Perempuan dalam Lingkaran Bisnis

by admin

Oleh RUDI SANTOSO, S.SOS., M.M.

ISU GENDER

Gender, perbedaan kelamin, per bedaan hak dan kewajiban, sudah banyak dibahas dalam kajian­kajian ilmiah. Kajian-­kajian ini terkait individual behavior and differences dalam perilaku organisasi. Isu yang masih saja laten menjadi banyak perdebatan adalah gender differences di dalam suatu organisasi. Dimana eksesnya adalah perbedaan perla kuan yang pada akhirnya berdam pak pada hak dan kewajiban. Pe nyetaraan dalam isu gender saat ini seharusnya sudah selesai, jika manajer tahu bagaimana me ngatasi dan memperlakukan gender differences ini dengan benar. Semangat Kartini yang didengungkan lebih dari seabad lamanya, seharusnya sudah bukan menjadi persoalan lagi. Pemikiran Kartini yang dianggap menyimpang pada zamannya justru menjadi tonggak “perlawanan” terhadap tirani “penindasan” kaum perempuan. Bahwa apa yang dilakukan Kartini pada zaman nya adalah simbol “pendobrak” terhadap keangkuhan tembok feodalisme dan paham patriarki kaum ningrat Jawa.

Women’s Studies Encyclo pedia menjelaskan bahwa gender merupakan konsep kultural yang berupaya untuk membuat pembedaan. Yaitu dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional laki­-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Secara umum dimensi budaya yang berpengaruh pada nilai­nilai kerja suatu organisasi, yang salah satunya adalah masculinity-feminity. Konsep tersebut berkaitan dengan perbedaan peran gender. Budaya yang cenderung maskulin memiliki ciri lebih mementingkan harta milik, kompetensi, dan kinerja. Sedangkan, feminin lebih mementingkan kesetaraan, solidaritas, dan kualitas kehidupan kerja. Perbedaan nilai dan sifat gender biasanya akan mempe ngaruhi laki­laki dan perempuan dalam membuat keputusan.

GRAVITASI PEREMPUAN

Perempuan terlahir dengan patron yang selalu dikaitkan dengan keindahan dan feminisme. Namun perempuan juga belum bisa lepas dari sebuah konotasi kekerasan seksual dan kebebasan individu. Isu yang berkembang selanjutnya adalah perempuan dan rape culture. Rape culture adalah sebuah masyarakat atau lingkungan yang sikap sosialnya yang berlaku memiliki efek menormalkan atau meremehkan kekerasan dan pelecehan seksual. Kultur ini cenderung berkembang dalam masyarakat yang didominasi laki­laki. Jika gra vitasi kaum perempuan didominasi oleh hal-hal yang konotatif, sudah saatnya kaum perempuan bangkit. Semangat bang kit bisa diawali dengan membangun demokrasi sebagai langkah awal pergerakan perempuan. Menjadi feminis tanpa vaginapun di perlukan, untuk menutup rape culture dan sistematika brother hood yang terjadi sekarang.

PENYEIMBANG BISNIS

Satu sisi, perempuan mempunyai daya gravitasi yang bisa menimbulkan konotasi negatif. Namun di sisi lain, perempuan bisa menjadi penyeimbang. Dalam dunia bisnis, dibutuhkan sebuah keseimbangan antara eksekutif perempuan dan pria. Pendekatan perempuan cenderung ke kepribadian untuk membangun hubungan, bernegosiasi, dan komunikasi. Beberapa di antara perempuan condong membawa persoalan ke atas meja. Keterampilan alami mereka dalam mendukung tim memahami keseim bangan kerja/hidup perusahaan. Perempuan juga sering fokus kepada pemecahan kebutuhan pelanggan dari pada hanya mengandalkan teknologi itu sendiri. Dalam bisnis, perempuan bisa sangat fleksibel dengan memainkan peran keibuannya. Di sini lain, perempuan mulai belajar untuk mengatakan TIDAK ketika mereka menghadapi tugas-­tugas yang tidak masuk akal. Perubahan-­perubahan ini adalah sebuah dobrakan baru sebagai bentuk penerus semangat Kartini di era bisnis modern

Dari sisi sustainability business (bisnis yang berkelanjutan), perempuan dianggap lebih mum puni dibandingkan dengan pria jika ia berada sebagai pemegang bisnis atau berada di driving seat. Berdasarkan riset yang dilakukan Global Entrepre neurship Monitor (GEM), tahun 2017 mencatat bahwa dari 163 juta perempuan memulai bisnis, 111 juta di antaranya adalah bisnis ber kelanjutan. Hal ini terjadi dengan sendiri karena faktor struktur sosial yang dibangun sejak awal. Struktur sosial yang terbangun adalah lakilaki bekerja sebagai tulang punggung keluarga dan bekerja disektor formal. Sementara perempuan menjadi pengelola keuangan keluarga. Pada akhirnya perempuan tersebut mempunyai kecenderungan bergerak di sektor informal.

PEREMPUAN LEBIH BERPERAN

Perkembangan selanjutnya, perempuan dalam dunia bisnis dan industri tidak lagi sekadar isu kesetaraan gender belaka. Namun lebih jauh peran perempuan sudah meluas sampai kepada perihal kinerja perusahaan tersebut. Data terakhir dari Credit Suisse Research Institute menunjukkan bahwa perusahaan yang dikendalikan oleh sejumlah perempuan dalam dewan direksi memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang dikendalikan dewan direksi yang seluruhanya pria. Di Indonesia sendiri baru enam persen dari seluruh total perempuan pekerja yang berhasil masuk ke jajaran pengendali perusahaan. Meskipun angka ini masih lebih kecil dibandingkan negara maju lain nya, seperti di Amerika Serikat yang mencapai 15% dan Eropa 17%.

Peran perempuan dalam semua bidang, khususnya bisnis, sedikit demi sedikit mulai menghapus eksklusifisme yang terbangun dari budaya patriarki. Presepsi yang melekat dalam diri pe rempuan pada budaya tersebut adalah peran perempuan masih menjadi wilayah kedua setelah laki­-laki. Konotasi ini seakan melegitimasi sebuah judgment bahwa perempuan adalah bagian kelas kedua yang cukup di rumah. Perempuan juga ditendesikan sebagai bagian yang bertabur konsumerisme, hedonisme, dalam cengkeraman kapitalisme ekonomi yang masif. Stigma seperti itulah yang sebenarnya diperjuangkan secara implisif oleh Kartini lebih dari seabad lampau. Hari ini kita melihat peran perempuan sudah sampai kepada ranah politik. Itu artinya kaum laki­-laki sudah mulai terbuka untuk menerima patron perempuan bukan hanya sekadar sebuah keindahan. Kaum perempuan sudah diberi ruang untuk ambil peranan. Dengan semangat Kartini, mari hormati kesetaraan tanpa mengubah fitrah mereka sebagai perempuan. Selamat menyambut semangat Kartini. (*)

*Penulis adalah dosen FEB-Stikom Surabaya

*Sumber : Radar Surabaya | Edisi Minggu 15 April 2018 | Komunitas | Hlm 7