Mahasiswa Stikom Ciptakan Alat Pendeteksi Jantung Elektronik

by admin

Alat Periksa Jantung

Eka Sari Oktarina (dua dari kiri) menunjukkan cara kerja alat pendeteksi jantung elektronik.

Senin, 13 April 2015 02:35

SURABAYA (BM) – Penyakit jantung merupakan salah satu jenis penyakit mematikan selain kanker, diabetes, dan gagal ginjal. Belakangan ini, kasus meninggal mendadak akibat serangan jatung tidak hanya dialami oleh orang tua. Mereka yang masih muda dengan fisik segar bugar pun kerap juga mengalami.

Apalagi, temuan sejumlah peneliti menyebutkan, resiko serangan jantung pada usia di bawah 65 tahun sebesar 18 persen dan 10 persen terjadi pada usia di bawah 45 tahun.

Sebagai antisipasi adanya potensi penyakit jantung terhadap seseorang, mahasiswa S1 Jurusan Sistem Komputer di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (STIKOM) Surabaya membuat alat pendeteksi jantung elektronik. Meski masih dalam bentuk prototype, namun alat ini sudah bisa digunakan untuk mendeteksi sinyal denyut jantung sekaligus mentranfer data dalam bentuk grafik di komputer.

Eka Sari Oktarina, mahasiswa yang membuat inovasi ini menerangkan, alat sensor detak jantung yang memanfaatkan jaringan wireless tersebut dibuat seefisien mungkin. Tujuannya memudahkan dokter dan menjaga privasi pasien yang hendak diperiksa. “Mungkin selama ini orang sungkan membuka sedikit bajunya saat ditempeli stetoskop. Apalagi kalau dia perempuan, diperiksa dokter laki-laki,” ungkap dara kelahiran 4 Oktober 1991.

Faktor jarak, alat, biaya dan banyaknya jumlah pasien menjadi kendala tersendiri sehingga Eka ingin membuat alat yang mampu mengirim data serempak dari beberapa pasien pada dokter yang menangani.

Kelebihan alat itu adalah dimensinya yang mungil dan hanya butuh tenaga listrik 5 volt. Sehingga praktis bisa dibawa kemana saja.
Mengadopsi teknologi wireless sensor netwok (WSN) yang bekerja memancarkan gelombang radio melalui alat semacam stetoskop. “Cara kerjanya sederhana, alat sensor stetoskop diletakkan pada jantung pasien yang secara otomatis menghasilkan data. Data tersebut diolah mikrokontroler kemudian ditampilkan pada komputer 1 yang dipegang suster (layar terminal pengukur jantung),” beber Eka.

Tak lama, data itu akan mentranfer otomatis melalui sinyal pemancar radio yang bisa membaca gambar grafik denyut jantung pada komputer 2 yang dipegang dokter (layar penerima sinyal jantung). Software yang dipakai menggunakan bantuan microsoft visual basic. Radiusnya pemancar radio bisa menempuh jarak 40 meter di dalam ruangan, 100 meter bila di luar ruangan.

Namun masih ada kelemahan dari alat ini. Eka menyebut lazimnya sinyal gelombang radio, akan berkurang daya pancarnya jika membentur tembok atau material non logam lainnya. “Pengaruh tembok pembatas membuat sinyal melemah, sehingga masih ada ganguan pada gelombang radio,” ujar peraih IPK 3.86 itu.

Namun alat yang dibuat selama 6 bulan ini, punya keunggulan lebih di banding kompetitornya. Yakni pasien tak perlu khawatir terjadi kesalahan data yang diterima dokter. “Data yang dikirim ke komputer dokter itu, antara pasien satu dengan lainnya diberikan ID khusus. Sehingga akan terlihat jelas perbedaannya,” ungkap Dr Jusak pembimbing proyek Tugas Akhir (TA) tersebut.

Alat ini dikerjakan menggunakan dana penelitian hibah dari Dikti. “Untuk penelitian ini dana yang dihabisakan untuk beberapa kali percobaan mencapai Rp 7 juta, karena harga sensor stetoskopnya saja sampai Rp 1,3 juta,” tambah Jusak.

Sebagai pengembangan lebih jauh ke depannya, Eka mengharapkan aplikasi jantung ini bisa memberitahukan seseorang dalam keadaan tekanan jantung normal atau sebaliknya. Dia mengakui saat ini karyanya masih sebatas membaca denyut jantung saja.

Sehingga hanya terdapat komponen sinyal jantung s1 dan s2 berupa grafik merah tinggi rendah dengan kerapatan sewajarnya. Begitu pula dengan s3 dan s4 yakni sinyal yang muncul di luar komponen sinyal utama, sebagai indikasi ada ketidaknormalan jantung.

Sementara itu, Ira Puspa sebagai pembimbing II menyatakan sangat berkeinginan karya Eka diproduksi secara massal. “Kami berharap Dinas kesehatan bisa bekerjasama menyediakan dokter pendamping penelitian sehingga kami tahu betul apa kebutuhan medis,” ungkapnya.(cj1/epe)

Sumber: http://www.beritametro.co.id/surabaya/mahasiswa-stikom-ciptakan-alat-pendeteksi-jantung-elektronik