Mahasiswi Stikom Surabaya Ciptakan Alat Periksa Jantung Massal

by admin

Eka Sari Oktarina memperagakan perangkat karyanya, alat periksa Jantung massal. Foto: Totok suarasurabaya.net

Eka Sari Oktarina memperagakan perangkat karyanya, alat periksa Jantung massal. Foto: Totok suarasurabaya.net

Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 10 April 2015 | 16:51 WIB
suarasurabaya.net
– Masyarakat masih menganggap sakit jantung adalah penyakit orang tua, dampak dari kegemukan, dan malas berolahraga. Tetapi kemudian dalam perkembangannya, kasus meninggal secara mendadak karena serangan jantung justru terjadi pada kalangan muda.

Serangan jantung ternyata menyerang anak-anak muda yang energik, dan suka berolahraga. Almarhum Adjie Massaid, Ricky Jo, dan terbaru Yani Libels, adalah korbannya.

Penanganan yang cepat dan akurat terhadap penderita penyakit jantung harus segera dilakukan, namun kondisi di lapangan terkadang membuat dokter kesulitan melakukan penanganan pada beberapa pasien sekaligus. Faktor alat, jarak, biaya, dan banyaknya pasien juga menjadi kendala, belum lagi terbatasnya tenaga dokter spesialis jantung.

Eka Sari Oktarina, mahasiswi S1 Sistem Komputer Stikom Surabaya mencari solusi dengan membuat alat pengirim data secara serempak dari beberapa pasien kepada Dokter yang menangani kondisi itu.

“Selain cepat dan akurat, bagi pasien yang kurang nyaman ditangani oleh Dokter beda gender, solusi ini tentu menggembirakan karena pasien bisa ditangani oleh perawat yang sama gender,” terang Eka Sari Oktarina, Jumat (10/4/2015) pada suarasurabaya.net.

Mengadobsi teknologi Wireless Sensor Network (WSN) yang memancarkan gelombang radio melalui alat semacam Stetoscope, dilengkapi dengan ID Khusus untuk tiap-tiap pengiriman data, dipastikan data antara pasien tidak mungkin tertukar.

“Alat ini bekerja dengan cara menghubungkan stetoscope ke Arduino 2560, sebuah alat untuk mengontrol suatu sistem. Data dari Stetoscope dipancarkan melalui pemancar radio Xbee pada radius 40 meter indoor dan 100 meter outdoor. Data tersebut diolah oleh software khusus agar dapat dibaca sesuai dengan kebutuhan analisis dokter,” tambah Eka Sari.

Kecilnya perangkat karya Eka Sari Oktarina ini serta daya listrik yang dibutuhkan sekurangnya 5 Volt, maka alat ni sangat mudah dibawa kemana-mana. “Ke depan perangkat ini bakal ditambah aplikasi khusus berbasis Android. Guna memperluas jangkauan serta jaringan,” pungkas Eka Sari Oktarina.(tok/ipg)

Editor: Iping Supingah