Seni Film yang Mendarah Daging

by admin

Mohkamad Adi Sucipto. Muda dan liar, kesan inilah yang tergambar dari sosok mahasiswa semester 6 Perfilman dan Tv Multimedia Stikom Surabaya, Mohkamad Adi Sucipto.Bagaimana tidak, tekad kuat dan idealisme nya pada seni perfilman ia buktikkan dengan mendirikan komunitas Film yang dinamakan Sinema Pohon Rindang (SPR) bersama ke 14 teman-temannya. Adi sapaan akrab Mohkamad Adi Sucipto mengungkapkan bahwa pendirian SPR, karena rasa mirisnya terhadap Program Study (Prodi) Perfilman dan Tv (Profiti) Stikom Surabaya yang tidak memiliki komunitas film sendiri.

“Saya dan beberapa mahasiswa profiti berinisiatif membuat komunitas SPR, meskipun awalnya hanya diikuti 15 mahasiswa,” ungkap mahasiswa kelahiran Surabaya, 22 tahun yg lalu pada Bhirawa Minggu (17/3).

Wadah yang didirikan Oktober 2017 ini pun, sudah dua kali melakukan pemutaran film hasil karya komunitasnya. Beberapa diantaranya karya film Adi Sucipto, Addicted (2015) dan Kisah Febby (2017). Laki-laki yang hoby menulis ini juga menambahkan jika pemutaran film yang dilakukan di bawah pohon rindang depan lobby Stikom selain untuk menunjukkan hasil karya komunitasnya, juga sebagai ajang donasi dan apresiasi atas karya yang telah mereka buat.

“Kami menyediakan kotak donasi kepada penonton yang hadir pada kegiatan SPR. Seikhlasnya sih kalau mau bayar. Kami juga memberi stiker ucapan terimakasih SPR kepada mereka” katanya

Bagi, laki-laki kelahiran 2 Oktober 1996 , bukan hal yang mudah ketika memutuskan mendirikan sebuah komunitas perfilaman, yang mana nantinya akan menjadi ‘centre point’ bagi mahasiswa lain.

Diakui sutradara Addicted ini bahwa kendala yang dihadapinya bersama komunitasnya saat ini adalah anggaran dana pengembangan komunitas yang meliputi proses produksi dan kegiatan pendukung lainnya yang masih menggunakan dana pribadi masing-masing anggota.

“Anggaran dana SPR masih menjadi kendala kami. Bahkan hasil uang donasi, kita putar lagi untuk kegiatan SPR selanjutnya meskipun gak lebih dari Rp 200 ribu” urainya.

Sebagai sosok, yang berperan penting dalam pendirian SPR, Adi pernah merasakan perasaan dilematis. Di mana, ia pernah berpikir untuk menyerah dan mundur dari komunitas yang didirikannya. Di akui Adi, bayang-bayang menyerah untuk membesarkan komunitas SPR, sempat teelintas dalam benaknya.

“Bayang-bayang itu terus menghantui, karena ya namanya juga komunitas baru, pasti ada halangannya” jelasnya.

Namun, lanjutnya, saya terus berusaha agar kegiatan SPR bisa terselanggara dengan baik. Saat ini, diakuinya, jumlah anggota SPR bertambah hingga 50 mahasiswa. Meskipun, menurutnya, yang tergabung dalam komunitas tersebut, masih ruang lingkup mahasiswa Stikom.

“Ada 50 mahasiswa Stikom yang tergabung dalam SPR. namun, tentu kami tidak menutup kesempatan, bagi orang lain, baik siswa sma ataupun masyarakat umum dalam bergabung” ujarnya

Bagi laki-laki yang juga aktif di berberapa komunitas perfilam Surabaya ini menilai bahwa film merupakan Ruang Kebebasan dalam mengungkapkan gagasan dan ide cerita dalam bentuk audio visual. Peran film dalam kehidupan Adi, dinilainya sangat berpengaruh. Di mana secara tidak langsung film sebagai reflekai diri.

“Bikin film itu, kayak kita merekam ulang apa yang pernah kita bayangkan di fikirkan kita lalu mengemasnya dengan baik” tuturnya.

Lebih jauh, mahasiswa yang sudah menghasilkan tujuh karya film indie ini berharap, agar kedepannya Sinema Pohon Rindang bisa terus melakukan kegiatan dengan baik, tetap menjalin relasi dengan komunitas film lainnya dan tetap menjadi komunitas yang menginspirasi.

“Berharap, lebih banyak ruang publik yang memberikan wadahnya untuk SPR dalam menunjukkan karya-karya kami,” tandasnya. [ina]

 

*Sumber : Cetak | Harian Bhirawa | Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga | Edisi 19 Maret 2018 | Hlm. 7

*Sumber : Online | Edisi 18 Maret 2018 | http://harianbhirawa.com/2018/03/seni-film-yang-mendarah-daging/