Mahasiswa Asing Mengajar Sekaligus Belajar

by admin

LEBIH SERU: Dari kiri, Shirlene, Karol, Charlotte, Seli Adelia Putri, Wang Lu, dan Tsvetelina dalam sesi pelajaran bahasa Inggris di SMP Raden Paku kemarin.

LEBIH SERU: Dari kiri, Shirlene, Karol, Charlotte, Seli Adelia Putri, Wang Lu, dan Tsvetelina dalam sesi pelajaran bahasa Inggris di SMP Raden Paku kemarin.

SURABAYA – Lima mahasiswa dari berbagai kampus di dunia merasakan pengalaman mengajar di SMP Raden Paku kemarin (9/8). Mereka datang di sekolah kawasan Surabaya Timur tersebut sejak 18 Juli. Mereka masih akan mengajar hingga 28 Agustus dalam rangkaian program AIESEC Surabaya.


Lima mahasiswa itu adalah Tsvetelina Yancheva, Shirlene Chow, Wang Lu, Karol (Xie Youkai), dan Charlotte Bakker. Mereka merupakan para mahasiswa dari Utrech University, Guangdong University of Finance and Economic, Northeast Normal University (NENU), dan Maastricht University. Jurusan studi mereka juga beragam. Ada yang studi politik internasional, ekonomi, bisnis ekonomi internasional, dan sastra Jepang. Ada juga yang dari fakultas kedokteran.
Di sekolah tersebut, mereka mengajar bahasa Inggris. “Para guru” itu terbagi dalam dua kelompok. Di tiap kelompok ada 2-3 orang. Mereka mengajar bergantian di kelas VII, VIII, dan IX. Mereka tidak hanya mengajar di sekolah, tetapi juga di panti asuhan dan sanggar belajar. Bahkan, mereka juga belajar menari Remo pada Jumat dan Sabtu.
Banyak kendala saat mengajar yang ditemui selama berinteraksi bersama siswa. Terutama kendala bahasa. “Saya tidak terlalu paham keinginan mereka (siswa, Red). Bahasa juga tidak tahu. Tapi, setelah berjalan, saya menyukai mereka,” kata Charlotte yang merupakan mahasiswa semester V Fakultas Kedokteran Maastricht University tersebut.
Kini Charlotte sudah memiliki beberapa kosakata bahasa Indonesia. Antara lain, bule, batuk, dan waalaikumsalam. “Anak-anak senang ketika saya bisa menirukan,” jelasnya.
Ketimbang rekan-rekannya, Lina termasuk pengajar yang lebih tegas. Suasana kelas tetap dijaga sesuai materi yang diajarkan. “Supaya murid bisa menghargai gurunya,” ucapnya.
Sementara itu, Shirlene menjumpai kebudayaan yang beragam selama mengajar di SMP Raden Paku. Bagi mahasiswa Guangdong University of Finance and Economic tersebut, dirinya bisa mengenal beberapa kosakata baru bahasa Indonesia. Dia juga mengenal budaya, bahasa Jawa, ibadah salat, dan lagu dangdut.
Sementara itu kerjasama dalam bentuk sister city antara Pemkot Surabaya dan Kota Busan Korea Selatan terlihat pada kegiatan di Institut Bisnis danInformatika Stikom Surabaya kemarin (9/8).
Pada kesempatan itu, mahasiswa universitas Dong Eui membawakan tiga penampilan. Yaitu, musik tradisional Orea Samulnori, menyanyi dan menarikan lagu k-pop yang sedang hits saat ini, serta unjuk gigi Taekwondo. Sedangkan, nahasiswa Stikom menampilkan Tari Bang-Bang Wetan khas Jawa Timur, paduan suara, dan silat Merah Putih.
Kasi Sarana dan Prasarana Bidang Pendidikan Menengah dan Kejuruan Dinas Pendidikan Surabaya Sigit Priyo Sembodo mengatakan, mahasiswa Dong Eui University itu juga akan berkujung ke Unesa. Selain itu, mereka juga akan ke SMAN 3, SMAN 19, dan SMKN 5 Surabaya. Tujuannya memberikan tambahan pelajaran meliputi, Taekwondo, bahasa, budaya, dan IT. (puj/ant/c20/nda)

*Sumber: Jawa Pos | Edisi 10 Agustus 2016 | Pendidikan Hal. 28