Teliti Batik Eks-lokalisasi

by admin

MunIMG_7500culnya UKM batik di ekslokalisasi Dolly menarik perhatian Eka Anggi Faranniziah (21). Mahasiswi Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Stikom Surabaya bahkan ingin menelitinya untuk dijadikan bahan tugas akhirnya.

Eka mengaku sangat termotivasi memperkenalkan batik Dolly kepada para pemuda melalui tugas akhirnya itu. “Batik di sini belum seberapa dikenal, sedangkan batik adalah warisan budaya lokal. Saya ingin ikut serta meningkatkan pemikiran bahwa batik itu warisan yang harus dilestarikan,” ungkapnya.

Dia telah memulai menulis hasil penelitiannya. Saat ini, tugas akhirnya itu sudah mencapai bab IV. Mahasiswi semester 8 itu pun dipastikan tidak lama lagi akan merampungkan tugas akhirnya itu.

Tugas akhirnya berjudul “Perancangan Buku Batik Tulis Jarak Arum Ex Lokalisasi Dolly dengan Teknik Water Collor Guna Meningkatkan Brand Awarness”.

Sebelum memutuskan memilih batik Dolly, Eka sebenarnya merencanakan ke Sumenep untuk meneliti batik Madura di sana. Namun, dengan pertimbangan waktu dan jarak, maka pilihannya pun dialihkan ke Dolly.

Apalagi, sebagai anak muda yang lahir dan besar di Surabaya, Eka merasa memiliki tanggung jawab untuk membesarkan nama Surabaya. Ia pun memastikan, kalau garapan tugas akhirnya tentang batik Dolly baru pertama kali dilakukan.

“Memang ada yang pernah menggarap batik, tapi kalau batik Dolly, baru kali ini saya lakukan,” urainya.

Melihat perkembangan UKM di kawasan ekslokalisasi Dolly, Eka berharap akan ada UKM lain yang tumbuh di sekitarnya. Ia pun juga tidak ragu mengungkapkan kalau Dolly nantinya menjadi sentra batik di Surabaya.

Karena harus mengerjakan tugas akhir tentang motif batik di Dolly, maka Eka sering datang ke ekslokalisasi yang ditutup sejak tahun 2014 itu. Ia pun mengenal beberapa warga di sana, khususnya yang bergiat dalam produksi batik. Warga juga menerima Eka dengan ramah. “Batik ini harus dilestarikan,” tutup Eka. (bni)

 

*Sumber: Surya | Edisi Selasa, 31 Mei 2016 | hal. 1 & hal 11 (sambungan)