Media Sosial: dari Komunikasi ke Ekonomi

by admin

Dr. Jusak Irawan

Dr. Jusak Irawan

SOCIAL media sudah menjadi gaya hidup di negeri ini. Tidak hanya sebatas untuk mencari jejaring sosial pertemanan, tetapi sudah sampai ke ranah politik.

Sosial media sudah menjelma menjadi alat pencitraan dan dipercaya paling ampuh mempengaruhi massa untuk ikut larut atau ikut idealisme-idealisme seorang pemimpin. Begitu luar biasanya pengaruh sosial media ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun memanfaatkan jaringan sosial media untuk meningkatkan citra diri.

Penggunaan sosial media sebagai alat pencitraan inipun bukan tanpa alasan. Indonesia sebagai negara berkembang mempunyai budaya yang unik. Dimana masyarakatnya sering dibuat kaget oleh fenomena teknologi gadget. Masyarakat kita bisa begitu royal untuk urusan gadget dan aplikasi yang ada di dalamnya. Ini adalah sebuah proses komunikasi yang sudah mulai bergeser.

Sosial media tidak hanya terbatas pada aplikasi yang kita kenal saat ini, seperti Facebook, Twitter, Linkedln, MySpace, Geogle+, atau Instagram. Sosial media lain yang tidak kalah mujarab adalah aplikasi komunikasi seperti WhatsApp, Line, Kakao Talk. Aplikasi-aplikasi tersebut mulai banyak digunakan orang untuk berjejaring.

Pada mulanya sosial media ini digunakan untuk berkomunikasi, diskusi dan sharing terhadap banyak hal. Namun, dalam perkembangan selanjutnya sudah mengarah kepada komunikasi utama, pencitraan, iklan dan bahkan sampai dengan kejahatan. Facebook dan Twitter menjadi sangat populer di tanah air, karena keduanya berbasis web yang menjanjikan komunikasi lebih interaktif. Pergeseran model komunikasi ini juga dikarenakan fenomena Facebook dan Twitter sebagai tempat orang berkumpul di suatu tempat. Sehingga kalau kita bicara soal pasar atau konsumen, sudah tersedia dengan sendirinya dan dengan jumlah yang tidak terbatas. Tanpa melakukan proses apa-apa dan effort yang berlebihan, pasar atau konsumen sudah berkumpul dalam satu wadah yang dinamakan media sosial. Ini fenomena yang luar biasa. Karena jumlah yang terkumpul dalam satu komunitas itu lebih penting. Sehingga servis yang diberikan jika kita memanfaatkan media sosial ini jauh lebih mudah.

Perkembangan selanjutnya, jika media sosial berbasis web, orang bisa beriklan secara gratis, menjual bermacam produk dengan mudahnya. Media sosial berbasis web lebih menekankan pada jumlah orang yang berkunjung dan bisa berkumpul di situ. Selanjutnya hal tersebut bisa dikaitkan dengan kepentingan ekonomi maupun politik. Seseorang bisa menggunakan akun Facebook atau Twitter untuk kepentingan ekonomi. Misalnya berjualan, beriklan, bahkan melakukan rencana tindak kejahatan. Tidak sedikit berita yang muncul di media massa, korban perkosaan berawal dari perkenalan korban dengan tersangka melalui Facebook.

Kesaktian media sosial ini seakan sudah teruji, sehingga dengan sendirinya orang akan menggunakan media ini untuk berbagai hal demi kepentingan, baik ekonomi maupun sosial politik. Fenomena ini sangatlah jamak. Dimana perilaku sosial yang ada di Facebook maupun Twitter sangat kental dipengaruhi oleh kultur kita sebagai masyarakat yang suka berkumpul, bercengkerama, ngerumpi, diskusi dan sebagainya sebagai bentuk eksisteni diri setiap individu. Sehingga ketika fenomena media sosial ini muncul ke permukaan, perkembangannya jauh lebih ramai.

Di dalam jejaring sosial sendiri ada semacam konsensus tidak tertulis tentang etika dalam menggunakan media sosial. Salah satu etika yang biasanya digunakan dalam dunia media sosial adalah adanya larangan bombardir iklan kepada orang lain yang tidak pernah memberikan respon balik. Selain bisa mengganggu, akun kita bisa terkena blocking karena apa yang kita tulis bisa dianggap spam alias tulisan sampah. Yang kedua adalah masalah keamanan atau security. Disarankan tidak memberikan petunjuk tentang alamat dan nomor telepom rumah secara vulgar. Selain itu, menunjukkan kondisi-kondisi perasaan yang bisa memicu tindak kejahatan, misalnya perasaan yang sedang bersedih atau sendirian di rumah. Hal ini sangat mungkin terjadi karena tanpa kita sadari, dengan ikut media sosial, kita harus siap diamati oleh banyak orang. (*)

Penulis:
Dr JUSAK IRAWAN
Pakar IT&Soscal Media STIKOM Surabaya

Sumber: Koran Cetak Radar Surabaya Edisi Minggu, 9 Juni 2013 | hal.5