Lebih Mudah dengan MoLearn

by admin

Tahun Ini Sistem Pembelajaran Itu Diterapkan di Surabaya

Surabaya, Surya – Empat dosen Stikom Surabaya menciptakan aplikasi Mobile Learning (MoLearn). Terciptanya aplikasi tersebut tak lain karena mereka ingin menjawab solusi kebutuhan teknologi untuk dunia pendidikan.

Keempat dosen itu adalah Dewiyani Sunarto, Bambang Hariadi, Tri Sagirani, dan Tan Amelia. MoLearn berbasis website dan mobile apps.

Adapun Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi dan Geografi di Surabaya akan menerapkan aplikasi itu mulai tahun ini. Aplikasi itu memberi akses kepada guru untuk mempublikasikan materi yang ditentukan MGMP.

Selain itu, melalui MoLearn, guru juga bisa memberikan tugas, penilaian hingga ujian kepada siswa. Penggunaan MoLearn juga dianggap memudahkan guru dalam sistem pengadministrasian dan evaluasi pembelajaran.

Guru bersama MGMP tinggal mengupdate konten di dalam website. Update konten bisa berupa materi, tugas, evaluasi, dan nilai siswa.

Dewiyani Sunarto menjelaskan, secara spesifik aplikasi itu diharapkan mampu memberi solusi kebutuhan belajar bagi generasi digital native yang sudah terbiasa dengan teknologi, khususnya media Digital. Di dalam MoLearn memuat tiga aspek penting pembelajaran.

Pertama, standarisasi materi pembelajaran yang terpusat melalui MGMP. Guru menyiapkan materi dan siswa bisa langsung mendownloadnya melalui aplikasi.

“Kedua, ujian online juga disediakan oleh MGMP. Melalui aplikasi ini, MGMP mengupload materi ujian sebagai bank soal termasuk dalam hal penentuan jadwal ujian. Guru tinggal memilih soal mana saja yang akan digunakan dalam ujian,” jelasnya pada Surya, Sabtu (22/7).

Selanjutnya, siswa bisa langsung melihat secara online jadwal ujian, siswa juga mengerjakan soal melalui aplikasi secara online dan dalam waktu bersamaan hasil ujian bisa dilihat guru secara langsung.

Untuk jenis soal, kata Dewiyani, ada tiga macam. Yakni, multiple choice, multiple answer, dan essay. Untuk essay, guru harus tetap menilai secara manual.

“Terakhir tugas-tugas siswa bisa langsung di upload ke MoLearn agar guru bisa menilai secara langsung tanpa harus tatap muka,”  bebernya.

Bambang Hriadi menambahkan, MoLearn bisa menerapkan standarisasi mutu pembelajaran, supporting proses pembelajaran, personal, menumbuhkan kemandirian, dan kedisplinan siswa. Fitur dalam MoLearn juga cukup lengkap, mulai dari pengelolaan data, materi pembelajaran, tugas, ujian, diskusi, dan mutasi.

“Kelebihan lain dari aplikasi ini adalah mampu melakukan pengukuran secara efektif pada proses pembelajaran karena menggabungkan metode inquiry dengan dukungan teknologi yang saat ini sedang diminati oleh remaja usia SMA,” tuturnya.

 

Memudahkan Guru-Siswa

Pihak Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim akan menggunakan aplikasi itu dalam sistem pengajaran tahun ini. Namun, baru diterapkan untuk MGMP Biologi dan Geografi.

Kepala Seksi Kurikulum Pendidikan Menengah Dindik Jatim, Eka Ananda mengatakan itu usai peluncuran MoLearn di kampus STIKOM, Sabtu (22/7). Menurutnya, pentingnya menerapkan pembelajaran menggunakan teknologi seperti itu untuk mempermudah dan mempercepat capaian mutu guru dan siswa. Di SMA, ada 21 pelajaran sehingga membutuhkan penyesuaian guru dan siswa secara bertahap, apalagi pemahaman teknologi antara guru dan siswa rentangnya cukup jauh.

“sistem pembelajaran yang berbasis teknologi seperti ini juga bisa diajukan untuk menjadi percontohan nasional,” lanjutnya.

Mengenai rencana perluasan pembelajaran berbasis teknologi ini, katanya, tidak akan menjadi masalah di daerah. Selain semua siswa sudah memiliki bekal ponsel pintar, diharapkan nantinya bisa juga menghemat kertas.

Letua MGMP Biologi Surabaya, Budi Santoso menyambut baik penerapan aplikasi itu karena pembelajaran saat ini membutuhkan teknik baru. Apalagi gadget menjadi barang wajib dibawa siswa.

“Tidak hanya siswa, guru juga bisa mengoreksi dan memberi nilai siswa hanya melalui handphone,” ungkap guru Biologi SMAN 21 ini.

Hal ini tentunya akan membantu guru untuk memenuhi tugas mengajarnya. Sebab, untuk mengajar selama 24 jam dalam seminggu, guru membutuhkan waktu lebih banyak lagi untuk menyiapkan materi dan mengevaluasinya. (ovi)

Sumber: Harian Pagi Surya / Tunjungan Life / hal. 9

Minggu, 23 Juli 2017