Stikom Terapkan KTM Sekaligus Kartu Parkir

by admin

Kehilangan motor menjadi hal yang lumrah di area kampus yang hanya menggunakan sistem manual. Apalagi jika di kampus itu terdapat banyak pintu keluar.

KENDALI SATU KARTU - Stikom menerapkan Parkir Information System (Paris) melalui Identification-Trust-Control-Privilage-Security (ITCoPS) bagi civitas akademik, dosen, karyawan maupun mahasiswa, Kamis (10/3)

KENDALI SATU KARTU – Stikom menerapkan Parkir Information System (Paris) melalui Identification-Trust-Control-Privilage-Security (ITCoPS) bagi civitas akademik, dosen, karyawan maupun mahasiswa, Kamis (10/3)

SURYA (11/3) Telan Dana Besar, Tapi Keamanan Lebih Terjamin. Menyiasati hal ini, sejumlah kampus mengembangkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) yang sekaligus akses parkir. Area parkir juga dipusatkan dengan jumlah gerbang keluar dan masuk yang lebih sedikit. Ini belum termasuk kamera CCTV yang dipasang di pintu keluar maupun masuk lokasi parkir.

Solusi Sistem Informasi (SSI) Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya pun menciptakan Identification-Trust-Control-Privilage-Security (ITCoPS). ITCoPS ini merupakan sistem identifikasi, kontrol, dan keamanan valid.

Sistem yang digunakan di tempat parkir ini memanfaatkan kartu dengan chips RFID 13,56 mhz dan sistem informasi pada gerbang masuk dan keluar parkir.

“Saat masih manual dan lokasi parkir belum diatur rapi, pernah ada kehilangan empat motor sekaligus. Tapi itu sudah dulu sekali,” terang Tan Amelia, Project Manager ITCoPS, kemarin.

Penggunaan KTM sebagai kartu parkir sekaligus kartu presensi, kartu perpustakaan dan kartu pembayaran di kantin kampus, memberikan fungsi yang lebih efisien.

Untuk 1 kartu dihargai hingga Rp. 11.000,- sedang penerapan sistem ini butuh hingga Rp. 100 juta, yang digunakan untuk pembangunan dan pemasangan gerbang masuk dan keluar yang dilengkapi dengan scanner kartu.

“Sebenarnya, ini lebih efisien, karena kampus pasti akan mengeluarkan dana untuk pembuatan KTM. Jadi kenapa tidak dimanfaatkan sekalian untuk kartu parkir. Lagi pula sistem ini akan menghemat tenaga manusia, pintu masuk tidak perlu dijaga,” ungkapnya.

Saat menggunakan operator dan kartu parkir, lanjutnya, petugas parkir lebih banyak dua kali lipat. “Petugas parkir kalau malam harus menghitung kartu yang dipegang dengan motor tersisa. Kalau sekarang bisa di cek lewat sistem,” kata Tan.

Hanya saja, lanjut Tan, sistem ini belum bisa menjamin keamanan helm. Sejak sistem ini dipasang dua tahun yang lalu, sudah ada tiga kali kehilangan helm. Meski bisa dilacak dari CCTV gerbang masuk dan keluar, prosesnya butuh waktu yang lama.

“Kalau sudah ketemu, karena teman sendiri bilangnya cuma pinjam, tetapi nggak bilang dan sampai berhari-hari,” ungkapnya.

Menurut Tan, untuk kampus yang memiliki banyak lokasi parkir bisa disiasati dengan pengetatan pada pintu masuk dan keluar. “Mau dijaga di setiap fakultas atau tingkat universitas,” tanyanya.

*Sumber: Surya | Jumat, 11 Maret 2016 | Headline, Tunjungan Life | hal. 1