Mudik, Anomali

by admin

Mendengar kata mudik, pikiran kita pasti mengarah kepada suasana Lebaran dan hari raya keagamaan. Mudik telah menjadi budaya yang mendarah daging bagi masyarakat kita. Budaya mudik yang luhur dan simple, kini juga telah menjadi kerumitan. Ironisnya, kerumitan itu juga bagian dari mudik.

Oleh

RUDI SANTOSO*

MUDIK, ANOMALI111.pdf

Esensi Mudik

Mudik bagi sebagian besar masyarakat kita adalah sebuah kerinduan pada kampung halaman. Kerinduan suasana rumah serta segala kesunyian dan ketentraman kampung, setelah sekian lama bergelut dengan hiruk pikuk kota. Di masyarakat Betawi, terdapat kata “mudik” sebagai lawan kata “milir”. Mudik berarti pulang, dan milir berarti pergi. Konon dari sinilah kata “mudik” berasal. Sementara dalam budaya Arab, mudik konon berasal dari kata dho’a yang berarti hilang, dan mudli’ yang berarti orang yang menghilangkan. Maka esensi mudik bisa dipahami sebagai kembalinya para perantauan setelah sekian lama merasa kehilangan.

Mudik dan Budaya

Dalam sudut pandang sosial budaya, mudik diilustrasikan ke dalam sebuah perjalanan pulang ke kampung halaman atau tanah kelahiran. Dalam proses perjalanan pulang tersebut, mereka membentuk sebuah pengalaman dan kebiasaan yang unik, kepanikan, keriuhan, ketakutan, kesedihan, kebahagiaan yang bercampur menjadi satu. Keriuhan ini merupakan totalitas masyarakat kita. Totalitas akan sebuah kegiatan yang mungkin substansinya hanya berlangsung 2 hari, namun persiapan mereka bisa lebih dari sebulan.

Dari dimensi psikologis, mudik tidak terbatas kepada merayakan Lebaran bersama keluarga. Tetapi juga pelepasan diri dari segala keriuhan dan kerasnya perkotaan. Sementara itu dari sudut dimensi sosial, mudik adalah ekspresi dan komunikasi akan kesuksesan. Ia juga merupakan media cerita yang paling pas untuk menggambarkan kesuksesan hidup di perantauan. Sebuah kesuksesan yang digambarkan dalam bentuk gaya hidup, aksesoris, kendaraan, dan lain-lain.

Lain cerita, jika memandang dari dimensi spiritual. Jika mudik dipahami sebagai pulang ke kampung halaman, maka secara spiritual harus juga dipahami sebagai sebuah perjalanan “pulang” ke Ilahi. Dalam kultur Jawa, spirit “pulang” ini dimanifestasikan dalam bentuk ziarah ke makam leluhur. Ziarah makam ini dipahami sebagai pengingat bahwa kita juga akan berpulang. Bahwa mudik adalah hakikat sebuah proses detik demi detik dalam lingkaran Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Hakikat mudik adalah kita tidak akan pergi kemana-mana, meskipun kita telah melalui seribu kemenangan dan kesuksesan, kita pertahankan kekuasaan, kita bangun menara mercusuar, kita tumpuk bongkahan emas, kita pelihara ratusan budak yang melayani, kita pelihara ratusan tentara penjaga bersenapan. Kita tidak akan kemana-mana, kecuali menyerahkan diri kita secara ikhlas kepada asal-usul yang sejati. Maka nilai estetika dan spiritual yang tertanam dalam tradisi ziarah inilah yang kemudian membentuk dialektika, berakulturasi dengan budaya Jawa melahirkan tradisi mudik.

Pergeseran Substansi

Budaya mudik yang begitu baik ditanamkan leluhur, kini mulai kehilangan makna. Ia keluar dari substansi, bahwa mudik adalah sebuah perjalanan spiritual. Mudik kini dipandang sebagai wujud cerita sukses yang pada ujungnya menjadi media penyalur watak konsumerisme dan hedonis. Bahkan sebagian diantaranya menyikapi hanya sebatas kepada kelangenan (kesenangan), menghamburkan uang, menunjukkan sikap ke-aku-an yang akhirnya menjebaknya hidup dalam sektarian-sektarian. Sementara itu, orang-orang sudah tidak lagi melakukan mudik dalam tataran spiritual, karena dianggap tidak memberi dampak kepuasan. Celakanya, tradisi mudik yang dilakukan saat ini sudah semakin jauh dari spirit yang seharusnya dibangun. Lebih celaka lagi ketika kita mengamini fenomena ini sebagai sebuah kewajaran karena nilai spiritual lebih bersifat abstrak dan tidak bisa dirasakan oleh orang lain.

Jika mudik diharapkan akan mempererat tali silaturahim, maka pergeseran substansi mudik ini akan menggeser pula tujuan mudik dalam tataran syariat sebagai wujud paling fundamental habluminannas. Sementara itu, dalam tataran tarekatnya adalah ketika mudik kita akan semakin mempererat ukuah. Maka, bisa dipahami bahwa hakikat mudik adalah tidak kemana-mana, karena semua dari kita akan ber”pulang”.

Anomali

Tradisi mudik yang sudah menjadi dialektika kultural dan berjalan berabad lamanya, pada akhirnya melahirkan anomali-anomali. Jika dalam kajian statistik anomali adalah sebuah penyimpangan, ia akan menjadi deviasi dalam setiap fenomena dan distribusi data normal. Sebuah penyimpangan tempatnya hanya pada sudut-sudut kecil di ruang data yang besar. Ia akan dibuang karena sebagai data penyimpangan, meskipun tak jarang ia tetap dipakai sebagai pembanding dan berperan pelengkap. Celakanya masyarakat kita suka berada dalam ruang hidup penuh dengan anomali. Mereka nyaman dengan apa yang dialami dan dilakukan. Mudik telah mengimplikasikan sebuah heteronomi kultural yang membuat tarik menarik para pemudik antara situasi kultur baru dengan lama. Tidak bisa dipungkiri bahwa mereka mengadu hidup dan tinggal di kota. Namun, di sisi lain mereka sangat terikat dengan desa sebagai asal-usulnya.(*)

*Penulis adalah dosen Stikom, pemerhati masalah sosial budaya

*Sumber: Radar Surabaya | Minggu, 3 Juli 2016 | Horizon