Menikmati Museum Surabaya Cara Anak Muda

by admin

MUSEUM tak hanya berfungsi sebagai tempat merawat dan melestarikan budaya masyarakat untuk kepentingan studi dan penelitian, tapi juga sebagai daya tarik wisata daerah atau kota.

Demikian juga Surabaya, selain memiliki Museum Tugu Pahlawan dan House of Sampoerna, kota yang memiliki sejarah kepahlawanan ini memiliki Museum Surabaya yang khusus memajang benda-benda bersejarah  Surabaya.

Sayang, hingga saat ini belum banyak masyarakat yang mengenal museum yang berlokasi di gedung cagar budaya eks Siola, jalan Tunjungan Surabaya ini. Hal inilah yang menginspirasi Dicky Adi Pratama, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya, untuk merancang video profil Museum Surabaya berbasis media online untuk tugas akhir.

Dicky, sapaannya, mengatakan, pengenalan museum kepada anak muda sangat penting agar tidak kehilangan sejarah, khususnya sejarah Surabaya.

“Anak muda juga bisa memanfaatkan museum sebagai tempat rekreasi maupun menyalurkan bakat, seperti fotografi,” tegas mahasiswa kelahiran 24 April 1995 ini.

Lebih dari 1.000 koleksi benda bersejarah dipajang di Museum Surabaya. Misalnya, buku catatan kelahiran dan kematian, mesin ketik, serta penghargaan-penghargaan yang pernah diterima Surabaya.

Museum ini juga memajang benda-benda lain yang dianggap bagian dari sejarah Surabaya, seperti biola milik pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman, piano penyanyi Gombloh, serta alat transportasi seperti becak, bajaj, angguna, maupun mobil pemadam kebakaran.

Di museum yang didirikan pada 3 Mei 2015 itu juga terpajang foto wali kota yang pernah memimpin Surabaya sejak zaman Belanda, yaitu Mr A Meijroos hingga wali kota saat ini, Tri Rismaharini.

Dalam video berdurasi 2,46 menit itu adalah tampilan lokomotif uap Fowler 7NHP yang berada di depan museum. Karya yang dipamerkan di East Coast Surabaya pada 25-27 Agustus 2017 itu sengaja memblow-up lokomotif sebagai andalan Museum Surabaya.

“Lokomotif pengantar tebu pada zaman Belanda itu berusia lebih dari 80 tahun, bentuknya kuno, antik, dan menarik,” terang pemilik tinggi badan 167 sentimeter ini.

Video profil ini menggunakan teknik panning yaitu gerakan kamera menyamping ke kiri dan kanan secara cepat. Teknik ini dipilih untuk menarik anak muda yang memiliki karakter atraktif.

Sementara media online dipilih karena sebagian besar anak muda mengakses internet, khususnya media sosial seperti youtube, facebook, twitter, maupun instagram.

Reportase Muhammad Bahruddin

Dosen Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya/ Mahasiswa program doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia

Sumber: Harian Surya | Citizen Reporter | Edisi Jumat, 6 Oktober 2017 | Hal. 10