Listya Sidharta, Sosok di balik Pendirian Museum Teknologi Informasi Stikom Replika Batu Petroglif Dibuat Office Boy

by admin

Museum Teknologi Informasi (Teknoform) di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya resmi diluncurkan pada Selasa (28/11). Siapapun bisa berkunjung pada Senin-Jumat. Ada cerita sendiri dibalik pendirian museum yang berlokasi di kampus Stikom tersebut.

PUJI TYASARI

Gambar tentang sistem rangka terpasang rapi dalam sebuah pigura. Sesuai namanya, sistem rangka itu menunjukkan perkembangan angka. Konon, sekitar 100 Masehi, sistem angka 1-9 diciptakan oleh orang India, Aryabhata, dari Kusumapura. Namun, angka 0 baru tercipta 775 tahun kemudian. Yakni, pada 875 oleh Brahmagupta.

Seiring dengan terciptanya angka, alat hitung pun dibuat. Alat hitung menjadi cikal bakal alat pengolah informasi. Model paling populer kala itu adalah abacus atau sempoa. Sempoa menjadi alat hitung yang sering digunakan di Eropa, Tiongkok, dan Rusia. Dari sempoa, teknologi berkembang menjadi Pascaline.

Yakni, mesin aritmatik yang diciptakan Blaise Pascal, seorang filsuf asal Prancis.

Sistem angka sempoa, dan Pascaline itu menjadi sebagian kecil saja benda yang dipamerkan di Museum Teknoform, Stikom. Ya, museum itu memeberikan pengalaman tersendiri bagi siapa pun yang berkunjung.

Museum tersebut terbagi atas dua bagian. Begitu masuk pengunjung akan disuguhi perkembangan teknologi informasi dari masa ke masa. Mulai era premekanikal (3000 SM-145), era mekanik (1950-1840), era elektromekanikial (1840-1940), hingga era elektronik (1940-sekarang). Adapun gambaran tentang lima generasi komputer digital.

Menapak sedikit sekitar tiga anak tangga pengunjung dimanjakan dengan perkembangan komputer dari masa ke masa. Termasuk berbagai peranti input dan output komputer, maupun media penyimpanan file. Koleksi paling terbaru teknologi game pada 2006, yakni Nitendo Wii, juga dipamerkan. Ada juga teknologi networking untuk jaringan komputer, Mifi, pada 2010.

Rencana pendirian Museum Teknoform itu ternyata bukan satu atau dua tahun saja. Museum tersebut sudah lama digagas dan direncanakan untuk mewujudkan. Namun, tampaknya rencana itu sempat menguap atau terkubur begitu saja. Tapi, bukan Listya Sidharta namanya jika membiarkan rencana pendirian museum itu sekedar wacana.

Ya, sosok di balik pendirian museum tersebut adalah Listya Sidharta. Perempuan yang mendapat amanah sebagai ketua Yayasan Putra Bhakti Sentosa lembaga yang menaungi Stikom itu memang tak putus asa dalam mewujudkan impiannya.

“Ide muncul sudah lama. Beberapa tahun lalu. Tapi, terkubur, lupa,” ujarnya. Pada Januari 2017, ide itukembali terlintas. Listya pun tak ingin hanya memikirkannya. Dia berupaya untuk merealisasikannya. “Saya terpacu,” katanya.

Alumnus Stikom angkatan 1987 tersebut prihatin melihat komputer-komputer lama. Kadang komputer jadul itu teronggok begitu saja di meja. Kadang juga terpajang di tempat barang antik, bahkan gudang. Dia juga menyayangkan tidak banyak generasi muda yang mengenal komputer-komputer lama. Juga alat-alat teknologi lain yang lebih dahulu ada.mereka kurang mengenal asal-usul berbagai piranti teknologi yang saat ini berkembang. “Kok sayang (mereka tidak tahu). Sekarang serba-instan,” katanya. Saat ini berbagai perantai teknologi itu serbamini. Meski begitu, kapasitasnya besar. Ukurannya bisa mencapai gigabyte, bahkan terabyte. Padahal dulu, fisik komputer, bisa jadi, sebesar ruangan. Namun, kapasitasnya tidak sebesar ukurannya.

Perkembangan-perkembangan seperti itulah yang menggelitik Listya untuk menyajikannya kepada masyarakat. “Supaya masyarakat jadi tahu dan bisa belajar,” tururnya.

Listya pun bersemangat untuk mewujudkannya dalam sebuah museum. Dia ingin generasi muda dan generasi masa depan bisa ngeh dengan perkembangan teknologi. Apalagi, membuat subuah komputer dari masa ke masa tidak instan. Butuh riset atau penelitian yang mendalam.

