Mahasiswa Stikom Buat Sarung Tangan Tuna Rungu dan Robot Pendeteksi Gas

by admin

Edo Aliffandhiarto, mahasiswa program studi S1 Sistem Komputer Stikom Surabaya, membuat sarung tangan yang mampu menangkap gerakan jari. Foto: humas Stikom Surabaya.

Edo Aliffandhiarto, mahasiswa program studi S1 Sistem Komputer Stikom Surabaya, membuat sarung tangan yang mampu menangkap gerakan jari. Foto: humas Stikom Surabaya.

Laporan J. Totok Sumarno | Kamis, 20 Oktober 2016 | 18:48 WIB
suarasurabaya.net
– Dua mahasiswa Stikom Surabaya hasilkan karya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, Sarung Tangan dengan sensor flex untuk tuna rungu dan Robot pendeteksi kebocoran gas.

Terinspirasi masih banyaknya masyarakat yang tidak paham dan mengenali bahasa isyarat yang biasa digunakan tuna rungu, Edo Aliffandhiarto, mahasiswa program studi S1 Sistem Komputer Stikom Surabaya, membuat sarung tangan yang mampu menangkap gerakan jari.

Gerakan jari yang biasa digunakan para tuna rungu untuk berkomunikasi dengan sesamanya itu melalui sarung tangan karya Edo diterjemahkan menjadi abjad.

Sehingga gerakan isyarat jari tersebut dapat dipahami mereka yang tidak tuna rungu atau yang tidak paham bahasa isyarat jari.

Cara kerja sistem karya Edo ini dibuat untuk mempermudah tuna-rungu saat berkomunikasi dengan masyarakat menggunakan bahasa isyarat yang dapat divisualisasikan menjadi abjad yang ditampilkan ke layar LCD.

Dengan menggunakan sarung tangan buatan Edo, tuna rungu hanya perlu mengerakkan jari sesuai dengan bahasa isyarat abjad dan sensor flex menghasilkan resistensi dari lengkungan yang dilakukan oleh jari yang diterjemahkan menjadi huruf atau abjad tertentu.

“Semoga ke depan melalui prototype tugas akhir ini dapat dikembangkan. Karena dari hasil akhir karya ini ada beberapa huruf yang masih belum dideteksi sensor flex yaitu huruf J dan Z,” kata Edo.

Dan untuk mendapatkan kedua abjad itu harus digunakan sesnsor jenis lain yaitu sensor accelerometer untuk mendeteksi pergerakan tangan agar dapat di baca oleh arduino uno dan ditampilkan ke layar atau LCD.

“Dan semoga alat dan aplikasi ini bisa dikembangkan lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Serta pengembangannya bisa diaplikasikan ke berbagai macam device dan gadget,” pungkas Edo Aliffandhiarto.

Sementara itu, Muhamamd Chalim mahasiswa program studi S1 Sistem Komputer Stikom Surabaya, terinspirasi sekaligus mencoba mencari solusi terhadap kebocoran gas pada industri kimia.

Robot yang diciptakan Muhammad Chalim dirancang sedemikian rupa dapat dengan mudah mendeteksi gas mudah terbakar. Teknologi yang digunakan komunikasi berbasis Bluetooth Hc-05.

Robot dikendalikan secara manual menggunakan joystickyang terkoneksi dengan mikrokontroler atmega 32A melalui bluetooth.

Mikrokontroler atmega 32A berfungsi sebagai pengatur data masukan, data keluaran dan komunikasi pada robot. Data masukan robot berupa data dari sensor gas MQ-4,MQ-2, sensor jarak (Infrared), dan tombol joystick.

Robot ini masih sebatas prototype sehingga perlu pengembangan lebih lanjut. Pengembangan yang dapat dilakukan diantaranya adalah prototype ini bisa dikendalikan jarak jauh menggunakan device android dan bisa memberikan informasi lebih detail terkait bahan atau gas yang terdeteksi.

“Keterbatasan waktu serta kebutuhan waktu riset yang lebih panjang menjadi kendala yang membatasi kesempurnaan alat ini,” kata Alim sapaan Muhammad Chalim.

Dari karya prototype ini diharapkan masih dapat dikembangkan sehingga perangkat ini mampu mendeteksi jenis gas yang lebih banyak, bahkan bila perlu mampu melacak bahan bom yang menjadi lebih akurat dan aman.(tok/rst)

Editor: Restu Indah