Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Alat Periksa Jantung Secara Massal

by admin

Eka sedang mendemokan alat buatannya.

Eka sedang mendemokan alat buatannya.

Sabtu, 11 April 2015 08:57:28
Surabaya,pl.net – Mitos sakit jantung adalah penyakit orang tua, kegemukan, dan malas berolahraga, itu dulu. Belakangan kasus meninggal secara mendadak karena serangan jantung justru kerap terjadi pada seseorang yang masih muda, energik, dan suka berolahraga. Tengok saja beberapa artis seperti almarhum Adjie Massaid, Ricky Jo, dan terbaru Yani Libels.

Sejumlah peneliti menyebutkan resiko serangan jantung pada usia di bawah 65 tahun sebesar 18% dan 10% terjadi pada usia di bawah 45 tahun. Penyakit jantung merupakan salah satu jenis penyakit mematikan selain kanker, diabetes, dan gagal ginjal. Data lain menyebutkan sekitar 17 juta orang meninggal tiap tahun karena serangan jantung.

Penanganan yang cepat dan akurat terhadap penderita penyakit jantung harus segera dilakukan, namun kondisi di lapangan terkadang membuat dokter kesulitan melakukan penanganan pada beberapa pasien sekaligus. Faktor alat, jarak, biaya, dan banyaknya pasien juga menjadi kendala, belum lagi terbatasnya tenaga dokter spesialis jantung.

Melihat kompleksnya permasalahan penanganan terhadap penyakit jantung, Eka Sari Oktarina, mahasiswa S1 Sistem Komputer Stikom Surabaya mencoba mencari solusi dengan membuat sebuah alat yang mampu mengirim data serempak dari beberapa pasien kepada dokter yang menangani. “Selain cepat dan akurat,

bagi pasien yang kurang nyaman ditangani oleh dokter beda gender, solusi ini tentu menggembirakan karena pasien bisa ditangani oleh perawat yang sama gender,” terang Eka. Lebih lanjut ia menjelaskan, alat yang dibuatnya berdimensi sangat kecil sehingga dapat dibawa ke mana saja. Daya listrik yang dibutuhkan relatif kecil, yaitu sebesar 5V.

Alat ini mengadobsi teknologi Wireless Sensor Network /WSN yang bekerja dengan cara memancarkan gelombang radio melalui alat semacam stetoscope. Teknologi WSN sendiri sebenarnya sudah sering digunakan, sebelumnya mahasiswa Stikom Surabaya juga menggunakan teknologi WSN untuk mendeteksi banjir. Dengan menggunakan alat ini, pasien tidak perlu khawatir terjadi kesalahan data yang diterima oleh dokter, karena data yang dikirim ke komputer dokter berdasarkan ID khusus, sehingga data pasien satu dengan yang lainnya tidak mungkin tertukar.

Lebih rinci, alat ini bekerja dengan cara menghubungkan stetoscope ke Arduino 2560, sebuah alat untuk mengontrol suatu sistem. Data dari stetoscope akan dipancarkan melalui pemancar radio yang bernama Xbee pada radius 40 meter indoor dan 100 meter outdoor. Data tersebut akan diolah oleh sebuah software khusus agar dapat dibaca sesuai dengan kebutuhan analisis dokter.

Alat ini tentu masih memiliki beberapa kelemahan dan perlu banyak penyempurnaan. Di tempat berbeda, Ira Puspa selaku dosen pembimbing menyampaikan, bahwa tugas akhir Eka ini akan dilakukan riset lanjutan agar lebih optimal manfaatnya. “Untuk memperluas jangkauan serta memudahkan penggunaan, ke depan akan dibuatkan aplikasi khusus berbasis Android,” tukasnya sekaligus menutup sesi wawancara. Pr/red/mwp

 

Sumber:http://www.pustakalewi.net/?mod=berita&id=16892