Mahasiswa STIKOM Desain Prototype Penerjemah Bahasa Isyarat

by admin

Edo Aliffandhiarto menunjukkan cara kerja prototype penerjemah bahasa isyarat abjad karyanya, Kamis ( 20/10 )

Edo Aliffandhiarto menunjukkan cara kerja prototype penerjemah bahasa isyarat abjad karyanya, Kamis ( 20/10 )


SURABAYA ( Realita ) – Masalah serius bagi penderita disabilitas, khususnya tuna rungu adalah ketika berhadapan dengan masyarakat sekitar, yaitu kendala dalam hal komunikasi. Keaneka ragaman bahasa isyarat serta kurangnya pemahaman masyarakat terhadap bahasa isyarat tersebut dapat menghambat para penderita tuna rungu untuk berbaur. Melihat fenomena itu, Edo Aliffandhiarto, mahasiswa program studi S1 Sistem Komputer Stikom Surabaya dalam rangka menempuh tugas akhir di bangku kuliah, meluncurkan sebuah alat berupa prototype bertajuk Rancang Bangun Penerjemah Bahasa Isyarat Abjad.

Alat ini menggunakan metode penerapan sensor flex dan sensor accelerometer berbasis arduino uno pada bagian sarung tangan. Fungsinya untuk mempermudah para penderita tuna rungu berkomunikasi dengan masyarakat melalui bahasa isyarat, yang dapat divisualisasikan ke abjad, selanjutnya akan tampil ke layar dan LCD.

” Jadi sarung tangan ini media untuk menampilkan bahasa isyarat abjad. Apa yang dilakukan oleh gerakan – gerakan tangan, dapat ditangkap melalui sensor. Seperti huruf vokal dan konsonan, sesuai bentuk isyarat tangan,” terang Edo.

Edo membutuhkan waktu sekitar satu tahun dalam proses menangkap sensitivitas sensor pada alat ini, sampai akhirnya berhasil menemukan lima huruf vokal dan tiga huruf konsonan.” Kesulitannya yaitu mencari sensitivitas sarung penerjemah bahasa isyarat, juga mencari range nilai dari sensitivitas sensor karena sensornya terlalu sensitif.” Ujar pria 24 tahun tersebut.

Dalam menjalankan sarung tangan penerjemah bahasa isyarat abjad, para penderita tuna rungu harus menggunakan sarung tangannya, kemudian menggerakkan jari sesuai dengan bahasa isyarat abjad sehingga sensor flex dapat menghasilkan resistensi dari lengkungan yang dilakukan oleh jari. Ada beberapa abjad yang tidak dapat dideteksi oleh sensor flex, yaitu ” J ” dan ” Z “, karena huruf tersebut harus melakukan pergerakan tangan. Hal tersebut bisa diatasi dengan menggunakan sensor accelerometer untuk mendeteksi pergerakan tangan agar dapat dibaca oleh arduino uno dan ditampilkan ke layar atau LCD.

Untuk kedepannya Edo berharap prototype ini dapat dikembangkan.” Untuk pengembangannya bisa lebih baik lagi, range jarak nilai – nilainya agar sensitivitas lebih mudah terbaca oleh sensor. Kemudian pengembangan pada android, memungkinkan orang tuna rungu bisa berkomunikasi.” Pungkasnya. ( Lz )

Sumber: Realitas.co