Startup Solusi Nadia menjadi Wirausaha

by admin

img_20161123_134353_hdr-1Nadia Farhani, alumni S2 Gizi di University of Leeds Inggris, menginisiasi tim untuk menggagas aplikasi online yang menghubungkan konsultan gizi dengan masyarakat yang memiliki masalah gizi, khususnya obesitas.

“Saya memang konsen pada gizi dan ingin jadi wirausaha. Tetapi nggak ada modal, kalau buat produk trial error-nya butuh dana banyak. Startup salah satu solusi, makanya sejak lulus saya konsen disini,” ungkap Nadia, di sela sesi konsultasi bisnis Gerakan 1.000 Startup Kota Surabaya, yang diadakan di Institusi Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya, Minggu (20/11).

Tim Startup Guru Gizi salah satu dari 11 tim yang melewati tahap penyisihan dan mengikuti mentoring dengan berbagai ahli.

Dari segi materi gizi dan pengumpul suplier konsultan gizi, Nadia menyasar lulusan baru ilmu gizi di berbagai universitas yang memiliki surat izin dari Dinas Kesehatan sebagai konsultan.

Ia juga dibantu timnya, Talita Asmaria, Dosen Techno Biomedic, Universitas Airlangga, Alvin, alumnus ITS, dan CEO Web Developer, serta Daniel Sugiart, mahasiswa Teknik Informatika iSTTS.

“Startup ini solusi buat usaha yang bukan nyari uang saja, tapi mecahin masalah juga. Kami masih mempelajari bisnisnya, biar konsumen tertarik konsultasi berbayar, seperti sejumlah startup kompetitor,” ungkapnya.

Koreksi Target Pasar

Seperti diketahui, Kementrian Komunikasi dan Informatika bersama Kibar, meluncurkan Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital. Kibar merupakan satu-satunya perusahaan konsultan IT yang tergabung dalam Google Developer Groups (GDG) di Indonesia.

Guntur Sarwogadi, staf Kibar menjelaskan, dalam gerakan 1.000 startup di Surabaya ini, terdapat 11 tim yang harus presentasi selama 3 menit. Semua deskripsi Starup harus digambarkan, misal market-nya seperti apa dan jalannya sistem.

“Ada platform untuk tracking listrik, pesan penjahit online dengan ukur badan, tentang gizi juga ada. Kami lihat progress-nya dulu. Ini base pertama, masih banyak yang butuh dikerjar,” ungkap Head Mentor Inovatif Academy, Inkubator Startup di UGM dan Kibar.

Menurut Guntur, yang paling banyak koreksi pada target pasar. Sebab, banyak aplikasi ditemukan, tetapi pasar yang ditarget ternyata tidak membutuhkan.

“Pesertanya beragam, ada yang masih baru, ada yang sudah jalan startup-nya, tetapi tidak menemukan kemajuan atau stagnan saja. Disini kami pertemukan dengan ahlinya agar bisa knsultasi,” paparnya.

Fokus Startup di Surabaya, berbeda dari Jakarta, yang lebih pada membantu Usaha Kecil Menengah (UKM) dan membantu lapangan pekerjaan untuk orang lain.

“Tiga peserta terbaik akan dilatih selama tiga bulan untuk berbagai konsultasi. Kami berharap bisa dicobain ke konsumen produknya, meski belum diluncurkan. Sekalian kami kenalkan dengan investor,” terangnya. (sulvi sofiana)

 

*Sumber: SURYA | Tunjungan Life | Hal. 1 | Edisi Senin, 21 November 2016