Mahasiswa STIKOM Surabaya Ciptakan Alat Pendeteksi Banjir dengan Teknologi Wireless Sensor Network

by admin

April 24, 2014 – PENDIDIKAN

stikom-alat-deteksi-banjirSurabaya, KabarGress.com – Banjir seolah menjadi kutukan bagi negeri ini, jika kita analogikan, banjir ibaratkan penyakit kronis yang tak kunjung bisa disembuhkan, entah karena tidak ada obatnya, atau memang enggan untuk disembuhkan. Terjadinya banjir dari waktu ke waktu menunjukkan kegagalan dalam mengelola potensi sumber daya air. Besarnya potensi sumber daya air di Indonesia jika penanganannya keliru akan menimbulkan efek, salah satunya adalah banjir. Belakangan banjir tidak hanya ‘dinikmati’ oleh warga kota saja, daerah yang sebelumnya tidak tersentuh banjir, kini ikut merasakan seperti apa musibah tahunan ini. Kerugian cukup besar harus mereka tanggung, harta, benda, bahkan tidak jarang merenggut nyawa keluarga yang dicintai.

STIKOM Surabaya sebagai perguruan tinggi yang konsen di bidang Teknologi Informasi (TI) selalu berkomitmen untuk membantu memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan bangsa. Salah satunya dengan melahirkan temuan-temuan melalui karya Tugas Akhir (TA) mahasiswa maupun penelitian lain sebagai bentuk perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Permasalahan banjir yang diulas sebelumnya menginspirasi dua mahasiswa STIKOM Surabaya program studi (Prodi) S1 Sistem Komputer, Budi Hari Nugroho dan Muhammad Syakir. Kedua mahasiswa yang akan diwisuda pada Sabtu (26/04) ini merasa prihatin dengan makin meluasnya bencana banjir serta korban yang berjatuhan. Untuk itu mereka melakukan inovasi dengan membuat alat pendeteksi banjir jarak jauh. Alat ini diakui memiliki tingkat keakuratan yang tinggi serta dapat dipantau secara real time, sehingga dapat memberi informasi terhadap ketinggian air dan membantu pengambilan keputusan terhadap kondisi banjir di suatu tempat.

Alat pendeteksi banjir ini menggunakan teknologi Wireless Sensor Network (WSN), yaitu jaringan nirkabel yang terdiri dari beberapa alat sensor yang saling bekerja sama untuk memonitor fisik dan kondisi lingkungan seperti temperatur, air, suara, getaran atau gempa, polusi, dan udara di tempat yang berbeda-beda. Cara kerja alat ini dengan menentukan node router dan coordinator yang berfungsi untuk mengambil data ketinggian air dan waktu.

Proses diawali dengan mengirim pesan ke node coordinator melalui pesan, kemudian sensor ultrasonik melakukan pendeteksian, selanjutnya data yang diperoleh akan diolah di dalam Arduino Uno, yaitu micro controller yang akan
mengolah data ketinggian air dalam (cm), ditambah data tanggal dan waktu yang dihasilkan oleh modul Real Time Clock (RTC). Setelah semua data didapat, akan dikirim secara wireless ke node coordinator, data-data dari beberapa tempat akan dibandingkan selanjutnya dikirim ke node and device yang terhubung ke komputer melalui USB selanjutnya diterjemahkan oleh program Visual Basic (VB). Data akhir berupa data ketinggian air, tanggal, waktu, dan prediksi terjadinya banjir sekaligus alarm peringatan.

Prototype alat pendeteksi banjir ini masih diperlukan penyempurnaan serta pengembangan lebih lanjut. Dengan adanya alat semacam ini diharapkan dapat membantu pemantauan yang lebih akurat terhadap bencana banjir, sehingga dapat mengurangi dampak bencana secara tepat sekaligus menekan korban yang ditimbulkan. Di tempat terpisah, Prof. Dr. Budi Jatimiko, M.Pd. menandaskan, bahwa karya-karya mahasiswa berupa Tugas Akhir sudah seharusnya memberi manfaat positif bagi kehidupan masyarakat. Terlebih jika karya tersebut bisa memberi manfaat dan dapat diaplikasikan secara langsung. Penemuan yang inovatif dari mahasiswa inilah yang diharapkan memberikan semangat mahasiswa lain untuk menelorkan karya-karya lain yang lebih bermanfaat. (ro)

Sumber: http://kabargress.com/2014/04/24/mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-alat-pendeteksi-banjir-dengan-teknologi-wireless-sensor-network/