Terorisme dari Kacamata Neotic Science

by admin

Manusia terbagi dalam bangsa, negara dan segala perbatasan.
Tanah airku adalah alam semesta.
Aku warna negara dunia kemanusiaan. (Kahlil Gibran)

Oleh: Jusak (Dosen di Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya)

Dr. Jusak Irawan

Dr. Jusak Irawan

Kata neotic berasal dari sebuah kata dalam bahasa Yunani neotis/neotikos yang bisa diartikan secara harfiah sebagai kebijaksanaan batin (inner wishdom) atau pemahaman subjektif (subjective understanding). Namun, apabila kata neotic dan science digabungkan, Institute of Neotic Sciences (IONS) mendefinisikannya sebagai studi ilmiah yang mempelajari pengalaman-pengalaman subjektif. Juga, bagaimana kesadaran batin manusia itu dapat memengaruhi dan bahkan mengubah dunia di sekitarnya.

Memang, sepintas neotic science, tampaknya, sangat berkaitan dengan segala sesuatu yang berbau kegiatan paranormal dan kegiatan pencapaian kesadaran batin yang lain seperti melakukan meditasi dan sebagainya. Namun, kita akan melihat neotic science dari perspektif yang lain.

Hal mendasar dari studi neotic science ini bermuara pada segala aspek yang berkaitan dengan hal-hal yang bisa membangkitkan kesadaran (consciousness). Kesadaran itu dapat dikategorikan sebagai kesadaran individu dan kolektif.

Kesadaran individu adalah bagaimana individu melihat dan menginterpretasikan apa saja yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Misalnya, dalam hal apa saja sesuatu hal bisa dipercaya dan tidak, memahami maksud dan tujuan segala sesuatu di sekitar, emosi, sikap dan lain-lain berkenaan dengan pengalaman-pengalaman subjektif si individu. Sementara itu, kesadaran kolektif merupakan kesadaran subjektif sekelompok orang tertentu dan terkait bagaimana kelompok tersebut memberikan makna dari setiap pengalaman.

Dalam novelnya yang berjudul The Lost Symbol, Dan Brown memberikan contoh yang cukup gamblang tentang bagaimana kesadaran kolektif tersebut bisa dibangunkan dan diarahkan. Tengoklah malapetaka September Eleven (9/11).

Pada saat itu, dua gedung megah World Trade Centre (WTC) yang merupakan simbol kekuatan ekonomi Amerika luluh lantak oleh serangkaian aksi serangan teroris. Dan Brown menjelaskan dalam bukunya tentang adanya kesadaran kolektif yang secara bersamaan muncul dalam peristiwa tersebut. Sejenak setelah pemberitaan media mencapai seluruh penjuru bumi, semua mata di seluruh dunia pada saat bersamaan tertuju ke Kota New York, kemudian secara kolektif masyarakat yang berada di mana pun memberikan simpati kepada Amerika.

Pada saat yang sama, masyarakat di seluruh belahan dunia mengutuk para pelaku teror. Itu merupakan salah satu bentuk kesadaran kolektif yang dimaksud dalam neotic science. Dan kenyataannya, kesadaran kolektif tersebut bisa dimunculkan dan dibentuk secara sengaja oleh banyak hal. Antara lain, melalui informasi olahan media yang objektif, luas, dan cepat (suatu berkah yang dapat kita nikmati pada zaman ini) serta pernyataan-pernyataan dan sikap yang dibuat para pimpinan suatu negara dalam menanggapi sebuah peristiwa. Keduanya bisa dianggap sangat berperan dalam meramu perpaduan orkestra dalam membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat.

Masih dalam konteks ini, kemunculan Presiden Jokowi sesaat setelah terjadinya serangkaian serangan bom berdarah di Jalan Thamrin, Jakarta, (14/1) bisa dianalisis sebagai sikap yang mencoba memadukan kesadaran kolektif untuk bersama-sama berdiri tegak dan mengatakan “KAMI TIDAK TAKUT”.

Kita bisa melihat pengaruh langsung sikap pemerintah. Pertama, sikap itu selanjutnya diikuti berbagai pemberitaan media masa dan berbagai kalangan dalam melakukan gerakan-gerakan penolakan terhadap terorisme. Muaranya secara otomatis membawa efek simpati masyarakat, baik melalui tulisan, ilustrasi, meme, maupun hashtag yang beredar secara online di masyarakat. Maka terciptalah kesadaran kolektif masyarakat melawan terorisme.

Kedua, sikap tersebut juga memberikan dorongan psikologis dan dukungan nyata bagi jajaran kepolisian dalam menuntaskan kasus terorisme yang berkembang secara cepat.

Berkaca dari dua contoh peristiwa September Eleven dan teror di Jalan Thamrin tersebut, dapat ditarik garis kesimpulan bahwa kesadaran kolektif masyarakat untuk mencegah terjadinya paham-paham radikal melakukan tindakan terorisme dapat dibangun sebagai tindakan pencegahan yang preventif dan preemptif.

Paham adalah sesuatu yang telah dipercaya, dianggap menjadi bagian dari hidup dan bahkan dijadikan penentu arah pemikiran ke depan seseorang. Karena itu, paham radikal tidak bisa diselesaikan dengan penangkapan dan hukuman penjara semata.

Tidak cukup hanya polisi, jaksa, pengadilan, dan unsur-unsur pemerintahan lainnya dalam menyelesaikan persoalan terorisme. Diperlukan satu gerakan menyeluruh yang melibatkan semua unsur masyarakat untuk melakukan deradikalisasi paham-paham yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa semacam itu.

Kita membutuhkan peran media, pemuka-pemuka lintas agama, lembaga-lembaga non pemerintah, bahkan sampai ke RW dan RT dalam satu rangkaian permainan orkestra menangkal kegiatan paham radikal. Namun, sekali lagi, dalam konsep neotic science, dibutuhkan konduktor ulung dalam menciptakan orkestra kesadaran kolektif yang mencapai sasaran.(*)

Sumber: JawaPos Edisi Kamis, 21 Januari 2016 | Opini