Surabaya Bangkit

by admin

Oleh RUDI SANTOSO

SURABAYA WANI

Seminggu pasca bom Surabaya, aktifitas mulai berjalan normal. Warga Surabaya mulai beraktifitas seperti sedia kala meski ingatan mereka akan bom itu masih saja membekas. Minggu lalu kita memang dikagetkan oleh serangkaian bom di beberapa titik di Kota Pahlawan. Serangan bom yang menewaskan korban jemaat gereja ini membuat kemarahan warga Surabaya seakan membuncah. Warga pun meradang, ibarat macan terbangun dari tidur yang nyaman. Mereka “mengaum” umpatan, mengutuk tindakan, siap pasang badan. Hastag #Suroboyowani di media sosial mencapai 6 ribu lebih di hari pertama. Antusiasme warga melawan terorisme seolah menyatukan semua elemen masyarakat. Tidak ada lagi stratifikasi sosial, golongan, dan partisi sosial dalam sektariansektarian. Semua bulat menyerukan, LAWAN!

LAWAN RADIKALISME

“Perlawanan” warga sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Paling tidak ketakutan akan horor itu pun mulai reda. Hantu radikalisme adalah nyata dan harus dilawan. Kesadaran akan bahaya radikalisme perlu ditekankan kepada semua lapisan sosial. Karena kasus terakhir yang cukup mengagetkan adalah terduga pelaku adalah dari keluarga dengan stratifikasi sosial menengah. Hal ini mematahkan asumsi dasar bahwa radikalisme selalu berkutat pada golongan bawah yang jauh dari akses informasi pendidikan. Ideologi ini sudah merambah kepada orang yang seharusnya bisa berpikir rasional. Rasionalitas dari sebuah asumsi dasar bisa ter-negasi-kan dengan sebuah fakta yang jungkir balik. Rasionalitas sebuah ideologi (radikal) tidak bisa dinalar dengan akal sehat. Dimensi berpikir sudah keluar dari kuadran orang

kebanyakan. Mereka adalah sebuah deviasi dalam distribusi data normal.  Mereka (radikal) adalah sekelompok minoritas (dengan ideologinya) yang hidup dalam masifitas dan mayoritas (ideologi) berseberangan dengan mereka. Sebuah penyimpangan yang mulai melebar dan menggerus kuadran kenormalan. Yang masih menjadi pertanyaan besar adalah di mana semangat ke-Bhinneka-an yang sudah sekian lama didengungkan. Semangat ke-Bhinneka-an bukan hilang, namun hanya tercoreng-moreng oleh sebuah paham radikal (yang susah dinalar) anti ke-Bhinneka-an.

NASIB DUNIA USAHA

Dunia usaha Surabaya sedang “guncang” dengan adanya serangkaian bom bunuh diri. Rentang waktu yang hampir bersamaan sedikit banyak membuat aparat pontang-panting. Bom Minggu-Senin yang mengguncang beberapa titik di Surabaya adalah rangkaian teror yang tiada henti. Dari sisi dunia usaha sedikit banyak mengalami gangguan dalam skala mikro. Apalagi TKP dekat dengan dunia usaha dan hari kerja. Seperti kita ketahui, TKP (Polrestabes Surabaya) berada dalam radius sekitar 1-2 kilometer dari Kembang Jepun, kawasan dunia usaha dengan perputaran uang yang sangat tinggi. Pusat kulakan yang terletak di sisi Utara kota Surabaya tersebut, mampu memutar tak kurang dari Rp 10 miliar per hari. Namun mendadak pelaku bisnis tradisional ini kaget dengan serangkaian kejadian. Jalan-jalan akses menuju atau seputaran TKP ditutup. Jangankan untuk masuk, mendekati perimeter TKP saja tidak bisa. Senin pagi warga Surabaya seperti diberi sebuah “tontonan” horor kolosal layaknya film Die Hard yang dibintangi Bruce Willis. Warga yang terjebak dalam perimeter TKP tidak bisa keluar dari “jebakan” kejadian, sementara keluarga yang akan menjemput pun tidak bisa merangsek masuk. Perputaran bisnis terhenti beberapa saat. Pendapatan turun untuk beberapa jam karena aktifitas terhambat. Jika dalam satu hari (asumsi durasi 10 jam kerja) perputaran uang mereka adalah Rp 10 miliar, maka jika usaha  tersebut matisuri 1 jam, potensi kerugian yang dibukuan paling tidak mencapai Rp 1 miliar. Sementara itu beberapa hari terakhir, USD tidak begitu “bersahabat” dengan rupiah. Penurunan rupiah ke level psikologis Rp 14.000 menambah beban sebelah kanan dari neraca keuangan pe ngusaha. Hal ini ditambah lagi penurunan revenue yang akan mempengaruhi arus kas pelaku bisnis. Beban sebelah kanan dari neraca akan lebih besar karena liabilitas yang tinggi ketika ditopang oleh utang jatuh tempo dalam bentuk valuta.

SAATNYA BANGKIT

Ini Surabaya Cuk! Begitulah kira-kira “auman” kemarahan warga Surabaya. Seribu bom pun kami tidak akan takut. Perkiraan-perkiraan kerugian di atas hanya sebuah asumsi di atas kertas. Pelaku bisnis pun menjalankan usaha seperti sediakala. Rasa takut yang diciptakan oleh horor selama beberapa hari terakhir ini terhapus oleh mental “Bonek” Surabaya. Potensi-potensi kerugian tersebut sangat cepat terhapus dengan antusiasme menyambut Ramadan. Tanpa mengurangi rasa simpati kepada korban, ledakan bom bagi kami hanya seperti petasan ketika bulan Ramadan. Penangkapan pelaku teror, di jalanan layaknya pencopet kelas kambing tertangkap satpam perumahan. Masih untung terduga pelaku tidak tertangkap emak-emak Surabaya yang emosi karena gagal menggelar acara Festival Rujak Uleg. Pun juga masih untung mereka tidak tertangkap Bonek yang sedang kalap. Semua akhirnya indah pada waktunya. Melawan radikalisme harus dimulai dengan revitaliasi semangat kebangkitan. Kebangkitan dari jalan pikir sempit radikalisme. Hanya sebuah radikalisasi perubahan mindset kembali ke fitrah lah, deviasi-deviasi ideologi yang telah disebutkan di atas mampu diminimalisir. Hogg dan Adam menyebutkan bahwa ideologi juga hadir di aras yang identitas sosial. (*)

*Penulis adalah dosen FEB Stikom

Sumber : Radar Surabaya | Komunitas | Surabaya Bangkit | Edisi Minggu 20 Mei 2018 | Hlm. 7