Lumbung Suara Khofifah-Emil

by admin

Jakarta – Pasangan calon gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak bisa dikata cukup menakutkan bagi lawannya. Apalagi calon wakil gubernur Azwar Anas yang sedianya berpasangan dengan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) tiba-tiba mengundurkan diri dengan alasan mendapat ancaman dari pihak lawan. Foto-foto syur masa lalu Anas bakal di-ler di tengah-tengah masyarakat. Tentu peristiwa ini sekaligus menjadi “berkah” bagi pasangan Khofifah-Emil.

Kuatnya pasangan ini tampak dalam hasil survei Lembaga Surabaya Survei Center (SSC) yang dirilis pada Rabu (13/12) lalu yang menyebut pasangan Khofifah-Emil mendapat 33,9 persen suara, sedikit di bawah Gus Ipul-Anas yang mengantongi suara 36,2 persen. Bahkan, Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur, Maskur mengklaim bahwa dari hasil survei pemilihan gubernur (Pilgub) Jatim pada Desember 2017, pasangan Khofifah- Emil mendapat 33,3%. Sedangkan Gus Ipul-Anas berada di bawahnya dengan jumlah suara 26,7 %.

Hasil survei ini tentu dapat dijadikan sebagai modal besar bagi pasangan Khofifah-Emil untuk melenggang ke kursi empuk nomor satu di Jawa Timur. Namun demikian, Khofifah-Emil harus benar-benar memahami posisinya saat ini. Ibarat sebuah lumbung yang penuh dengan padi, pasangan ini tinggal mengemas bagaimana padi itu menjadi nasi, tepung beras, bubur, atau bahkan dijual di penguyangan (tengkulak padi) untuk mendapat uang yang banyak.

Ada tiga kekuatan yang bisa dijadikan sebagai lumbung suara Khofifah-Emil dalam pilkada 2018 nanti.

Suara Khofifah adalah Suara Muslimat dan Perempuan

Semua warga NU Jatim, khususnya ibu-ibu, tahu bahwa khofifah adalah ketua muslimat NU yang selama ini bisa ngemong mereka. Kepemimpinannya nyaris tanpa celah. Karena itu tak berlebihan jika Khofifah dianggap sebagai ibu mereka. Khofifah dianggap mampu memimpin organisasi perempuan di bawah naungan Nahdatul Ulama itu dari segala aspek, tidak hanya rajin menggelar pengajian kubroan hingga di pelosok-pelosok desa sebulan sekali, tapi juga dianggap paling berjasa dalam kemajuan Muslimat NU, terutama di Jatim. Misalnya, pengelolaan lembaga pendidikan dan rumah sakit yang terpampang nyata di masyarakat.

Tentu sebagai anak yang baik dan shalihah, para perempuan NU di Jawa Timur itu tahu balas budi kepada orangtuanya, jika tak ingin disebut sebagai anak yang durhaka. Ini bukan membual. Karena, ketua Pimpinan Muslimat NU Jatim Masruroh Wahid sendiri telah mencanangkan bahwa muslimat NU Jatim tidak akan pernah pindah ke lain hati sampai kapan pun. Komitmen dan kesetiaan mereka tak akan pernah diragukan lagi. Menurutnya, seluruh pimpinan dan massa di cabang yang berjumlah 43 cabang sampai tingkat ranting, semua telah berkomitmen untuk memenangkan ibu mereka di Pilgub Jatim.

Jelas, komitmen ini perlu digarap serius oleh tim pemenangan Khofifah-Emil. Di sisi lain, secara personal branding Khofifah nyaris tanpa cacat selama berkiprah sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur maupun Menteri Sosial era Jokowi. Bahkan Yusuf Kalla pun mengakui bahwa Khofifah adalah tipe pekerja keras, dan bisa dibilang tak pernah tersandung masalah. Rekam jejak ini tentu menjadi modal dasar Khofifah untuk maju sebagai seorang gubernur. Ingat, Jawa Timur belum pernah mencatat sejarahnya dipimpin oleh gubernur perempuan. Ini juga bisa menjadi amunisi Khofifah untuk menaklukkan lawannya.

Emil Dardak Representasi Milenial

Data dari Lembaga Konsultan Politik IT Research Politic Consultant (IPOL) Indonesia menyebutkan, dari 38,85 juta jiwa penduduk Jatim, ada sebanyak 17,1 juta kelompok usia produktif yang masuk kategori pemilih rasional. Nah, dari jumlah tersebut, sebanyak 37,68% atau 14.506.800 peserta pilkada Jatim adalah anak muda. Mereka adalah generasi milenial yang akrab dengan teknologi dan gadget sebagai media informasi.

