapi banyak hal yang didapat darinya. Kopi kerap dikaitkan dengan nongkrong rame-rame, romantisme, hingga pemecah kebuntuhan di saat tak bisa lagi berpikir.

Melihat keunikan dari kopi ini, Kopa Kopi lebih memilih mengedukasi masyarakat tentang pentingnya merawat dan mempertahankan kualitas kopi.

Kopa Kopi didirikan oleh Boby Rivaldy Labang kurang lebih lima tahun silam, di Sleman Yogyakarta. Misi sosial dari Kopa Kopi adalah memberikan edukasi kepada para petani kopi agar kualias kopi tetap terjaga, terutama ke-higienis-an, pemeliharaan dan perawatan kebun kopi, hingga perilaku petani kopi.

Alumnus UPN Yogyakarta ini secara aktif mengampanyekan pentingnya kualitas kopi, baik kepada petani kopi maupun kepada masyarakat luas.

“Sebagian besar masyarakat kita suka kopi. Makanya, kita harus sama-sama menjaga kopi,” tutur pria yang lebih suka dianggap sebagai partner sharing daripada sebagai edukator para petani kopi ini pada paro Desember 2017 lalu.

Keprihatinan lajang berusia 28 tahun ini cukup beralasan karena banyak kopi yang diedarkan di pasar atau kafe sebenarnya diambil dari kopi yang sudah membusuk.

“Kopi yang paling baik diambil dari biji kopi yang berwarna merah,” ungkap pria berbadan subur ini. “Kopi yang sudah busuk memiliki rasa asam dan manis secara berlebihan. Sebaliknya, kopi yang baik adalah rasa asam dan manisnya seimbang,” tegasnya.

Sayang, dari hasil kampanyenya, sebagian besar masyarakat justru lebih memilih kopi yang terasa asam dan manis yang berlebihan. Mereka tidak tahu jika sebenarnya kopi tersebut diambil dari biji kopi yang busuk.

Untuk menjalankan misi sosialnya, Boby mengajak para petani kopi agar tidak menggunakan pupuk kimia dalam menanam kopi. Karena unsur kimia tidak hanya bisa merusak struktur tanah, tetapi juga mengurangi rasa kopi.

Memang dengan pupuk kimia, para petani kopi bisa memanen kopi lebih cepat. Dari segi komersial, hasilnya juga lebih banyak. Namun, bagi Boby perilaku ini justru akan merusak masa depan petani kopi itu sendiri.

Kendati demikian, aktivis kopi ini bukan berarti tanpa hambatan dalam mengedukasi para petani kopi. Banyak petani kopi yang bandel sehingga harus bersabar dalam mengedukasi.

Karena Boby yakin, semua yang dilakukan juga untuk keberlangsungan hidup petani kopi maupun masyarakat luas, khususnya pecinta kopi.

Sebagai tindakan nyata, Boby bekerjasama dengan para petani kopi di berbagai wilayah di Indonesia. Seperti di Kintamani Bali, Toraja, Aceh Gayo, Jawa Barat, dan sejumlah daerah lain.

Sebagian besar hasil panen para petani kopi itu dibeli Bobby untuk kemudian dijual kembali ke pasar maupun kafe setelah diolah di tempat tinggalnya.

Reportase MUHAMMAD BAHRUDDIN Dosen Institut Bisnis dan Informatika STIKOM Surabaya/pegiat literasi

*Sumber : Harian Surya | Citizen Reporter | Minggu, 28 Januari 2018 | Hal. 13