Melalui riset, kata dia, intelektualitas pun terpacu. Dari percobaan satu ke percobaan lain, tentu ada inovasi yang dihasilkan. Perempuan kelahiran Surabaya itu pun tergerak untuk mendorong generasi muda agar semakin sering meriset. Juga menghasilkan suatu penemuan.

Setidaknya ada lebih dari 150 jenis koleksi yang dipamerkan di Museum Teknoform. Dari zaman menikal hinga zaman digital saat ini. Listya ingin siapapun yang berkunjung bisa napak tilas. Mendapatkan informasi langsung tanpa sekedar browsing di internet. “Kalau di museum kan ada bendanya, kilihatan kasatmata,” jelasnya.

Listya mengatakan, untuk mengempulkan koleksi museum, memang butu perjuangan. Tak jarang Listya harus “meminta-minta” kepada banyak orang yang dikenalinya. Sebelum meminta, dia punya bayangan benda apa yang sedang dicarinya.

Batu petroglif, misalnya. Istri almarhum pakar DNA Prof Dr dr Indrayana Notosoehardjo SpF DFM itu meminta office boy (OB) Stikom untuk membuat replikanya. Batu yang permukaannya berisi ukiran gambar tersebut dibentuk dari semen.

Batu petroglif kerap berkaitan dengan masyarakat prasejarah. Terkait pembuatan replika batu itu, Listya mengetahui persis kemampuan seni OB ynag dipercayainya. “Kalau replika kan memang tidak harus asli. Yang penting pesannya. Tidask mungkin juga neteli gua,” ujarnya, lalu tertawa.

Pencarian Listya tentang koleksi tentang museum terus dilakukan. Setiap kali bertemu teman, saudara, dan kenalan, dia selalu meminta tolong. Terutama jika memiliki benda-benda yang  berkaitan teknologi informasi untuk bisa disumbangkan. Termasuk peranti-peranti teknologi yang memang sudah tidak terpakai.

Di antara sekian banyak koleksi museum, perempuan 67 tahun itu mengaku bahwa sabak batu tulis merupakan item yang paling susah dicari. Dia mencari sabak ke banyak tempat. Bahkan hingga ke Bali. Namun, dai tak mendapatkannya.

“Akhirnya saya dapat di Surabaya, ketika ada pameran literasi di HOS (House of Sampoerna),” jelasnya. Listya pun melobi untuk bisa mendapatkannya.

Beberapa item koleksi laindidapatkannya, dari Amerika. Terutama yang berkaitan dengan teknologi komputer. Yakni, modul komputer IBM 701.

Modul yang merupakan sebagian kecil dari komputer yang sebenarnya itu memang tak dijampai di Indonesia. Listya mengaku tidak mendapatkannya sendiri. Melainkan, ada bantuan dari dosen Stikom, di Amerika. “Dapatnya dari vintage store yang ada di sana. Koleksi disket 8 inci juga dari Amerika,” tambahnya.

Ada juga koleksi lain seperti mesin hitung dan radio yang didapatkannya dari pameran di sebuah pusat perbelanjaan Surabaya. Total, Listya melengkapi koleksi museumnya dalam waktu sembilan bulan. Dia juga melengkapi identitas koleksinya dengan barcode yang bisa diakses melalui aplikiasi ponsel.

Koleksi paling tua adalah Addiator tahun 1920. Mesin kalkulator itu digunakan untuk menjumlah, mengurangi, membagi, dan mengalihkan bilangan. Listya mendapatkannya dari seorang teman. “Masih berfungsi. Saya belajar mengoprasikannya dari internet,” terangnya.

Perempuan empat cucu tersebut berharap museum bisa menjadi pusat belajar. Bisa menambah wawasan dan pengetahuan. “Kalau bisa, mindset pusat pembelajaran IT itu ya di Stikom.” Ujarnya.

Di bidang pendidikan, Listya memang tak ingin main-main. Dia tak segan untuk menempuh studi S-1 ketiak usianya 30 tahun.

Ya, lulus SMA, Listya memilih kursus. Lalu bekerja. Di tengah pekerjaannya yang memang berkaitan dengan teknologi informasi, Listya menambah ilmunya. “Saya kuliah S-1 di Stikom, dapat dukungan dari rekan-rekan untuk kuliah,” kenangnya.

Terkait museum Teknoform, Listya ingin museum tersebut bisa memberi manfaat. Sempat ada usulan dengan nama museum mini, namun Listya kurang sepakat. “Karena kalau mini, kapan maksinya. Pasti ,mindset­-nya terus mini, saya tidak mau,” ujarnya.

Ke depan, peluang untuk memperluas area museum tentu terbuka lebar. Sebab, setelah pembukaan beberapa hari lalu, tawaran tambahan koleksi pun kian banyak. (els) 

 

*Sumber : Cetak Jawa Pos | Edisi Senin 4 Desember 2017 | Metropolis |Hal. 21 dan 31