Lebaran dan Ekonomi Daerah

by admin

FENOMENA MUDIK Lebaran dan mudik dalam tradisi Indonesia sudah menjadi satu kesatuan. Mudik juga merupakan ekspresi dan komunikasi akan kesuksesan jika dilihat dari dimensi sosial. Lebaran adalah sebuah momentum yang pas untuk meng gambarkan cerita atau dongeng sukses di perantauan. Kesuk sesan tersebut tergambar dengan gaya hidup hedon, aksesoris, kendaraan dan lain­lain. Tidak se dikit dari mereka juga memberi uang “salam tempel” atau THR bagi sanak saudara. Sejumlah uang pun akan dibelanjakan di daerah. Triliunan rupiah akan mengalir deras sesaat ke daerah. Tradisi mudik yang sudah menjadi dialektika kultural sejak lama, pada akhirnya melahirkan anomali. Mudik mengindikasikan sebuah heteronomi kultural yang membuat tarik menarik para pemudik antara kultur daru dan kultur lama. Mereka telah lama hidup di kota, namun ikatan primordial yang sangat kuat. Membuat ikatan emosional mereka dengan desanya juga begitu kuat. Padahal seharusnya me reka sudah lebih mondial. Ini lah yang disebut anomali tersebut.

ALIRAN UANG KE DAERAH Anomali yang terlahir dari sistem sosial yang masiv juga akan melahirkan pula sisi positif. Dalam kajian keuangan di sebutkan There are two sided transactions: Each financial has at least two side. Artinya adalah setiap hal melahirkan dua sisi se kaligus. Jika mudik “mel a hirkan” anomali, maka ia pun “mela hirkan” benefit di sisi yang lain. Salah satu benefit yang dilahirkan adalah adanya kenaikan aliran uang ke daerah. Bahkan Bank Indonesia (BI) memprediksi ada peningkatan kebutu han uang kartal pada Lebaran 2018 ini. Tercatat cash outflow (aliran kas keluar) mencapai Rp 188,2 triliun. Angka tersebut lebih besar 15,3 persen dari tahun sebelumnya (2017) yang ‘hanya’ Rp 163,2 triliun. Kenaikan ini selain untuk kebutuhan selama Lebaran, juga memenuhi kebu  tuhan non tunai (flash, e­toll, e­money, dll). Jumlah tersebut akan berputar di dae rah, artinya ada capital flying dari kota ke daerah. Modal yang didapatkan di kota akan “melayang’ untuk berputar di dae rah. Pelaku bisnis pun sudah begitu hapal dengan trend ini, sehingga di daerah pun akan melahirkan pebisnis dadakan da lam momen Lebaran. Jumlah Rp 188,2 triliun ini setara dengan 3 kali lipat APBD Jatim 2018. Bisa dibayangkan masivitas bisnis di daerah dengan perputaran uang yang begitu besar. Sebaran uang untuk kebutuhan lebaran (meski hanya barang konsumsi) paling tidak mampu meng gerakkan ekonomi mikro daerah meski sesaat. Namun, jika ini disikapi sebagai sebuah start­up, harus ada momentum lain untuk men dongkrak ekonomi daerah. Selama ini memang pelaku pasar bergantung kepada momentum besar, yaitu Lebaran. Setelah Lebaran, pelaku bisnis musiman di daerah bersifat menunggu. Hal ini bisa disikapi dengan membangun bisnis yang berke lanjutan, bukan hanya sekadar musiman.

KETIMPANGAN DAERAH DAN KOTA Sisi benefit dari prinsip two sided transactions adalah aliran uang atau modal yang begitu besar. Namun, ia juga memberikan potensi kenaikan inflasi di suatu daerah. Modal atau uang yang mengalir ke daerah dibelanjakan untuk barang­barang yang sifatnya konsumtif. Karenanya juga sifatnya jangka pendek, beberapa di antara mereka membelanjakannya untuk barang kebutuhan yang sifatnya konsumsi. Hal ini meng a kibatkan permintaan untuk beberapa barang tertentu mengalamai kanaikan. Jika kenaikan permintaan ini tidak diimbangi dengan jumlah ketersediaan barang, maka hukum ekonomi pasar akan berlaku. Yaitu naiknya harga barang. Ke naikan harga barangini akan mengerek laju inflasi bulan berjalan. Kenaikan-kenaikan ini (baik kenaikan ekonomi, dan potensi laju inflasi daerah) berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi kuartal II. Hal ini karena Lebaran tahun ini jatuh bulan Juni yang notabene masih masuk kuartal II. Ratusan triliun modal yang masuk ke daerah pada tahun ini diperkirakan dibawa oleh 25 juta pemudik. Jika dirata­rata, tiap pemudik membawa pulang Rp 7,5 juta. Dengan melihat angka tersebut, potensi pembesaran perputaran keuangan di daerah selama libur Lebaran sangatlah tinggi. Gejala ini sebenarnya adalah sebuah implikasi ketimpangan ekonomi itu sendiri. Pusat kota terlalu masiv untuk ditinggalkan sebagai tambang uang. Sementara daerah baru akan menikmati aliran dana tersebut hanya setahun sekali ketika musim lebaran. Namun, jika sebaran uang yang masuk ke daeran digunakan bukan untuk barang konsumtif. Melainkan untuk penambah modal usaha, ekonomi daerah akan terus meningkat.

BERLAKU BIJAK Aliran uang yang begitu besar seharusnya bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih produktif. Pelaku bisnis musiman masa Lebaran memang berpotensi membantu menaikkan pertumbuhan pada kuartal II. Namun dari sisi individu kita sendiri, momentum Lebaran bukan saja pesoalan mudik dan menhabiskan THR. THR yang kita terima harus mampu menambah aset modal kita. THR ti dak harus kita habisnya semuanya, namun sisihkan paling tidak 30 persen dari total peneri maan untuk modal kerja atau usaha. Paling tidak cukup menambah aset investasi berupa tabungan dalam instrumen keuangan. Selain menambah aset investasi dari pendapatan THR, tak kalah penting adalah menyelesaikan ke wajiban jangka pendek. Penyelesaian kewajiban jangka pendek ini terkait utang yang akan jatuh tempo. Kenapa hal ini lebih penting?  Pengurangan beban kewajiban jangka pendek (utang jatuh tempo) akan lebih meringankan pada periode berikutnya. Perilaku konsumtif di musim Lebaran memberikan potensi besar pengeluaran tak terkendali dalam keluarga. Pengeluaran tanpa kendali tersebut akan menjadi awal bencana keuangan di bulan berikutnya. (Penulis adalah dosen FEB Stikom Surabaya)

*Sumber : Cetak | Radar Surabaya | Komunitas-Horizon | Edisi Minggu, 27 Juni 2018 | Hal. 4