Mengusung Dolly ke Semarang

by admin

Sebagian besar masyarakat tahu jika lokalisasi Dolly telah ditutup secara resmi oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada 19 Juni 2014. Namun tak banyak yang mengetahui jika tempat prostitusi terbesar se-Asia Tenggara ini telah disulap menjadi sentra usaha kecil menengah (UKM).

Kawasan di Putat Jaya Surabaya itu kini telah berubah menjadi pusat perdagangan berbagai produk, dari sepatu, sandal, garmen, makanan ringan, dan lain sebagainya. Bahkan sebagian dari produk itu telah terjual hingga mancanegara.

Inilah yang mengilhami para mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Stikom Surabaya mengangkat isu Dolly di ajang Kriyasana Desain Grafis Indonesia (KMDGI) ke-2 di Semarang, 2-4 November 2017.

Isu Dolly menarik bagi para mahasiswa untuk dikenalkan ke masyarakat luas. Mereka ingin menyosialisasikan bila Dolly bukan lagi tempat prostitusi sebagaimana anggapan masyarakat selama ini.

Dari sosialisasi yang kami lakukan sebulan sebelum acara KMDGI, ternyata Dolly masih dipandang sebelah mata oleh sebagaian masyarakat Surabaya, ungkap Diah Ayu Ningrum, ketua panitia Delegasi DKV Stikom Surabaya.

Karena itu menurut Ayum, sapaannya, untuk mengubah image Dolly ke masyarakat butuh waktu yang tidak pendek. Dalam KMDGI itu, ia dan 40 mahasiswa lainnya mengusung Dolly untuk disosialisasikan di masyarakat bila Dolly kini adalah sentra produk UKM.

Lewat blek atau kaleng kerupuk, mereka ingin menunjukkan bila simbol itu merupakan rumah bordil yang kini telah berubah wajah.

Di dalam kaleng kerupuk berukuran raksasa itu dipajang produk-produk UKM yang dibeli dari para pedagang Dolly.

Tak pelak rancangan kaleng kerupuk itu menarik perhatian peserta KMDGI, juri, dan media masa. Pengunjung pun berebut selfie di dalam kaleng itu.

Selain simbol kaleng kerupuk, isu Dolly juga diimplementasikan dalam bentuk video simbiotik yang diputar bersama video peserta KMDGI lainnya dari 48 delegasi kampus se-Indonesia di hari kedua KMDGI.

Selama acara kami menggunakan tagline Njajan nang Dolly berupa stiker, judul video, flyer, dan bentuk mural yang digambar dalam kaleng kerupuk, kata Prasetyo Reza, Ketua Himpunan Mahasiswa DKV Stikom Surabaya.

Tak sia-sia, di puncak acara KMDGI, isu Dolly diganjar penghargaan kategori Best Out of The Box Issue dan masuk nominasi dalam kategori Best Display. (els)

Reportase Muhammad Bahruddin

Dosen Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya/ Mahasiswa program doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia

*Sumber: Cetak Harian Surya | Edisi Rabu, 15 November 2017 | Citizen Reporter | Hal. 10