Mahasiswa Stikom Surabaya Temukan Robot Pendeteksi Gas Mudah Terbakar

by admin

 Foto; Rijal JNR

Foto; Rijal JNR

20 Oct 2016
Jatim NewsroomIndustri kimia di Indonesia patut berbangga dengan hasil temuan mahasiswa program studi S1 Sistem Komputer Stikom Surabaya. Pasalnya kebocoran gassering terjadi pada pipa maupun pada tabung gas yang berada di area industrikini dapat diatasi dengan haditrnya penemuan robot pendeteksi gas mudah terbakar.

Gas yang mudah terbakar biasanya mengandung unsur gas metana dan butane yang mudah terbakar. Kebocoran gas tersebut sangatlah berbahaya bagi para pekerja maupun masyarakat di sekitar industri. Hal ini membuat para pekerja sangat kesulitan untuk mencari tahu di mana letak titik kebocoran gas yang akan dicari.Sehinggadirasa perlu untuk merancang dan membuat sebuah robot yang mampu untuk menggantikan peran manusia dan memiliki kemampuan mendeteksi kekuatan aroma gas, sehingga titik kebocoran bisa ditemukan.

Robot harus mampu di segala medan. Bentuk pengaplikasian teknologi robotika yang sesuai kebutuhan tersebut dibuatlah rangka robot yang menyerupai bentuk tank dan lengan robot mampu digunakan untuk berinteraksi dengan titik kebocoran gas.Robot dengan desain seperti ini diharapkan bisa menjelajah kondisi permukaan yang tidak datar dan memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan diri.

Muchammad Chalim, mahasiswa program studi S1 Sistem Komputer Stikom Surabaya,Kamis (20/10)mengatakan, penemuannya terinspirasi sekaligus mencoba mencari solusi terhadap permasalahan tersebut. Lahirlah ide membuat sebuah robot yang sekaligus dijadikan karya tugas akhir. Robot dirancang agar dapat mendeteksi gas mudah terbakar. Teknologi yang digunakan menggunakan komunikasi berbasis Bluetooth Hc-05.

Pada perancangan tugas akhir ini robot dikendalikan secara manual dengan menggunakan joystick yang terkoneksi dengan dengan mikrokontroler atmega 32A melalui bluetooth. Mikrokontroler atmega 32A berfungsi sebagai pengatur data masukan, data keluaran dan komunikasi pada robot. Data masukan robot berupa data dari sensor gas MQ-4,MQ-2, sensor jarak(Infrared), dan tombol joystick. Sedangkan data keluaran robot berupa display LCD, motor driver, dan solenoid valve.

Cara kerja alat ini cukup sederhana namun memberi manfaat yang besar. Pertama setelah kedua alat (joystick dan mikrokontroler) dinyalakan, robot langsung bisa berjalan mencari sumber gas melalu sensor yang terletak di depan robot. Setelah diketahui ada bagian atau kebocoran gas, selanjutnya sensor akan memberi report kepada panel LCD yang ada di joystick. Sehingga diketahui bahwa ada kebocoran gas tertentu pada tempat tertentu dan jenis gas tertentu.

Robot ini masih sebatas prototype sehingga perlu pengembangan lebih lanjut. Salah satu pengembangan yang dapat dilakukan adalah bisa dikendalikan jarak jauh menggunakan device android dan bisa memberikan informasi lebih detail terkait bahan atau gas yang terdeteksi. “Keterbatasan waktu serta kebutuhan waktu riset yang panjang menjadi salah satu kendala yang membatasi kesempurnaan alat ini,” terang mahasiswa yang akrab dipanggil Alim ini. Ia berharap ada yang mengembangkan hasil karyanya ini, sehingga akan bisa mendeteksi jenis gas lebih banyak bahkan bisa melacak bom lebih akurat dan aman.(jal)