Stikom Terapkan Aplikasi Antiplagiat Guna Uji Skripsi Mahasiswanya

by admin

CEGAH PLAGIAT - Sastriati memandu mengisi aplikasi pada Workshop Pencegahan Plagiat di Kampus Stikom Surabaya, Selasa (2/2/2016).

CEGAH PLAGIAT – Sastriati memandu mengisi aplikasi pada Workshop Pencegahan Plagiat di Kampus Stikom Surabaya, Selasa (2/2/2016).

SURYA.co.id | SURABAYA – Aplikasi antiplagiat diperkenalkan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (Stikom). Aplikasi ini diperkenalkan sejak 2012 kepada dosen yang harus mengoreksi tingkat orsinalitas skripsi mahasiswa.

Sri Hariani, dosen sistem informasi Stikom menjelaskan untuk memeriksa tingkat keaslian karya mahasiswanya bukan perkara mudah.

Pasalnya, ada jutaan karya yang sudah diciptakan mahasiswa. Sehingga membutuhkan screening tersendiri guna memudahkan kerja dosen.

“Dosen dan mahasiswa juga kadang sering plagiasi, kadang kesulitan juga cari informasi agar tidak plagiat. Karena banyak karya hasil browsing, tahu-tahu sudah dikatakan plagiat,” terangnya.

Terlebih saat ini seperti tren dalam pembuatan aplikasi untuk android, banyak kemiripan antara aplikasi satu dan lainnya. Sehingga bisa saja dosen lengah menyadari karya mahasiswa sama dengan karya yang telah ada.

“Kalau di kampus kami batas kemiripan maksimal 40 persen, lebih dari itu harus diperbaiki karyanya. Jadi kalaupun inovasi, tidak boleh mirip semua, mungkin aplikasi terjemah, yang beda cuma bahasa yang dipakai berbeda, ” ungkapnya.

Ia pun mewanti-wanti mahasiswanya agar mencantumkan setiap landasan teori ataupun pembahasan yang berasal dari karya orang lain atau sumber lain.

“Akhirnya membiasakan memperbanyak bahan untuk skripsi, sehingga tidak ada plagiatrism. Lebih berhati-hati,” terangnya.

Wakil Rektor 1 bidang akademik Stikom Pantjawati Sudarmaningtyas menambahkan sejak tahun 2012 akses untuk aplikasi plagiat hanya untuk dosen.

Aplikasi ‘Turn In It’ ini mengkaji hasil unggahan teks untuk dilihat dari berbagai database tingkat kemiripannya.

“Dari aplikasi ini diketahui kemiripan hasil mahasiswa dengan beragam sumber sampai berapa persen, kalau kurang 40 persen makan bisa maju sidang skripsi,” jelasnya.

Aturan ini sudah diberlakukan sejak 2012 melalui SK Ketua Stikom, yaitu fokus tugas akhir harus indeks kemiripan tidak boleh lebih dari 40 persen. Dan beberapa dosen juga diimbau untuk menerapkannya dalam tugas mata kuliah.

Instruktur pelatihan, Sastriati menjelaskan aplikasi ini untuk mengoreksi riset mahasiswa dengan perbandingan berbagai data di dunia.

Setidaknya 120 negara telah memakai aplikasi ini. Sedangkan di Indonesia ada 40 perguruan tinggi dan 20 sekolah internasional.

“Kalau di Surabaya ada empat perguruan tingi yang memakai aplikasi ini,” jelasya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin

Sumber:

http://surabaya.tribunnews.com/2016/02/14/pemilik-brand-fullus-fashion-ingatkan-pertahankan-ciri-khas-dan-jangan-lupa-tetap-dengarkan-konsumen