Sensor Gas Tumbuhkan Kepercayaan Pembeli dan Penjual

by admin

DETEKSI KEMATANGAN - Mahasiswa S1 Sistem Komputer Institut Bisnis dan Informatika Jagad Lanang Surobramantyo menunjukkan kinerja alat pendeteksi tingkat kematangan durian di Kampus Stikom Surabaya, Kamis (17/03).

DETEKSI KEMATANGAN – Mahasiswa S1 Sistem Komputer Institut Bisnis dan Informatika Jagad Lanang Surobramantyo menunjukkan kinerja alat pendeteksi tingkat kematangan durian di Kampus Stikom Surabaya, Kamis (17/03).

SURABAYA, SURYA (17/03) – Sensor gas selama ini hanya digunakan untuk mendeteksi kebocoran gas elpiji. Namun, kini sensor juga menjadi komponen penting alat pendeteksi kematangan durian.

Ini merupakan karya mahasiswa semester akhir Sistem Komputer, Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya, Jagad Lanang Surobramantyo (23). Sistem kerja alat ini menggunakan sensor sistem penciuman elektronik Deret Sensor Gas Semikonduktor (TGS), sebagai pengukur tingkat kematangan buah.

Dengan menggunakan ruang kedap udara dari toples plastik, mahasiswa asal Makasar ini membuat sistem komputer yang bisa divisualkan melalui layar sederhana.

Sebelum memfungsikan sensornya, Jagad terlebih dulu memprogram kipas yang mengalirkan udara dingin ke dalam toples.

“Ini supaya udara di dalam toples benar-benar bersih, mungkin berkisar 13 detik untuk mengalirinya dengan udara,” terangnya, saat menunjukkan saluran udara kipas, Kamis (17/03).

Kemudian, durian yang ingin dicek tingkat kematangannya dimasukkan dalam toples. Toples ini ditutup yang menyatu dengan kipas kecil untuk memicu udara keluar dari buah.

“Dari udara nanti akan terbaca tekanan gas yang ada, jika 150 sampai 255 tekanan per ppm, maka buah durian itu matang. Jika di bawahnya berarti belum matang,” paparnya.

Menurut Jagad, proses pembacaan sensor ini secara keseluruhan menghabiskan waktu hingga 3 menit. Namun, karena riset yang digunakan hingga 50 sampel durian, ia hanya bisa mengambil satu jenis durian, yaitu durian montong dari perkebunan di Banyuwangi.

“Beda durian maka gas yang dihasilkan kemungkinan juga berbeda, ini perlu penyempurnaan,” tegasnya.

Butuh Banyak Ruang

Namun baginya, alat ini bisa menumbuhkan kepercayaan antar pembeli dan penjual. Karena bisa memberikan data nyata, tidak hanya berdasarkan pengalaman pengenalan buah dari petani durian.

“Banyak juga yang tertipu rasa durian setelah sampai di rumah. Padahal kata penjualnya sudah masak,” tuturnya.

Dosen Pembimbing I Jagad, Harianto, mengatakan, di luar negeri sudah banyak inovasi alat untuk mengecek kematangan buah. Namun, disini belum ditemukan inovasi ini.

Hanya saja karena baru temuan awal, menurut Harianto, alat ini masih butuh banyak ruang.

“Bisa disempurnakan lagi dengan memperkecil komponen kipas yang mensterilkan udara,” ujarnya. (ovi)

 

*Sumber: Harian Surya | Jumat, 15 Maret 2016 | Tunjungan Life | hal. 16