Usia Emil yang terbilang cukup muda, 33 tahun, adalah bagian dari generasi itu. Potensi ini harus bisa dimanfaatkan Emil bahwa generasi milenial adalah ceruk pasar sangat potensial untuk mendulang suaranya. Seperti yang sudah banyak ditulis media, generasi milenial yang lahir pada 1981-1994 itu akan menjadi rebutan para calon gubernur. Karena itu, untuk menaklukkannya, Emil harus mampu bertarung di dunia maya dengan lawannya.

Ciri utama generasi milenal adalah kritis dan selalu menganalisis sebelum menentukan pilihan. Mereka tidak mau didikte. Mereka selalu ditemani gadget untuk mencari kebenaran versi mereka melalui internet, termasuk rekam jejak calon pemimpin yang akan mereka pilih. Oleh karena itu, memahami mereka adalah mutlak. Emil tak akan menemui kesulitan berarti untuk masuk ke sana karena dia sendiri bagian dari mereka. Tantangannya, bagaimana dia mampu mengungguli lawannya dalam memanfaatkan internet sesuai kebutuhan anak-anak muda.

Pesona Arumi Bachsin

Keuntungan dari pasangan ini adalah hadirnya Arumi Bachsin. Kehadiran Arumi bisa dijadikan sebagai lumbung suara ibu-ibu dan kaum perempuan muda yang doyan nonton gosip di televisi, atau gemar ‘mantengin’ lambe turah. Mereka akan dengan sukarela menyerahkan suaranya kepada Arumi yang dikenal sebagai artis cantik tanah air. Ini bukan tanpa alasan, karena pesona seorang artis masih menjadi jamu paling mujarab untuk mendulang suara, termasuk di Jawa Timur.

Tengok saja artis dan model Arzeti Bilbina. Meskipun Arzeti menempati urutan ketiga di bawah Saikhul Islam dan Imam Nahrowi dalam pemilihan calon legislatif Dapil 1 Jawa Timur (Surabaya-Sidoarjo), namun suaranya terbilang cukup besar yaitu 50.386 suara. Pembalap Moreno Suprato juga memperoleh suara yang signifikan dengan angka 52.921 suara untuk Daerah Pemilihan Jawa Timur V (Malang Raya) di bawah bendera Partai Gerindra. Konon suara ini merupakan tertinggi di antara caleg-caleg Gerindra yang lain.

Demikian juga dengan musisi dan penyanyi Anang Hermansyah yang maju sebagai caleg DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN) daerah pemilihan Jawa Timur IV (Jember dan Lumajang). Mantan suami Krisdayanti ini memperoleh suara tertinggi yaitu 37.439 suara. Angka ini bahkan mengungguli suara partainya sendiri yaitu 15.822 suara.

Nah, dari fakta-fakta tersebut, sebagai artis atau public figure yang kerap nongol di televisi khususnya program gosip, kehadiran Arumi Bachsin akan mampu menarik suara sebesar-besarnya. Sekalipun dia hanya sebagai istri dari calon wakil gubernur, ‘bonus’ ini bisa dimanfaatkan misalnya, dijadikan juru kampanye Khofifah-Emil, atau minimal selalu menemani Emil setiap melakukan safari atau kampanye di daerah-daerah. Dijamin para perempuan dan ibu-ibu akan kebat-kebit hatinya melihat idola mereka yang selama ini hanya bisa dilihat di televisi. Apalagi jika Arumi tiba-tiba nongol saat mereka belanja di pasar, atau saat mereka bekerja di pabrik atau perkantoran.

Tak hanya dijadikan sebagai lumbung suara perempuan, Arumi juga berpotensi menarik suara para lelaki. Senyum memesona Arumi diyakini mampu meruntuhkan hati kaum Adam. Karena itu, untuk memaksimalkan potensi atau ‘bonus’ itu, setidaknya Arumi bisa dijadikan sebagai salah satu jubir kampanye Khofifah-Emil. Jika masih terkesan malu-malu, Arumi bisa menjadi pendamping setia emil saat memaparkan janji-janji kampanyenya di seluruh wilayah Jatim.

Meski demikian, potensi-potensi yang ada dalam diri Khofifiah-Emil ini tak akan bisa tersalurkan dengan baik jika pasangan ini tak sungguh-sungguh menggarapnya. Pasangan Khofifah-Emil bisa seperti tikus yang mati dalam lumbung yang penuh dengan padi.

Muhammad Bahruddin dosen Media dan Komunikasi di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya, sedang menempuh S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia

*Sumber : https://news.detik.com/kolom/d-3806345/lumbung-suara-khofifah-emil

Edisi Selasa, 09 Januari 2018.