Mari Membuat Film Online

by admin

Muhammad Bahruddin

Dosen Media dan Komunikasi Stikom Surabaya, Anggota Asosiasi Pengkaji Film Indonesia (Kafein)

Di tengah tumbuhnya perfilman Indonesia, ada sejumlah persoalan yang harus segera diatasi dan dicarikan solusinya. Di antaranya adalah persoalan kreasi, produksi, diseminasi, kearsipan, edukasi, dan regulasi. Demikian dikemukakan Hilmar Farid, Direktur Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di pusat pelatihan Indonesia Port Corporation (IPC) Corporate University, Ciawi, Bogor dalam acara Rapat Koordinasi Pengembangan Perfilman, Rabu (13/3/2019).

Menurut Fay, demikian dia akrab disapa,persoalan kreasi terdapat dalam konten kreatif seperti kurangnya penelitian tentang film di Indonesia. Persolan itu mengakibatkan banyak film yang bersandar pada karya intelektual yang sudah ada seperti novel, padahal ada banyak sumber pengembangan cerita dari arsip ekspresi budaya, baik tradisional maupun modern.

Fay juga menyinggung tentang keteratasan bantuan biaya pemerintah. Peraih gelar doktor kajian budaya di National University of Singapore menjelaskan, ke depan pemerintah harus mengalokasikan anggaran untuk pengembangan produksi film yang lebih besar.

Demikian juga pada persoalan diseminasi, saat ini layar Indonesia masih tersedia kurang lebih 1.730 layar. Jumlah itu tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesiayang kurang lebih 260 juta orang.

“Kerja sama pemerintah daerah dan BUMN sangat penting terutamadalam hal penambahan jumlah layar,” tegas Fay di depan lebih 120 peserta.

Alumnus mahasiswa Sejarah Universitas Indonesia tahun 1993 itu mengatakan, masalah kearsipan juga menjadi  masalah krusial dalam perfilman Indonesia. Restorasi film yang bekerjasama dengan swasta harus terus dilakukan, selain pemanfaatan arsip film untuk distribusi online.

Acara yang digelar selama tiga hari , 13-15 Maret 2019, itu dihadiri perwakilan-perwakilan dari lingkungan Kemendikbud, dinas pariwisata, bali pelestaraian cagar budaya, balai pelestarian nilai budaya, museum UPT Kemendikbud, taman budaya, asosiasi perfilman, komunitas film, serta penerima bantuan bidang perfilman Pusat Pengembangan Perfilman.

Maman Wijaya, Kepala Pusat Pengembangan Perfilman mengatakan, acara ini rutin digelar setiap tahun untuk mendapatkan masukan dari berbagai lembaga terkait di Indonesia, khususnya bidang seni, budaya, dan film.

Dalam pertemuan itu juga muncul kebutuhan tentang edukasi dan training. Tenaga pendidikan di bidang perfilman masih belum memadai. Apalagi saat ini perkembangan platform digital semakin pesat dan banjir informasi di media online tak bisa dibendung lagi. Kenyataan itu menuntut kreatifitas para pembuat film sehingga bisa bersaing dengan negara-negara lain.

Fay mengatakan, penguatan sekolah film dan media baru harus digalakkan. Selain itu, peningkatan keterampilan dengan cara melibatkan tenaga perfilman yang berkompeten sangat mendesak untuk segera dilakukan. Misalkan penyelenggaraan workshop, master class, dan lain sebagainya.